
...Kamu bukan seperti jalangkung, datang menjemput, pulang tak di antar....
.
.
.
.
Sedikit terasa tidak nyaman, tidur terus menerus dengan badan meringkuk. Mencoba mengubah posisi dengan dia berbalik arahn menghadap tepat ke arah tubuh Bima. Terasa nyaman dengan aroma maskulin yang memabukkan.
Perlahan membuka mata, hanya tersenyum dan kembali menutup mata beberapa saat. Hingga dirinya tersadar akan apa yang ia lihat sesaat.
Wajah Bima tertidur pulas dengan posisi duduk. Dan Lisa melihat jelas bagaimana wajah itu tertidur pulas dengan dirinya yang tidur di paha Bima.
Tampan! " Gumamnya dengan memandang wajah Bima, tanpa Lisa mengubah posisinya.
" Kalau begini dia tidak terlihat menakutkan. seperti dewa yunani." Gumamnya lagi, tersenyum memandangi wajah Bima dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan sedikit berat saat menariknya.
" Eh!!" Pekik Lisa, terkejut melihat tangan Bima ada di pinggangnya.
Entah memang sengaja Bima memegang pinggangnya untuk menahanya agar tidak terjatuh, atau memang dia tidak sadar akan tangannya yang ada di pinggang Lisa.
Mengalihkan tangan Bima dengan hati-hati, perlahan mulai duduk dari tidurnya. Dan Bima yang merasakan pergerakan Lisa pun, mulai bergerak, Mengerjabkan mata dan menggerakkan lehernya yang terasa pegal.
" Kau sudah bangun?" Ucap Bima, menggerakkan kakinya yang sedikit pegal.
" Aku mengganggu tidur kamu ya, maaf! Sudah membuat kamu terbangun." Ucap Lisa, sedikit merasa bersalah sudah membuat Bima terbangun dan juga memakai pahanya sebagai bantalnya.
" Memang sudah pagi, sudah seharusnya bangun kan?"
" Eh! Oohh iya." Ucapnya, melihat cerahnya langit berwarna biru dan matahari yang mulai bersinar, dengan udara yang terlihat segar.
" Yah!! Gak bisa lihat matahari terbit!" Sesal Lisa, mengerucutkan bibir kala dirinya bangun kesiangan. Bima yang melihatnya pun hanya menggelengkan, kepala serta gemas melihat wajah Lisa yang cemberut.
" Mau jalan-jalan dekat sini? " Ajak Bima, membuat mata Lisa berbinar menatapnya.
" Mau, mau mau!!" Semangat Lisa, menganggukkan kepala cepat.
__ADS_1
" Sekarang!"
" Mandi dulu!"
" bajuku ada di mobil." Saut cepat Lisa, teringat bajunya ada di dalam mobilnya yang di bawa oleh keryawannya.
" Pinjam baju kamu boleh?" Kata Lisa, yang membuat Bima melebarkan mata. Segampang itu Lisa bilang padanya, meminjam bajunya untuk dia.
Tidak tau malu, mengucap tanpa beban, meminjam baju segitu gampangnya. Apa lagi baju seorang pria.
" Kalau enggak boleh ya sudah, pakai baju yang ini juga gak papa. Masih wangi." Ucapnya, memamerkan jaket yang terbuka setengah. terlihat jelas tan top putih Lisa serta dada Lisa terbelah, dan Bima memalingkan tatapannya untuk tidak melihatnya.
Memalukan!!
" Ada di kamar, ambillah baju yang kamu mau." Perintah Bima, membuat Lisa tersenyum.
" Di mana kamar kamu." Tanya Lisa, menunjuk kamar tepat di belakangnya.
" Terima kasih!" Ucap Lisa, berdiri cepat meninggalkan Bima yang masih duduk menatapnya.
Masuk ke dalam kamar Bima, kagum dengan nuansa kamar berdominasi warna abu cerah, luas dan rapi. Terdapat tv besar, lemari, sofa dan ranjang berukuran kings.
Terlihat jelas, pemandangan sawah seperti anak tangga, sungai dan juga pohon pelapa berbuah.
" Indahnya!!" Kagum Lisa, tersenyum memandangnya.
" Apanya yang indah?" Suara dari belakang membuat Lisa berbalik untuk menatap.
" Pemandangannya. Lihatlah! di kota mana ada seperti itu." Jawab Lisa, masih takjub dengan indahnya puncak.
