
...Jangan terlalu membenci, jika kau tak ingin merasakan budaknya cinta....
.
.
.
.
Saling memandang pintu yang sudah tertutup dan kembali saling menatap hingga mereka tersadar dan saling melepaskan satu sama lain.
" Gila!!" Umpat Lisa, sebal karena perlakuan Bima yang nyaris membuat mereka berciuman serta kesalah pahaman karyawan yang melihat dirinya dan atasannya.
Bima kembali datar dan masih menatap Lisa.
" Kamu!! Iihh!" Sebal Lisa, menghentakkan kaki dan mata melotot sempurna ke arah Bima yang seperti mengejek serta seperti mengajaknya ingin ribut saja.
Menghembuskan nafas berat dan berbalik meninggalkan Bima, tapi berhenti kala melihat sesuatu yang membuatnya senyum.
Berbalik lagi menghadap Bima, dengan Bima yang mengerutkan kening saat Lisa berjalan mendekat ke arahnya.
Dan menatap tajam kala wanita itu membungkuk dan menjajarkan wajahnya pada wajah dirinya.
" Ibu mengundang kamu makan malam?" Ucapnya begitu manis di telinga Bima, dengan hembusan nafas begitu terasa menggelitik di kulitnya.
" Jangan datang." Ujarnya lagi, sambil melototkan mata menatap Bima. Dan berjalan keluar ruangan Bima, sambil tersenyum licik dan mengantongi benda berharga milik Bima.
" Bar-bar!" Gumam Bima, tersadar dari ucapan Lisa. Dan tersenyum menggelengkan kepala mengingat perlakuan wanita ceroboh.
Melanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda akibat Lisa yang datang mengganggunya dan marah-marah tidak jelas padanya.
Ralat! Dirinya lah yang membuat Lisa marah dan membuat kegaduhan di ruangannya karna sudah mengerjainya. Dan dirinya lah yang sudah puas melihat wajah marahnya Lisa.
Lisa yang sudah berada di gudang, menghempaskan tubuhnya di sofa, merentangkan dua tangan, meluruskan kaki dan juga mengatur nafas yang terasa panas di tubuhnya.
" Capek!" Keluhnya. " Dasar Bima gila!!" Umpatnya, marah akan Bima yang mengerjainya.
Dan seulas senyum merogoh tasnya, mengambil ponsel yang sudah ia ambil diam-diam di meja kerja Bima.
__ADS_1
" Biar tau rasa tu pria, cari tu sampai ketemu." Ucap Lisa, memandang ponsel Bima yang terdapat notif panggilan dan juga beberapa email masuk dalam ponsel Bima.
" Banyak sekali email dan panggilan masuk?" Gumamnya. " Gimana kalau ini penting?" Sambil menyesali kelakuannya yang mengambil ponsel Bima.
" Tapi dia sudah ngerjai aku! Masa bodoh lah!! Biar tau rasa tu pria, sudah berani mengerjaiku." Ujarnya lagi, menaruh ponsel Bima kembali di tasnya dan mulai bekerja kembali meneliti barang yang datang dan keluar.
****
Hari begitu sangat lelah, bukan karena pekerjaan. Tapi karena keliling jalanan di terik matahari yang menyengat tubuhnya, membuat dirinya letih dan lemas. Memutuskan pulang ke rumah sore hari kala gudang tidak terlalu banyak pekerjaan dan bisa di handel oleh Riski.
Memarkirkan motornya dan masuk ke dalam rumah yang langsung menuju ke dapur untuk mengambil minum kala tenggorokannya merasa kering.
" Mbak ayo kita makan malam bersama?" Ajak Lisa, pada semua Art rumah seperti biasa. Jika dirinya tak pulang malam, Lisa bisa menikmati makan malam bersama ibu dan para Art.
Rasanya lebih enak makan dalam keramaian dan saling bercengkrama di meja makan. Tidak ada rasa canggung, karena Lisa dan ibu sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
" Saya panasin dulu sayurnya mbak?" Kata mbak Jum.
" Iya mbak? Saya mau samperin ibu dulu di kamar." Mbak jum hanya mengangguk, dan mulai memanaskan makanan bersama mbok Ima yang menyiapkan piring dan membawanya ke meja makan.
