Nona Lisa

Nona Lisa
Realitis.


__ADS_3

...Memiliki mu adalah anugrah, Karena bonus yang melimpah....


.


.


.


.


" Astagfirullah!!" Pekik dari ambang pintu yang sudah di buka dari luar. dan tercengang saat melihat pemandangan dari dalam, dengan pria mencium pipi wanita dan wanita mematung serta mata melebar sempurna.


Suguhan yang sangat menyebalkan.


Mengerjab, tersadar dan sepasang kekasih saling memandang ke arah pintu terbuka. Menatap Riski yang bersuara lantang dan berkacak pinggang.


" Ada apa?" Tanya Santi, mendengar suara lantang Riski di ambang pintu dan mencoba untuk melihat di dalam ruangan Lisa.


" Bukan Apa-apa mbak!!" Seru Riski, menghadang dan mendorong tubuh Santi agar tidak melihat adegan yang akan membuat dia semakin tak mengerti apa yang di lakukan sepasang kekasih. dan membanting pintu dengan keras hingga membuat dua pasang kekasih sedikit terperanjat.


" Ada apa sih Ki!! Aku pengen lihat tau!!" Cibik Santi, tidak terima akan Riski yang menghalangi nya untuk melihat Lisa di dalam ruangan.


" Jangan! Nanti mbak Santi terkejut, menyebut, dan Iri.!" Jawab Riski.


" Terkejut, menyebut, Iri kenapa!" Ketusnya dan memicingkan sebelah matanya.


" Udah ah! Aku mau lihat mbak Lisa." Imbunya lagi, mencoba menyingkirkan Riski dari hadapannya. Tapi tetap saja cowok remaja ini menghalanginya.


" Nanti mbak Lisa kenapa-napa Ki!"


" Mbak Lisa gak kenapa-napa mbak! Aman." Jawabnya. " cuma jantungnya saja mungkin syock." Imbuhnya lirih dan masih terdengar Santi.


" Maksudnya?" Tanya Santi, mengerutkan kening tidak tau apa yang di bicarakan nich bocah di hadapannya. Riski hanya bisa menghembuskan nafas berat dan mulai membisikkan sesuatu di telinga Santi dan membuat mata Santi melotot sempurna.


" Oh.. Ya Tuhan!!" Pekik Santi, kala Riski sudah membisikkan apa yang terjadi di dalam ruangan Lisa.


Sepasang kekasih itu saling menatap, saling tersenyum dan Lisa mulai menabok lengan Bima yang tertawa karena keterkejutan Riski saat melihat dirinya mencium pipi Lisa.


" Bima ih!!" Seru Lisa, merasa malu sekali. Senyumannya pun ia tahan dengan gigitan giginya.


" Perlu di ajarkan ini."


" Jangan merusak adikku!" Sahut Lisa cepat, meski Riski adalah karyawannya dia sudah di anggap adik dan tidak keberatan menyebutnya adik sendiri pada semua orang termasuk Bima yang tau akan hal itu.


Mengacak rambut Lisa dan tersenyum karena dirinya tidak salah memilih calon pendamping.

__ADS_1


" Sudah makan?" Tanya Bima.


" Belum. Kamu kenapa ke sini? Enggak kerja?" Tanya Lisa, sambil membenarkan rambutnya.


" Libur!"


" Libur! Mana boleh pemilik perusahaan besar Libur kerja! Ini kan bukan hari libur."


" Siapa yang bilang, aku pemilik perusahaan besar!"


" Enggak usah ngelak lagi! Tuh di internet, di koran, tabloid dan di tv banyak yang sedang memberitakan tentang Bapak Bima alias Tuan Alfrado!" Sungut Lisa, sambil bibirnya naik-naik seperti bebek dan menggemaskan bagi Bima.


" Kenapa! enggak suka punya calon suami kaya?" Tanya Bima.


" Gak ada wanita yang namanya gak suka punya calon suami kaya raya."


" Termasuk kamu?"


" Tergantung!" Sambil mengedikkan bahunya, membuat Bima mengerutkan kening.


" Buat apa punya suami kaya raya, kalau dia pelit, peritungan. Apa lagi, tukang selingkuh dan suka poligami, makan Ati! " Jawab Lisa,


" Aku engg-,"


" Aku tau, kekasihku ini enggak akan gitu! Tampan, gagah, pekerja keras, tanggung jawab dan plus bonus kaya raya." Jawab Lisa dengan jujur, membuat Bima tertawa dan menggelengkan kepala karena kejujuran wanita di hadapannya.


" Ayo." Ajak Bima.


" Kemana?"


" Ikut saja?" Ujarnya, membuat Lisa tidak bisa menolak dan ikut bersama Bima yang entah akan membawanya kemana.


Keluar dari ruangan berdua dengan Bima, Riski yang melihat sudah melototkan mata dan Santi tersenyum-senyum memandangnya.