" Kalau malam di balkon terlihat kelap kelip, kalau pagi di jendela kamar terlihat sejuk, Sawah, sungai, pohon kelapa. Seperti di gambar saja." Ucap Lisa, sangat kagum dan seperti yang ia inginkan dalam benaknya saat ia sedang stres akan pekerjaan.
" Kamu hebat ya bisa memilih villa seperti ini, trategis. Pemandangan yang bagus." Puji Lisa, kembali menatap pemandangan luar jendela.
Berjalan ke arah Lisa, ikut menatap pemandangan dari jendela terbuka. Dimana ia juga suka, dengan pagi hari duduk di depan jendela menikmati sejuknya udara di tambah pemandangan yang tidak membosankan.
" Mau tetap di sini, apa mau ja-,"
" Mau jalan-jalan lah!" Saut Lisa cepat. " Ambilin bajunya, aku enggak mau buka lemari orang." Imbuh Lisa, sadar jika tidak sopan membuka lemari bukan miliknya.
__ADS_1
Berjalan ke arah lemari tinggi, mencari baju yang bisa di pakai untuk wanita. Kaos oblong warna hitam ia pilih untuk Lisa, memang tak ada baju berwarna di dalam lemari Bima, hanya putih, hitam dan abu yang selalu dirinya pakai. Tidak ada yang lain. Entah itu warna favorit atau memang di sengaja selalu memakai warna gelap.
" Makasih?" Ucap Lisa, mengambil baju di tangan Bima. " Di bawah ada kamar mandi kan? Aku mandi di bawah saja, cepat mandi sana. Aku enggak mau nunggu kamu lama!" imbunya, meninggalkan Bima yang diam dengan perintah Lisa.
" Dia sangat cerewet." Gumam Bima, heran dengan tingkah Lisa yang suka ceplas ceplos, bar-bar dan cerewet.
" Lama!" Gerutu Lisa, melihat Bima turun dari tangga dengan wajah segar dan penampilan santai. Memakai celana pendek, kaos hitam hitam panjang.
Kenapa dia cakep banget sih, pakai baju santai gitu!!" terpesona melihat Bima memakai baju santai, dan terlihat gagah jika memakai baju kerja.
" Kenapa." Ucap Bima, berada di depan Lisa yang tercengang menatapnya.
" Ganteng!" Cetus Lisa tanpa sadar, membuat Bima tersenyum manis menggelengkan kepala.
" Eh! Enggak, enggak. Ayo cepat jalan! Lama sekali!!" Malu Lisa, sadar dengan ucapannya. Dan berjalan terlebih dulu meninggalkan Bima yang tertawa kecil karena tingkah malunya.
" Naik apa?" Tanya Lisa, sudah berada di luar villa.
" Jalan." Jawab Bima, membuat Lisa membulatkan mata.
" Jalan!!" Serunya. " Ini jalanan naik, turun, naik, turun lo! Masak jalan sih!!" Gerutunya, tidak percaya harus jalan untuk menikmati pemandangan bagus, tapi bisa membuat dirinya juga lelah.
Tidak menghiraukan Lisa yang protes dengannya, Bima pun jalan terlebih dulu meninggalkan Lisa yang cemberut.
" Eh, Malah di tinggal. Dasar pria dingin!!" Masih menggerutu, dan berjalan cepat mengejar Bima yang sudah sedikit jauh darinya. Mau tidak mau dirinya harus ikut jalan, karna memang Lisa ingin menikmati indahnya puncak. Ya walaupun dirinya harus berjalan kaki.
Berjalan di belakang Bima, sambil melihat pemandangan begitu indah. Kagum dengan ciptaan Tuhan dan buatan manusia yang begitu menawan. Sawah terasiring, seperti tangga makin ke bawah makin lebar. Hijau dan kuning menari-nari indah di bawah sana.
Ada para petani yang sedang bekerja, menebang padi dan juga ada yang menanam biji sayur di ladang.
Bukan hanya sawah yang dia lihat, tapi juga tumbuhan seperti, pohon tomat, pohon cabai, dan yang lainnya terjajar rapi dan berbuah lebat.
Sangat menggemaskan, ingin dekali dirinya memetik pohon yang sudah berbuah itu. sungguh subur tanah di puncak dan udara masih terlihat sejuk tanpa adanya asap kendaraan yang padat seperti di kota.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