Nona Lisa

Nona Lisa
Sudah waktunya.


__ADS_3

...Dia bukan pria yang romantis, tapi dia pria yang sangat mengerti!...


.


.


.


.


Flasback.


" Hhhmm, sudah siang." Sambil merenggangkan ke dua tangannya dan menggeliatkan tubuhnya di atas kasurnya.


Duduk bersila, memijat tengkuk leher yang terasa pegal dan menyadari jika dirinya ada di kamar.


Lagi-lagi dirinya tertidur di bahu Bima, saat berduan di teras balkon. Berbicara, terkadang diam, saling memainkan jari tangan yang menyatu, Mengusap punggung telapak tangan atau dia yang sering kali mengecup puncak kepalanya. Seperti sudah kecanduan sekali. Sangat romantis, tapi sulit untuk saling mengungkapkan hati satu sama lain.


Seakan mereka sama takut, terulang kembali masa lalu cintanya yang kelam di pertengahan jalan.


Pria itu tidak pernah membangunkannya, justru dirinya di gendong dengan hati-hati menuju kamarnya. Membaringkannya di kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut dan tak lupa memberi satu kecupan manis pengantar tidurnya.


Suara dering ponsel Lisa berbunyi, dan mengambilnya di atas laci sebelah ranjang tidurnya dan menyipitkan mata saat melihat kotak berwarna merah di samping ponselnya.


Mengambil kotak merah sambil mengangkat panggilan dari Santi. Dan mematikan ponsel kala sudah selesai berbicara.


" Ini punya siapa?" Gumamnya, dan membuka kotak berudu merah hingga dirinya membulatkan mata saat melihat isi di dalamnya.


Satu pesan dari masuk dari ponselnya. Dan Lisa membukanya.


Untuk kamu." Tulis Bima.


Senyum merekah bibir tipis menghiasi wajahnya dan mata yang berkaca-kaca. Merasa terharu akan apa yang Bima berikan padanya.


Dia, pria yang tidak romantis di hadapannya. Tapi bisa membuatnya bahagia dengan caranya.


Cincin permata putih.


****


" Selamat, untuk kamu Bima." Ucap Zellin, tersenyum paksa memberikan ucapan selamat karna pria di hadapannya akan menikah dan juga sudah bisa menghapus namanya di hatinya.


" Terima kasih Nyonya Nico." Jawab Bima, sedikit mengangguk dan juga tersenyum.


" Selamat." Ucap Zellin pada Lisa.


" Terima kasih." Jawab Lisa, tersenyum manis pada mantan sahabat Bima.

__ADS_1


Wanita di hadapannya, seperti mempunyai rasa pada Bima. Bukan rasa sayang sebagai sahabat, tapi rasa sayang yang melebihi sahabat dan ingin memilikinya untuk selama-lamanya. Lisa bisa melihat dari tatapan matanya yang berembun dan sedih saat mendengar Bima mempunyai kekasih.


Lisa juga tidak tau kenapa bisa dirinya bisa bilang jika akan menikah dengan bima. Dan dirinya juga baru menyadari mengucapkan cinta pada Bima, yang di balasnya dengan sangat hangat dan membuat dirinya terbang ke awan.


Apakah seperti ini, Mengungkapkan cinta dan di terima dengan dia yang juga mencintainya.


Menyenangkan dan membahagiakan.


Andai itu memang nyata dan bukan dirinya dulu yang mengucapkan cinta. Mungkin Lisa akan sangat lebih, lebih bahagia dan senang.


Nyatanya.


Ini hanyanya sandiwara, dan membantu Bima. Agar pria itu tidak di hina oleh semua orang dan di rendahkan oleh suami mantan sahabat Bima.


Dan yang cincin di pakainya.


Itu memang pemberian dari Bima, tapi Bima tidak mengungkapkan cintanya padanya. Hanya memberikan, bukan berarti cinta. Dan artinya, dirinya dan Bima masih sebatas teman. Tidak lebih.


Berharap lebih.


Sangat! Tapi ia takut, jika nanti akan patah hati untuk ke dua kalinya. Dan lebih baik menyembunyikannya. Ya, meskipun pada akhirnya nanti dirinya juga akan sakit hati. Tidak bisa bersanding dengan Bima.


