
Derap langkah kaki begitu menggema berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit sambil menggendong wanita meringis kesakitan memegang perutnya. Di ikuti beberapa kerabat yang ikut menemani pria itu membawa wanita dengan sama paniknya.
" Suster, dokter tolong istri saya mau melahirkan!!" Seru suami dalam keadaan panik tanpa tau harus berbuat apa.
Rumah sakit di malam hari sedikit sunyi, tidak seberapa banyak para medis bekerja di malam hari.
" Suster! Dokter!!" Seru adik wanita hamil yang sama paniknya dengan kakak ipar, melihat kakaknya yang menangis kesakitan dalam gendongan suaminya.
Suster dan penjaga yang melihatnya dengan cepat membuka ruang IGD dan menyuruh membaringkan wanita hamil dalam brankar.
" Aduh!! Sakit." Ringisnya, memegang perut dan menggenggam tangan suaminya.
" Saya lihat dulu ya Buk? tolong kakinya di tekuk." Perintah Dokter penjaga malam, dan beruntungnya dokter penjaganya wanita hingga tidak membuat suami cemburu.
Tapi juga tidak akan masalah, karna situasi sangatlah menegangkan. Yang terpenting keselamatan istri dan dua bayi kembarnya.
" Aku tunggu di luar mas." Kata Riski, membuat Bima mengangguk. Mengerti bila Riski tidak ingin melihatnya, karna itu sangatlah mengilukan.
" Sudah pembukaan tujuh." Kata dokter. " Suster siapkan peralatannya." Perintahnya.
" Sakit?" Keluh Lisa, seperti tulang pinggul merasa akan patah dan dorongan dari dalam perut yang sangat kuat sekali, seakan tak sabar ingin keluar.
" Dok, apa tidak bisa di operasi saja." Cemas Bima.
" Ini sudah hampir pembukaan lengkap pak, sebentar lagi akan keluar bayinya." Jawab dokter.
" Aku kuat." Kata Lisa, mencoba tersenyum meskipun suaminya tau dirinya kesakitan.
Bima mengusap keringat istrinya menggenggam lembut tangan sang istri dan memberikan kecupan di punggung tangannya. dirinya hanya bisa memberikan semangat dan berdoa semoga di beri kelancaran, serta keselamatan bagi istri dan dua calon buah hatinya.
__ADS_1
" Bapak tolong berdiri di situ." Perintah dokter, menunjuk sisi atas brankar kepala Lisa.
Lagi-lagi Bima mengangguk tanpa mau membantah, beralih ke sisi atas kepala Lisa sambil mengusap pipi istrinya dengan ke dua tangannya di cengkram kuat oleh Lisa. tidak mempedulikan rasa sakit, perih dalam tangannya tertancap kuku-kuku istrinya yang sedang berjuang untuk mengeluarkan dua nyawa di dalam perutnya.
Rasa tidak tega melihat istrinya yang kesakitan. " Yang kuat sayang, maafin aku, maafin aku." Bisik Bima, sambil mengecup pipi istrinya. Tidak peduli suster atau dokter melihatnya, karna pastinya mereka akan tau, bagaimana rasanya berjuang melahirkan di antara hidup dan mati.
" Sudah lengkap, siap untuk mengejan ya buk." Perintah Dokter dengan lembut, memegang ke dua lutut Lisa dan memberikan aba-aba untuk mulai mengejan.
Di luar rawat IGD, Riski bisa mendengar suara rintikan dan juga jeritan Lisa yang berusaha untuk mengeluarkan dua ponakannya di malam hari.
Kaki tidak bisa diam, duduk tidak bisa tenang, dan doa-doa memohon pada sang kuasa memperlancar persalinan Lisa. Sungguh rasanya Riski juga tidak tega melihat Lisa yang mendadak ingin melahirkan di malam hari.
Bayangkan saja, rasa cemas dan khawatir kala malam di mana sedang menikmati tidurnya yang pulas, tiba-tiba terbangun dengan cepat. Mendengar Bima berteriak kebingungan saat melihat Lisa merintik kesakitan di perutnya dan sedikit mulai mengeluarkan cairan putih mengalir di kaki Lisa.
