
...Bukan karna aku membenci mu, tapi kamu memang sudah tak ada di hatiku....
.
.
.
.
Menggeliatkan tubuhnya, memeluk erat guling dan kembali tidur nyenyak. Merasakan bantal dan ranjang yang sangat lembut dan empuk, rasanya enggan sekali untuk membuka mata. Dirinya semakin menenggelam tubuhnya dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sungguh ini sangat berbeda dengan kasurnya. Dan selimut yang dirinya pakai terasa lembut hingga cepat matanya terbuka. Menyadari apa yang sedang ia lakukan.
Terperanjat dan duduk dari tidurnya, mendapati dirinya ada di kamar luas berdominasi warna abu dan terlihat gelap.
Menelisik setiap sudut ruangan, melihat ke arah samping tidak melihat siapa pun dan melihat dirinya yang masih utuh.
Bersyukur.
Bima?" Gumam Lisa dan beranjak dari ranjang besar untuk mencari pria yang membawanya ke kamarnya.
Mengingat semalam dirinya menginap di apartemen Bima saat ibunya menyuruhnya untuk tidak pulang karna hujan terlalu lebat dan juga kilatan petir begitu menyambar berkali-kali ke arah jalanan.
Dirinya semalam masih sadar dan masih setia di depan ruang tv bersama Bima yang sibuk dengan ponselnya. Entah sedang apa! sedangkan dirinya menggerutu sendiri karna suster Santi selalu menggodanya lewat pesan. Serta mengurangi kejenuhannya, dirinya mencoba melihat film drakor di ponselnya.
Menyebalkan.
Mencari ke semua sudut ruangan, terlihat sangat sepi. Tidak menemukan siapapun di apartemen Bima. Termasuk Bima, yang entah kemana!
Berjalan ke arah dapur, untuk mengambil air minum saat dirinya mesara haus. Dan berjalan ke arah sofa untuk mencari ponselnya.
Satu pesan dari Bima.
" Maaf, tidak bisa nunggu kamu sampai bangun, Saya harus ke kantor. Dan tenang saja, saya semalam tidak tidur dengan kamu." Tulis pesan Bima, membuat Lisa mengunci senyumnya saat membaca pesan Bima yang menyebalkan dan berkata jujur dengannya.
Jujur?
Mana mungkin pria akan jujur, bisa saja Bima bohong dengannya. Saat dirinya sangat terlelap Bima bisa saja membaringkan tubuhnya di sampingnya. Dan bisa saja Bima mencuri kesempatan dalam tidurnya.
Seperti mencium bib*rnya begitu!
Yang benar saja.
Menepuk keningnya, menggelengkan kepala yang sudah di ambang batas kemesuman di pagi hari. membayangkan yang tidak-tidak, karna terlalu senang menghalu film drakor yang pastinya membuatnya tersenyum sendiri.
__ADS_1
Memalukan!
Satu pesan kembali berbunyi di ponselnya.
" Jangan menghanyal lebih tinggi dan jangan mesum!" Tulis Bima, membaut Lisa membulatkan mata.
" Kenapa dia tau akan pikiranku!" Gumam Lisa dalam hati.
Lisa merasa malu, Bima seperti mengetahui saja pikiran otaknya yang suka menghayal tinggi. Dan bagaimana bisa, seorang wanita berpikiran mesum di pagi hari.
Cih!! Ot*knya harus segera di rukiyah! Pikir Lisa.
Berjalan masuk ke kamar Bima, meminjam kamar mandi pria itu untuk menyegarkan kepalanya yang sudah berpikiran mesum. Toh, lagian juga tidak ada Bima di apartemennya, hingga dirinya bisa leluasa meminjamnya sebentar saja.
Tubuh yang segar dan pikiran kembali normal. Berjalan ke arah rias meja, dan mulai menyisir rambutnya serta melihat meja rias yang hanya ada keperluan seorang pria, tidak begitu banyak dan rapi.
Berjalan keluar kamar Bima, mengambil tas, ponsel dan juga kunci mobilnya. Meninggalkan apartemen Bima yang sudah terkunci otomatis tanpa dirinya harus mengunci balik. Meninggalkan apartemen Bima dan kembali ke rumahnya.
