Nona Lisa

Nona Lisa
mantan


__ADS_3

...Hal baru dalam hidupku, saat ada wanita yang menyambutku pulang dari kerja....


.


.


.


.


Hari demi hari, malam bertemu pagi, dan pagi bertemu lagi dengan pagi. Rasa itu tidak akan pernah berubah dan akan tetap sama dalam setiap detik, menit, jam, waktu dan hari. Tidak akan ada yang terganti. Hanya satu yang akan menemaniku dalam setiap perjalanan hidupku.


Kamu, Nona Lisa.


Satu minggu sudah menjalani bahtera rumah tangga dengan wanita yang di cintainya. Lisa melayaninya, tidak melupakan kewajiban seorang istri meskipun dia masih bekerja di gudangnya.


Tidak ada larangan bagi Bima, Lisa masih bekerja di gudang atau dia berjalan dengan temannya, atau pergi ke rumah mendiang ibunya. Tidak ada larangan, Bima membebaskannya kemanapun istrinya pergi atau beraktivitas di luar rumah. Ia percaya dengan istrinya.


Dan Lisa wanita yang hebat, sabar serta tak pernah mengelu tentangnya. Yang terkadang dirinya terlalu sibuk berangkat pagi dan pulang begitu malam. Lisa setia menunggunya pulang di ruang tamu, terkadang sampai tertidur menunggu kedatangannya.


Sempat menasehatinya untuk tidak menunggunya, tapi Lisa tetap saja bersikeras ingin menunggu suaminya datang dan akan tetap melakukannya meskipun tetap di larang.


Hal sekecil itu yang membuat dirinya semakin cinta.


Malam ini dirinya tidak pulang ke rumahnya melainkan pulang ke rumah mendiang ibu Lisa. Karena Lisa sudah memberi kabar dan meminta ijin padanya untuk menginap di rumah mendiang rumah ibunya.


Mengizinkannya


Tentu.


Istinya juga perlu hak untuk pulang ke rumah mendiang ibunya, kala dia mungkin sedang rindu dengan rumahnya. Bima pun juga berpesan, jika dirinya juga akan pulang ke rumah Lisa setelah pekerjaan kantornya selesai.


Di saat ia akan melangkah keluar kantor di sore hari yang kebetulan tidak ada lagi pekerjaan dan sudah selesai. Ia di kejutkan dengan wanita sedang berdiri berada di samping resepsionis dengan wajah lesu.


Zellin!


Dan saat wanita itu mendongakkan kepala, melihat jelas mata Zellin yang sembab. Dan saling bertatapan, hingga Zellin menghampirinya. Di ikuti penjaga yang berusaha untuk mencegah Zellin.


" Tuan Bima." Ucap Zellin, membungkukkan tubuhnya menghormati pria kaya raya di hadapannya. di ikuti dua penjaga, di belakang Zellin yang juga membungkukkan badannya.


Sedikit tercengang, Zellin memanggilnya Tuan. " Zellin." Ucap Bima. membuat Zellin menegakkan tubuh, mendongakkan kepala untuk menatap wajah Bima.

__ADS_1


Mata kembali berkaca-kaca, raut wajah sedih terlihat jelas. Hingga dirinya merasa kasihan.


" Bim." Lirih Zellin, meneteskan air mata.


" Keruangan saya." Perintah Bima, berjalan terlebih dulu meninggalkan Zellin yang menatapnya, Sakit.


" Mari Nona Zellin." Ajak Lukas, membuat Zellin menghapus air matanya, mengangguk dan sedikit tersenyum. Mengikuti langkah Bima yang sudah terlebih dulu berada di depan lift.


Diam membisu, tidak ada percakapan sama sekali di dalam lift. Meskipun jarak Zellin dan Bima begitu dekat. Hanya bisa memandang punggung kokok berdiri tegak di depannya.


Begitu dingin.


Dan acuh.


Pintu lift terbuka, Bima terlebih dulu jalan menuju ruangannya. Tatapannya sulit sekali untuk di artikan. Tidak menyangka harus bertemu dengan Zellin dan dia menghampirinya ke kantornya.


Duduk di kursi kebesaran, Zellin masih berdiri dan tau diri kala pria di hadapannya bukan lagi seorang sahabat, teman ataupun mantan pria yang masih di cintainya. Hanya ada dua orang dalam ruangan, sedangkan Lukas kembali dalam ruangannya yang berada di samping Bima.