Panik, dengan cepat Bima menggendong Lisa. kala salah satu pelayan Bima mengucap jika istrinya akan melahirkan. Jadwal melahirkan Lisa satu minggu lebih maju dari perkiraan dokter. Yang kemungkinan melahirkan secar, secara mendadak malam hari Lisa mulai kontraksi terus menerus tanpa henti hingga pembukaan begitu cepat dan siap untuk melahirkan.
" Riski!" Panggil Santi, berlari cepat menuju depan pintu IGD dimana Riski berdiri ambang pintu.
" Gimana mbak Lisa?" Tanya Santi, mendapat telpon dari Riski. mengatakan jika Lisa akan melahirkan.
Jelas Santi yang masih setengah sadar dari tidurnya, melebarkan mata sempurna mendengar ucapan Riski dan membangunkan suaminya yang sama setengah sadar akibat berisiknya telpon Santi berdering terus menerus. Tidak perlu berganti pakaian, hanya mencuci muka dan memakai jaket menutup baju piyama menuju rumah sakit yang sudah di berikan alamatnya.
" Ada di dalam mbak sama mas Bima, di tangani sama dokter." Jawab Riski, sambil menatap pintu. dan terdengar suara jeritan panjang dari Lisa.
" Semoga lahirannya lancar ya Allah." Doa Santi.
" Amin." Ucap Max dan Riski bersamaan, dan tiga orang melebarkan mata saling menatap kala jelas mendengar suara tangisan bayi begitu nyaring sampai depan pintu IGD.
" Alhamdulillah!!" Seruan bersamaan berbinar binar mendengarnya. Santi memeluk Max dan Riski menutup wajahnya bahagia.
__ADS_1
Di dalam ruang IGD, ada nafas setengah lega melihat tangisan bayi yang baru keluar. Dan masih ada rasa menegangkan kala merasakan kembali tangannya di cengkram erat oleh istrinya.
" Gak kuat." Lirih kembali Lisa, terasa lelah tapi masih tetap untuk semangat berjuang. demi anaknya kembali yang masih ada di dalam perutnya.
" Ibu? Yang semangat ya, yang kuat. Ayo ibu bisa, tinggal kembarannya?" Ucap Dokter, menyemangati Lisa sedang berjuang kembali untuk mengejan mengeluarkan bayi ke duanya.
" Jangan bilang begitu? Aku ingin kita bersama. Aku mohon yang kuat sayang." Pinta Bima, tidak bisa membendung lagi air matanya. Saat melihat Lisa kesakitan dan mendengar rintihan kesakitan dari bibirnya.
" Ayo buk! mengejan!" Perintah Dokter. " Suster!" Memperintahkan suster untuk membantu mendorong perut Lisa karna melihat Lisa yang mulai tidak kuat dan melihat bayi ke duanya sudah akan keluar.
Terdengar kembali suara tangisan bayi keluar dari rahim Lisa, membuat Lisa lega sekaligus lemas akan tenaga yang sudah terkuras habis tak tersisa.
" Terima kasih Lisa, terima kasih sayang. terima kasih Tuhan." Ucap Bima, mencium kening Lisa dan menangis di samping kepalanya. merasakan perjuangan sang istri melahirkan ke dua anaknya dalam lahiran normal dan merasakan kebahagian lengkap tanpa ada yang kurang.
Lisa juga ikut menangis akan perjuangannya melahirkan secara normal. bagaimana rasa sakit, rasa seperti nyawa melayang dan rasa yang sulit sekali untuk di jelaskan. Dan bagaimana Tuhan memberikan kenikmatan yang begitu luar biasa, memperlancar persalinannya tanpa adanya hambatan.
Mengusap kepala sang suami, menenangkan Bima yang menangis melebihi dirinya. Seakan dia takut di tinggalkan dirinya.
" Bapak, Ibu? Ini bayinya." Ucap Suster, membuat Bima dan Lisa memandang dua suster membawa dua bayi dan mulai menaruh dua bayi kembar di atas d*da Lisa mencari kehangatan dan juga ikatan batin.
" Selamat ya buk, pak. bayinya laki-laki dan perempuan." Ucap suster, membuat Lisa dan Bima saling memandang dan beralih menatap dua bayi mungil di atas d*da Lisa yang menikmati kehangatan dekapan ibunya.
" Makasih sayang, makasih." Bima, tidak henti hentinya mengucap terima kasih pada istrinya. Hadiah yang terindah, anugrah yang sempurna dan lengkap sudah kebahagiannya. dengan dua bayi kembar lelaki dan perempuan.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