****
" Saya hanya bisa bilang terima kasih Tuan, sudah menerima putra saya bekerja di sini tanpa melalui tes dan menempatkan putra saya di jabatan yang tinggi." Ucap Pak Yoga,
berjabat tangan serta sedikit menundukkan kepala tersenyum ramah pada pemimpin perusahaan. Yang telah menerima putranya bekerja di perusahaan terkenal di kotanya. dan menempati jabatan tinggi seperti dirinya.
" Tidak perlu seperti itu pak Yoga, putra bapak memang sudah memenui kriteria di perusahaan kita dan mendapatkan jabatan yang layak." Jawab Bima, saat menerima map dari asistennya tentang putra pak yoga dan juga nilai hasil kuliahnya di luar negeri.
Tidak di ragukan lagi, putra pak Yoga memang pintar dan juga lulusan terbaik di luar negeri.
" Terima kasih Tuan Bima." Ucap putra pak Yoga, Fahmi. berjabat tangan dan tersenyum pada Bima. Hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
" Selamat bergabung di perusahaan ini, Suatu saat kamu akan saya tarik ke kota besar." Ucap Bima, membuat Pak Yoga lagi-lagi merasa senang dan tersenyum semakin lebar.
Putranya sangat membanggakan dan di puji oleh pemilik perusahaan. Pak Yoga juga sangat mengagumi Bima, pemilik perusahaan yang sukses di usia muda. Dirinya berharap semoga putra bisa seperti Bima.
Membanggakan.
Seusai bersalaman dan mengobrol sebentar, Pak yoga dan Fahmi undur diri dan keluar dari ruangan Bima.
Sekilas Fahmi seperti mengingat wajah Bima dan pernah bertemu. Tapi entah dimana, rasanya tak asing wajah Bima.
" Kenapa?" Tanya Pak Yoga.
" Tidak ada apa-apa pa?" Jawab Fahmi.
" Papa bangga dengan mu Fahm dan papa senang kamu bisa di terima di perusahaan ini. Jangan pernah kecewakan papa." Ucap pak Yoga, Sambil menepuk punggung putranya.
__ADS_1
" Iya Pa?" Ucap Fahmi, mengangguk tersenyum dan berjalan beriringan menuju lift untuk turun ke bawah. Mengantarkan Fahmi pulang, dan mulai besok putranya bisa mulai bekerja.
Hari ini Fahmi begitu senang, sudah mendapatkan pekerjaan. Kesenangannya pun ingin ia bagikan pada seseorang, hingga dirinya berbelok arah ke rumah wanita yang ia cintai.
****
" Sudah bangun?" Tanya di sebrang sana. Menerima telpon dari wanita ceroboh.
" Sudah? Aku sudah pulang ke rumah." Ucap Lisa. " Kenapa gak bangunin aku!" Tanyanya, sedikit kesal.
" Kamu tidurnya lelap sekali, saya enggak tega bangunin kamu." Jawabnya.
memang benar Bima melihat Lisa yang tertidur sangat terlelap di ranjangnya dan tidak tega membangunkannya. Dan rasanya Bima suka sekali memandang wajah Lisa yang tertidur, terlihat imut. Lisa yang mendengarnya hanya tersipu malu.
" Kamu suda makan siang?" Tanya Lisa.
" Sebentar lagi. Kamu?" Tanya balik Bima.
" Jangan telat makan siang!"
" Iya." Rasanya senang sekali, di perhatikan kecil oleh wanita di sebrang sana. Tanpa adanya ikatan dan rasanya ingin memilikinya.
" Mbak Lisa? Ada tamu?" Ucap suster Santi, di balik pintu kamar Lisa.
" Siapa mbak?" Tanya Lisa, sedikit menjauhkan ponselnya di telinganya.
" Cowok yang kemarin mbak, Namanya Mas Fahmi! " Jawab suster Santi, membuat Lisa sedikit terkejut.
" Aku tutup dulu ya telpon ya, ada tamu." Kata Lisa.
" Hmm." Jawab pria di sebrang telpon, mendengar semua ucapan suster Santi, kala Lisa sedang kedatangan tamu pria di rumahnya. Dan entah kenapa, hatinya sedikit marah.
Dan jawaban Bima, membuat Lisa sedikit tidak enak untuk di dengar. Terdengar dingin!
Mematikan ponselnya, dan berjalan keluar kamar menuju ke depan teras. Dan melihat pria itu duduk di kursi sambil membawakan sesuatu di tangannya.
" Fahmi?" Sapa Lisa, membuat Fahmi mendongakkan kepala, menatapnya dan tersenyum.
" Lis?" Sapa balik Fahmi.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