Bersaliman pada ibunya, dan membawa ibunya keluar kamar. Meminta tolong pada suster untuk membawa ibunya ke meja makan, karna dirinya ingin menyegarkan tubuh sebelum makan malam bersama.
Rasa lengket akibat keringat sangat membuat dirinya tak nyaman, hingga dirinya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Tidak perlu mengolesi bedak di wajahnya, cukup memakai hand body tangan dan juga sedikit menyemprot parfum kesukaannya yang membuatnya tenang dengan wanginya.
Membuka pintu kamar, siap untuk makan malam bersama ibu dan Artnya. Dan dirinya terkejut saat mendapati tubuh tinggi ada di hadapannya.
" Kamu!!" Pekik Lisa, dengan mata membulat melihat pria yang mengerjainya ada di depan kamarnya sekarang.
Siapa lagi jika bukan Bima.
Berjalan mundur, kala Bima berjalan mendekat padanya dan terkejut saat pintu tertutup kembali. Dengan dirinya yang sekarang berada di kamar bersama Bima.
" Mundur gak!" Ucap Lisa, mencoba menggertak Bima agar tidak semakin mendekat dengannya.
" Enggak."
" Kalau enggak mundur, aku teriak panggil ibuk!" Ancam Lisa, kembali melangkah mundur.
__ADS_1
" Teriak saja!" Tantang Bima, masih menatap tajam Lisa.
hingga Lisa menelan salivanya yang sudah mulai takut dan terpojokkan kala kakinya sudah terbentur oleh ranjang. Hingga dirinya akan jatuh jika saja tangan kekar itu tak menarik pinggulnya, dan tubuh Lisa menabrak bidang dada Bima.
Terkejut, dengan mata membulat, ke dua tangan menahan dada Bima.
" Dimana ponsel saya." Tanya dingin Bima, dengan tatapan tajam. membuat Lisa tersadar dan mengerjabkan mata. Sedikit terkejut karna Bima tau jika ponselnya ada pada dirinya.
" Kembalikan dulu kunci mobil ku." Kata Lisa.
" Kembalikan dulu ponsel saya!!" Pinta Bima, dengan nada sedikit naik membuat Lisa menutup mata karna takut.
Ya, Bima baru menyadari jika ponselnya tidak berbunyi sama sekali, saat ia akan pulang dan melihat tidak ada ponselnya di meja kerjanya.
Mencoba mencarinya di atas laci, meja keja, sofa dan di setiap ujung ruangannya. Tetap tak menemukannya dan beruntung ada cctv yang ada di ruangan hingga dirinya bisa melihat dimana dirinya menaruh ponselnya.
Dan di situlah dirinya menyadari jika ponselnya di bawa oleh Lisa.
Sedikit ada bentakan dan tatapan tajam dari Bima, membuat hatinya sedikit sakit. Dengan kasar dirinya mendorong Bima, melepaskan tangan Bima dari pinggulnya dan mengambil tasnya di atas ranjang, mengeluarkan ponsel Bima dan mengembalikannya di tangan Bima dengan kasar.
" Puas!!" Ucap Lisa, menatap tajam Bima dengan mata berembun dan berjalan meninggalkan Bima sendiri di kamarnya dengan membanting pintu sedikit keras.
Tidak mempedulikan Bima yang manatapnya dan masih ada di kamarnya, seakan dirinya merasa sakit karna bentakan itu. Entah kenapa!
Melihat ponselnya ada di tangannya, ia pun hanya bisa menutup mata, memijat pangkal hidungnya dan menyalakan ponselnya.
Tidak mempedulikan banyak panggilan dan email yang masuk. Tapi ada sesuatu yang penting dalam galerinya, yang tersimpan folder khusus dari masa lalunya.
Masih ada.
Hingga dirinya bernafas lega. Dan tersadar, ponselnya tidak sama sekali tersentuh dan tidak di buka oleh Lisa meskipun ponsel itu tidak di beri kunci olehnya.
Berjalan keluar kamar Lisa. Menuruni anak tangga, menuju ke meja makan dan melihat Lisa sudah berada di samping ibunya.
" Ma ri, ma kan malam ber sama nak Bima?" Ajak Ibu Lisa, melihat kehadiran Bima yang sudah ada di hadapannya dengan Lisa yang tak mau menatapnya.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