" Duduklah." Perintah Bima, membuat Zellin mengangguk dan duduk di depan Bima di antara pemisak meja kerja.


" Ada apa." Tanya Bima, tanpa basa basi.


Bukan tanpa sebab dan alasan Zellin datang ke kantor Bima. Menunggunya hampir empat jam lamanya di ruang tunggu resepsionis. Sudah lama menunggu dan juga memohon pada resepsionis. tetap saja dia tidak boleh masuk jika tidak ada perintah atau persetujuan dari atasan.


" Tolong maafkan orang tua saya, dan tolong beri kesempatan pada ayah saya untuk kembali bekerja sama dengan perusahaan Anda, Tuan Bima." Ucap Zellin.


****


" Dia sudah bilang, akan pulang sore. Tapi sampai sekarang belum pulang." Lirih Lisa, menatap ponsel yang di pegang melihat angka dua puluh satu nol nol.


" Apa Bima masih ada pekerjaan penting! Di telpon gak di angkat, kirim pesan juga enggak di balas. Dan sekarang, ponselnya tidak bisa di hubungi." Gumamnya, ada rasa khawatir saat ia tidak bisa menghubungi suaminya kembali.


Kembali menatap pintu rumahnya yang masih terbuka, duduk sedikit di ruang tamu sambil memperhatikan luar rumah. Berharap suaminya datang selamat dan tidak terjadi apa-apa dengannya.


Sungguh dirinya sangat takut itu.


Mata sangat mengantuk, tapi hati tidak bisa tenang kala suami tak kunjung pulang. Saat mata perlahan menutup, usapan lembut di pipi membuat dirinya kembali membuka mata. Melohat pria berjongkok di hadapannya dengan senyum.


" Bima?" Ucap Lisa ikut tersenyum dan duduk sempurna menatap suaminya.


" Sudah aku bilang, kalau mengantuk tidur di kamar jangan menunggu aku." Tegur halus Bima, malai duduk di samping suaminya.

__ADS_1


" Maaf aku pulang telat." Imbuhnya lagi, dan mencium kening istrinya. Kebiasaannya mulai berangkat kerja dan pulang kerja, selalu mencium kening Lisa.


Tanda cinta.


Tanpa bisa mengungkapkan.


" Iya, tidak apa-apa. Kamu sudah makan." Tanya Lisa.


" Kamu sudah makan?" Tanya balik Bima, tanpa menjawab pertanyaan Lisa terlebih dulu.


" Belum. Aku nungguin kamu." Jawab Lisa.


" Jangan pernah nunggu aku pulang, kalau waktu jamnya makan." Tegur Bima.


" Kamu bilang akan pulang sore, ya sudah aku nungguin kamu pulang, biar kita bisa makan malam bersama." Lirih Lisa, membuat Bima tertegun karena istrinya menunggunya makan malam bersama.


Untuk satu minggu ini Bima tidak pernah makan malam bersama dengan Lisa, dirinya sering kali pulang malam dan lebih banyak makan di luar dari pada bersama istrinya.


Rasa bersalah menyelimuti hatinya, sadar kehidupannya lebih banyak di luar rumah dan bertemu dengan istrinya hanya sekejab saja.


" Ayo kita makan malam." Ajak Bima.


" Kalau kamu sudah makan janga-,"


" Aku belum makan." sahut cepat Bima. " Ayo." Ajaknya lagi, membuat Lisa tersenyum mengangguk dan berjalan bersama menuju meja makan.


" Aku panasin lagi makanannya, kamu tunggu sebentar." Kata Lisa, Bima hanya bisa mengangguk dan duduk di kursi makan sambil meperhatikan istrinya yang mulai memanaskan makanannya.


Ting.


Suara ponsel berbunyi, membuat dirinya mengambilnya di dalam saku celana dan membukanya.


" Makasih sudah mau memberi kesempatan untuk ayahku, dan makasih makan malamnya." Mengerutkan kening, melihat nomer yang seperti tak asing baginya.


hanya melihat dan tidak membalas sama sekali. dan rasa bersalah besar telah membuat istrinya terabaikan malam ini.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2