Nona Lisa

Nona Lisa
cafe.


__ADS_3

...Jangan berkorban demi cinta, karena cinta belum tentu berpihak denganmu....


.


.


.


.


Suara bel berbunyi, dan terdengar jelas di telinga Max. Tapi pria ini malas sekali untuk membuka pintu apartemennya. Bukan malas, hanya saja lemas dan rasa sulit sekali bangun dari ranjang besarnya.


Jika di luar adalah Doni, ia akan bersiap memakinya dengan kasar. karena sudah mengganggunya beristirahat di siang hari setelah memutuskan pulang terlebih dulu dari kantor dan urusan meeting yang tidak ia hadiri lantaran tidak kuat dengan tubuhnya.


Suara bel masih saja berbunyi, ia pun terpaksa bangkit dari ranjang tidur dan melangkah pelan menuju ke depan pintu apartemen untuk melihat tamu siapa yang datang.


" Siap-,?" Sedikit terkejut melihat Santi ada di depan pintu apartemennya.


" Pak Max." Sapa Santi dengan wajah sedikit khawatir.


" Santi." Sapa balik Max.


" Apa perut kamu masih sakit?" Tanya Santi, melihat jelas wajah Max yang pucat, berkeringat dan tubuh yang sedikit lemas.


" Hhmm.. Masuklah." Ujar Max, menyuruh Santi masuk ke dalam apartemennya.


Berjalan pelan dan duduk terlebih dulu sambil menyandarkan kepala di sandaran sofa. Max benar-benar lemas dan tidak kuat berjalan. Dirinya tidak bisa memakan makanan peda meskipun itu bagi orang pecinta pedas tidak seberapa pedas yang dirinya makan semalam dengan Santi.


" Sudah minum obat?" Tanya Santi, ikut duduk di samping Max, dan tanpa permisi tangannya menyentuh kening Max yang berkeringat.


" Tidak panas." Gumamnya, ada rasa syukur tubuh Max tidak panas.


" Kamu tau dari mana aku sakit." Tanya Max, ada rasa senang kala Santi perhatian dengannya dan datang ke apartemennya tanpa di minta atau bilang ke wanita ini jika dirinya sakit karna makanan semalam.


" Dari Mbak Lisa, suaminya tadi telpon dan di suruh bilang sama aku, kalau kamu sakit karna makanan pedas." Jawabnya lirih.


Ya, setelah Max meminta ijin pulang pada Bima lantaran tidak kuat dengan perutnya. Bima pun menelpon istrinya dan memberitahukan semuanya pada Lisa. Menceritakan apa yang di dengar dari Doni dan membuat Lisa tertawa senang karna temannya ternyata ada yang menyukainya dan itu teman dari suaminya sendiri.


Rasanya ada yang lucu, dan dunia semakin sempit saja. Lisa sangat senang jika Santi di sukai oleh teman suaminya, karna yang Lisa tau teman Bima tidak ada yang brengseng dan suka mempermainkan wanita. Serta tak lupa teman Bima, pekerja keras, tanggung jawab dan bonusnya adalah kaya.

__ADS_1


" Jangan sekali-kali makan pedas, kalau enggak suka makan pedas." Cetus Santi, merasa bersalah karna dirinya juga terlibat dalam keinginan Max yang meminta untuk menemaninya mencari makan makanan pedas. Dan memesankan sambal yang begitu peda pada Max.


Hanya diam tanpa membantah, dan tersenyum seperti mendapat perhatian kecil pada Santi yang mengomelinya karena makanan pedas. Andai wanita itu tau ia terpaksa berbohong dan ingin makanan pedas karena dia yang selalu membayangi pikiran dan hatinya.


Sungguh dia adalah pria yang sekarang mulai jatuh cinta pada wanita yang pernah bertabrakan tiga kali. Dan membuat jantungnya merasa tidak aman saat berdekatan dengannya.


" Sudah minum obat?" Tanya Santi untuk ke dua kalinya tentang obat.


" Belum." Jawab Max.


" Sudah makan?" Tanya Santi, hanya menggelengkan kepala tanpa dirinya belum makan sama sekali siang menjelang sore hari.


" Ayo aku antar istirahat ke kamar, setelah itu aku buatkan makanan untuk kamu." Kata Santi, membuat Max mengangguk tanpa mau membantah.


Menyentuh lengan Max, menuntun tubuh pria itu dengan pelan menuju ke kamar Max. Rasa harum bau parfum pria menyeruak dalam indra penciumannya dan warna gelap sangat kentara dalam ruangan pria bertubuh atlantis.


