Nona Lisa

Nona Lisa
Kedekatan.


__ADS_3

"Ini sudah siang, bapak enggak kerja?" Tanya Santi, merasa tidak nyaman sendiri karena Max masih berada di dalam rumahnya tanpa mau meninggalkannya.


" Saya libur?" Jawab Max bohong, sekilas untuk melihat Santi mencibikkan bibir ke atas. Dan kembali menatap ponselnya.


Ingin sekali rasanya dirinya tidur, tapi pria ini tidak kunjung pulang. Malah terlihat nyaman dengan posisinya sekarang. Duduk di bawah lantai dengan alas karpet, menyingkirkan kursi serta meja plastik. bersendapan di dinding dengan kaki yang bersila sambil memainkan ponsel tanpa mempedulikannya yang merasa tidak nyaman dengan dia yang tak kunjung bergerak pulang.


" Kalau ngantuk tidur saja di kamar." Kata Max, membuat Santi melirik malas.


Bukannya tidur nyenyak, malah dirinya akan terbangun dengan kepala pusing. Takut jika pria di depannya macam-macam saat dirinya tertidur pulas nanti.


" Saya tidak akan macam-macam." Ujarnya lagi, seakan tau saja dengan pemikiran Santi.


" Kunci pintu kamar?"


" Enggak ada pengait kunci di belakang pintu." Lirih Santi. kontrakan Santi terbilang sangat sederhana, Jauh dari kata mewah. Hanya bisa menghembuskan nafas berat, mendengar pintu kamar Santi yang tak ada kunci.


Ayo?" Ucap Max, berdiri di hadapan Santi dan membungkukkan badan. Santi melototkan mata saat Max membungkukkan tubuh di hadapannya.


" Jangan macam-macam ya pak! Saya akan teriak kala-," Ucapannya, menggantung kala Max membekap bibir Santi dengan tangannya. dengan Santi semakin melebarkan mata dan tubuh menegang.


" Saya sudah bilang tidak akan macam-macam dengan kamu!" Seru Max. " Saya hanya membantu kamu berdiri, dan antar kamu ke kamar! Tidak lebih.! Dan jangan berprasangka buruk dengan saya." Imbuhnya lagi, dengan tatapan tajam. Santi hanya bisa diam membisu serta mata kembali sayu.


" Saya bisa sendiri." Tolak Santi, kala Max sudah melepaskan bungkaman tangannya di bibir Santi.


" Saya tidak suka di bantah." Tegas Max, memegang ke dua lengan Santi agar bisa berdiri. Tidak mempedulikan jarak wajahnya begitu dekat serta hembusan nafas saling menerpanya. Dan membuat mereka saling diam serta saling memandang untuk beberapa detik.


" Makasih." Ucap Santi, mencoba melepaskan ke dua tangan Max dari lengannya. Dan Max semakin menggenggamnya sedikit kuat tidak mau melepaskannya, malah menuntunnya masuk ke dalam kamarnya dan lagi-lagi membantunya duduk dengan pelan di atas kasur lantai.


" Tidurlah. jika ingin sesuatu panggil saja. Jangan bergerak terus." Kata Max, dengan Santi mendongakkan kepala untuk menatapnya yang berdiri menjulang di depannya. Hanya mengangguk tanpa tersenyum.

__ADS_1


Melihat kepergian Max, dengan dia menutup pintu dan dirinya menghembuskan nafas berat, melemaskan badan saat tak ada pria itu di sampingnya lagi.


Merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata. Meskipun sulit dengan pikiran yang menumpuk di otaknya.


Dan Max berjalan menuju teras, duduk di kursi panjang dari rotan, mungkin kursi yang di duduki punya ibu kontrakan Santi yang sengaja di tinggalkan di teras. Sambil menatap sekeliling halaman rumah Santi, terlihat sedikit ramai, dengan para ibu-ibu rumah tangga yang sedang berkumpul. Dan ada yang sedang menjaga anaknya bermain, sambil mencuri pandang ke arahnya, Salah ke arah rumah Santi.


Entah apa yang mereka gosibkan, Max tidak mau ambil pusing. Dirinya berjalan ke arah mobilnya, mengambil tas kerja yang berisi laptop. Sengaja dirinya bawa, agar bisa bekerja di luar kantor dan lebih leluasa dari ponselnya. Dan memilih kembali ke teras untuk memulai pekerjaannya. Sambil menunggu driver makanan yang dirinya esan lewat online.