Lisa tau, kenapa Bima begitu baik dan sangat menjaga dirinya. Karena itu semua adalah permintaan mendiang ibunya pada Bima, untuk menjada dan melindungi dirinya.


" Nak Nico?" Sapa wanita paruh baya bersama suaminya.


Tidak sopan.


" Mama, papa?" Ucap Zellin, memeluk ke dua orang tuanya bergantian. terutama memeluk papanya begitu lama, hanya papanyalah yang tau akan semuanya.


" Zellin kangen papa!" Lirih Zellin, meneteskan air matanya yang tidak bisa lagi di pendam dan bersandarkan di bahu pria baruh baya itu.


" Dia datang pa!" Ujarnya lagi, membuat papanya menatap ke arah pria gagah di depannya dan sedikit terkejut melihat pria itu.


" Papa juga kangen sama kamu Zellin." Mengusap punggung putrinya untuk menenangkannya. Dan masih menatap lekat pria masa lalu putrinya.


Sangat berubah, tatapan dingin seperti dalam permusuhan dan juga kebencian ada dalam diri Bima padanya. Pria itu lebih gagah, tampan dan juga berwibawa, bukan seperti dulu awal pertemuannya melamar putrinya.


Mengusap air mata dan melepas pelukannya serta berbalik badan untuk tetap mencoba baik-baik saja di hadapan Bima.


" Bagaimana kabar Nak Nico?" Tanya Mama Zellin.


" Saya baik Ma." Jawabnya sedikit tersenyum " Duduk dulu Ma, Pa? Kita bergabung di sini dengan pak Bima. Apa Papa dan Mama masih ingat?" Tanyanya, mengalihkan tubuhnya dari mertua perempuannya untuk menatap pria di belakangnya.


Mengerutkan kening, menatap pria tampan dan berwibawa. Dan sedikit mengingat wajah pria itu di masa lalunya.


" Bima?" Lirih Mama Zellin.

__ADS_1


" Bima yang pernah mama tolak lamarannya dulu. Dan membuat kekacauan di pesta pernikahan aku dan Zellin." Ujar Nico, dan membuat Lisa melebarkan mata.


Di tolak.


Bima pernah melamarnya!


Pernah membuat kekacauan di pesta pernikahannya!


Apa mereka orang tua wanita ini?


Zellin? Apa wanita itu namanya.


Dan tangan kekar, menggenggam lembut tangannya. Saling mengisi kekosongan jarinya. Dan membuat Lisa tersadar serta mendongakan kepala, menatap wajah dingin dan tatapan elang yang menatap satu keluarga di depannya.


Tidak, Bima tidak akan pernah melakukan itu. Aku sangat percaya dia." Gumamnya dalam hati, dan tersenyum manis untuk memulai drama yang semakin panas.


" Ah! Benarkah itu Nyonya?" Tanya Lisa, membut dua orang paru bayah mengalihkan tatapannya ke arah Lisa.


Dan melihat tangan Bima menggenggam tangan Lisa.


" Maaf." Lirih Lisa, sedikit menundukkan kepala dan tersenyum kembali pada Orang tua Zellin.


" Perkenalkan, Saya Calon istri Tuan Alfrado, Ehm Maaf Bapak Bima maksud saya. Lisa." Ucap Lisa, melepas genggaman tangan Bima. Dan menjulurkan tangannya di hadapan Wanita paruh baya itu.


Alfrado?


Seperti tiga orang di hadapannya tak asing dengan nama itu. Nama yang selalu menjadi pembahasan semua orang kalangan atas dan tidak tau akan wajah pria misterius yang bersembunyi entah kenama. Dan Yang di damba dambakan dan di takuti semua pengusaha. Jika mencoba bermain-main dengan perusahaannya. Tidak segan untuk menghancurkan semuanya, jika dia terusik sedikit saja.


Bukannya itu nama atasan Bima bekerja.


Dan Bima adalah orang kepercayaannya.


" Tuan?" Bisik Asisten Bima, terkejut saat Lisa tau nama lengkap Bima. Dan apakah wanita itu tau identitas Bima.


" Sudah waktunya." Lirih Bima, membuat Asistennya lagi-lagi terkejut.


Dan menganggukkan kepala serta mulai mengambil ponsel di sakunya dan mengetik pesan pada seseorang untuk segera datang ke alamat yang di kirimnya.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2