Menuntunnya sampai ke pinggiran ranjang, dan mulai membuka gorden untuk menerangi ruangan yang sedikit gelap. Tak kalah jauh lebih indah dari kamar sebelah Max yang pernah ia tempati. Pemandangannya sangat indah dan lebih bagus di jelang setengah sore hari.


" Istirahatlah dulu, nanti kalau makanannya sudah matang aku akan membangunkan kamu." Ujar Santi, membuat Max lagi-lagi mangangguk dan tersenyum. Rasanya sulit di percaya dan sulit untuk mengucap kata di depan wanita itu.


Jatuh cinta, sulit di percaya.


****


" Tidak apa-apa, duduk Lis." Kata ramah pria itu.


" Iya." Yang juga ikut tersenyum dan duduk di depannya dengan rasa canggung duduk berdua dengan seorang pria yang bukan suaminya.


" Ada apa Fahm." Tanya Lisa.


Ya, Fahmi. Siapa lagi jika bukan pria itu yang sedang menunggunya dan memintanya untuk datang ke cafe yang sudah di kirimkan lewat chat dan ingin berbicara berdua dengan serius.


" Apa kabar." Tanya Fahmi.


" Aku baik, kamu." Tanya Balik Lisa, memang sedikit aneh Fahmi bertanya kabarnya. Ya, mungkin mereka sudah lama tidak bertemu apa lagi berkomunikasi.


Bukan tidak mau menjawab atau membalas pesannya, hanya saja dirinya sudah tidak lagi berhubungan dengan pria lain selain Bima, suaminya.


" Sendiri?" Tanya Fahmi.

__ADS_1


" Tidak. Aku sama Su-,"


" Suami?" potong Fahmi.


Sedikit terkejut mendengarnya. Apa Fahmi sudah mengetatahuinya atau hanya menebaknya saja.


Dan memang jujur, Lisa akan mengucap kata 'suami' tapi itu sudah terlebih dulu Fahmi bilang. Dan dirinya tidak sendirian datang, melainkan di antar oleh Bima. Dan dia menunggunya di dalam mobil, tanpa mau keluar. karena itu adalah urusan pribadi dua orang lama yang belum usai dalam percintaan.


" Aku sudah tau Lis." Kata Fahmi, membuat Lisa menundukkan kepala.


" Maaf Fahm." Ucapnya, meminta maaf karna tidak memberitahukannya.


Bukan karna takut Fahmi marah, tapi ingin menjaga perasaan pria itu yang pastinya akan hancur karna dirinya dan juga karna cinta pertamanya Fahmi dulu. Kandas sebelum mengungkapkan Cinta dan juga menunggunya kembali untuk menagih janji Cinta ke duanya.


" Selamat ya Lis." Kata Fahmi, tersenyum tulus pada wanita yang pernah di cintainya.


Tidak ada tatapan benci dan tidak ada tatapan marah di mata Fahmi. Pria itu mengucapkannya dengan tulus dan juga wajah lebih terlihat santai serta tidak ada raut kecewa sama sekali. Atau dia menyembunyikannya dengan cara seperti itu, agar Lisa tidak merasa bersalah.


Ya, mungkin saja.


" Maaf Fahm." Ujarnya lagi.


" Tidak perlu meminta maaf, kamu tidak salah Lisa. Cinta tidak perlu di tunggukan! jika ada orang yang benar-benar Cinta dan mengajak kamu bahagia. Tidak perlu lagi menunggu lama." Kata Fahmi.


" Kamu perlu bahagia, dan memang bukan aku yang bisa membahagiakanmu." Imbuhnya lagi, membuat Lisa sedikit tersenyum. mengertikan tentang dirinya.


Dan memang kebahagiaannya bukan dari Fahmi tapi dari pria yang sudah menjadi suaminya saat ini. Bima.


" Terima kasih."


" Untuk." Tanya Fahmi.


" Sudah mengertikan aku." Ujar Lisa, Fahmi hanya tersenyum dan mengangguk.


Benar, wanita di hadapannya ini sudah terlihat jelas dari mata dan senyuman. Jika dia sudah bahagia dengan pilihannya dan sangat cinta dengan suaminya. Yang datang bersama suaminya tanpa mau mendampinginya di dalam cafe, dan memberikan kesempatan untuk berbicara berdua dengan orang yang di masalalunya.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2