****


" Ambil pakaian kamu seperlunya saja, mulai sekarang kamu tinggal di rumah aku." Ucap Bima, sambil menyetir mobil menuju ke rumah Lisa. Setelah sepasang suami istri baru memutuskan pulang dari rumah orang tua Bima di sore hari.


" Hhmn, tinggal di rumah kamu?" Tanya Lisa, sedikut berat meninggalkan rumahnya.


" Kenapa?" Tanya balik Bima, menatap sekilas ke arah istrinya. " Kamu tidak mau?" Imbunya.


" Bukan begitu?" Lirih Lisa, sedikit menundukkan kepala. rasanya sulit sekali untuk keluar rumah yang penuh kenangan bersama ibunya.


" Aku tidak melarang kamu untuk berkunjung ke rumah ibu kamu kapan pun kamu mau, bila kamu ingin menginap di rumah ibu. Aku juga akan menginap, tidak akan aku biarkan kamu sendiri." Tutur Bima, tau jika istrinya sulit sekali bila akan meninggalkan rumah penuh kenangan dengan mendiang ibunya. Dan dirinya juga tidak mungkin tinggal di rumah Lisa, semua berkas penting dan pekerjaannya ada ruang kerjanya.


Bukankah seorang wanita yang sudah menikah, akan mengikuti suami kemanapun suaminya pergi dan di mana akan bertinggal. Dan inilah Lisa yang harus siap meninggalkan rumah pemuh kenangan bersama ibunya dulu.


" Aku belum memberitahu orang rumah, kalau aku sudah menikah dengan kamu. "


" Riski mungkin sudah bilang pada mereka." Kata Bima, dan cowok remaja itu pastinya sudah memberitahu pada mbok imah buk jum tentang pernikahan dadakan Lisa dengan Bima.


Sungguh ember.


" Apa aku boleh menginap di rumah ibu malam ini?" Pinta Lisa, membuat Bima tersemyum dan mengangguk. Menyetujui permintaan Istrinya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, mobil Bima sampai di halaman rumah Lisa. di sambut dengan buk Jum, mbok Imah, Riski dan pak Yanto di depan pintu dengan senyum hangat.


" Selamat datang Nyonya, Tuan?" Sapa ramah mbok Imah.


" Apaan sih Mbok Imah!!" Seru Lisa. " Panggil biasa sajalah mbok kayak biasanya!" Lisa tidak mau di panggil ala-ala Nyonya besar. Dirinya masih sama seperti Lisa yang dulu. Dan lebih suka di panggil biasa saja meskipun mempunyai suami kaya raya.


" Mbak Lisa! Selamat!!" Ucap Buk Jum, langsung memeluk majikannya tanpa mempedulikan statusnya.


" Selamat atas pernikahannya mbak Lisa, Sakinah mawadah warohma." Imbuh buk Jum, mengusap lembut punggung majikannya yang sudah seperti di anggap anaknya.


" Amin.. Terima kasih Buk Jum?" membalas pelukan Buk Jum, dan terharu karena mendapatkan doa serta sambutan hangat dari Artnya.


" Selamat menempuh hidup baru mbak Lisa? Semoga langgeng sampai maut memisahkan." Ucap Mbok Imah, dan memeluk Lisa.


" Terima kasih mbok?" Ikut membalas pelukan wanita yang sudah menemani mendiang ibunya semasa masih hidup.


" Selamat ya mbak Lisa? Semoga cepat daat momongan, biar rumah ini ramai." Ucap Pak Yanto, membuat wajah Lisa bersemu merah.


" Makasih pak Yanto." kata Lisa, dan kini beralih manatap Riski yang tersenyum menggoda padanya.


" Dasar ember!" Seru Lisa, membuat Riski tertawa dan tidak marah akan olokannya.


Bima yang melihat interaksi Lisa dengan para Artnya, tidak merasa terkejut lagi. Dan dirinya merasa senang istrinya di perlakukan baik oleh Art.


" Ayo mbak Lisa, Tuan Bima silahkan masuk?" Ujar mbok Imah, memberi jalan pada Majikannya yang kini sudah berstatus suami istri.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2