Ini bocah sangat ember. Sampai Mbak Santi tersenyum menggoda menatapku." Gumam Lisa, tau akan tatapan dan senyuman Santi.


" Mau kemana mbak?" Ketus Riski.


" Mau ikut." Ajak Bima.


" Tidak pak, tidak." Sahut Santi cepat, tidak ingin Riski menjawab mau dan merusak kencan Lisa. " Sudah sana pergi Mbak Lisa, masalah kerjaan biar aku sama riski yang selesaikan" Imbuhnya, membuat Riski melototkan mata menatapnya, dan di cubit pinggangya oleh Santi untuk diam jangan protes. Dan membuat dia meringis kesakitan serta mengerucutkan bibirnya.


" Aku tinggal dulu mbak Santi." Pamit Lisa, tersenyum menggelengkan kepala melihat Riski cemberut.


" Jangan macam-macam, dan cepat pulang mbak, kalau enggak mau aku teror terus-terusan." Ancam Riski, meskipun sedikit takut pada Bima, tapi dirinya tidak peduli ditatap seperti itu. Dan yakin jika Bima tidak akan berbuat macam-macam pada bos yang sudah di anggap kakaknya. Meskipun begitu dirinya akan tetap menjaga dan melindungi Lisa.

__ADS_1


Bima yang mendengarnya memicingkan mata, dan mencoba berjalan ke arah Riski yang mulai takut dan sedikit berjalan mundur.


Lisa dan Santi, juga mulai takut jika Bima marah dengan ucapan Riski yang berjalan mendekatinya.


" Kau tidak takut denganku?" Tanya Bima, menatap tajam Riski.


" Eng gak, sama-sama makan nasi, ngapain takut." Gemetar suara Riski, yang sebenarnya sudah merasa takut. Tapi sebagai seorang cowok dirinya enggak mau di bilang banci dan tak becus melindungi kakaknya.


" Bim?" Lirih Lisa, Dan terkejut saat Bima memiting leher Riski di ketiaknya dan menjitak kepala Riski beberapa kali.


" Aduh Mas!! Ampun sakit!" Pekik Riski, meronta-ronta di dalam pitingan Bima.


" Bagus! Jaga kakak mu. Dan jangan pernah meragukanku." Ucap Bima. melepaskan Riski, dengan dia mengusap kepalanya karena sakit. akibat jitakan Bima beberapa kali sangat keras dan membuat kepalanya panas serta pening.


Lisa dan Santi hanya bisa menahan senyum dan tawa. Melihat Riski yang di piting dan di pukuli kepalanya oleh Bima. Anak ini sungguh songong, tidak takut berurusan dengan Tuan Alfrado.


" Ayo." Ajak Bima dan di anggukkan Lisa dengan senyum. Dan menatap Riski dengan senyum ejek.


" Syukurin!" Ucapnya tanpa suara dan menertawakan Riski yang cemberut.


****


" Aakkhh!! Sial!!" Teriak pria, frustasi di dalam ruang kerjanya yang berantakan seperti kapal pecah akibat kemarahannya, kebodohannya serta kesombongannya sendiri.


Akibat pesta beberapa hari yang lalu di buatnya dan membuat dirinya malu serta terhina di hadapan semua para tamunya.


Bagaimana tidak malu dan terhina. Dirinya sendiri yang memulainya terlebih dulu, menghina seseorang yang ternyata orang itu adalah orang berpenguasa dalam bisnis dan berpengaruh bagi para pengusaha.


Mantan sahabat istrinya, ralat. Mantan yang menyukai istrinya dan istrinya yang juga sama mencintainya sampai sekarang. Ternyata adalah Tuan Alfrado alias Bima, orang kejam dalam berbisnis.


Jika dirinya tau, mungkin dirinya tidak akan berani menghinanya. Apa lagi di hadapan semua orang dan pastinya akan sangat senang dengan kehadiran Tuan Alfrado karena bisa bertemu dengan pria penting. Bagaimana tidak senang, perusahaan Tuan Alfrado mau bekerja sama dengannya secara percuma dan tidak perlu waktu lama menunggu atau mengantri seperti pengusaha lain yang ingin bekerja sama dengannya.


Dan kini, Tuan Alfrado memutuskan bekerja sama dengannya dan yang lebih parahnya Saham tujuh puluh persen miliknya di ambil alih oleh Tuan Alfrado hingga membuat perusahaannya mulai sedikit oleng dan bisa-bisa dirinya bangkrut.


" Aku gak mau bangkrut, aku enggak mau miskin. Aku enggak mau!!" Gumamnya, dan menjambak rambutnya sendiri.


" Iya, aku harus meminta bantuan Zellin. Agar perusahaanku tidak bangkrut" Ujarnya lagi, dan berjalan cepat keluar ruangan tanpa mempedulikan sekertarisnya yang sedang berdiri di samping pintu.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2