
" Makasih sudah di antar pak." Kata Santi, melepas seatbel dan menatap senyum pada Max. Masih sedikit gugup dan juga kaku, karna lamaran dadakan Max yang datang ke rumah orang tuanya di kampung.
Sungguh rasanya seperti mimpi.
" Iya, sama-sama." Jawab Max.
" Mau mampir dulu?" Tawar Santi, merasa sungkan jika tidak menawarinya masuk ke dalam kontrakannya.
" Boeh." Jawab Max dengan senyum. Membuat Santi ikut tersenyum dan mengangguk.
Turun bersama dari mobil, dan mengambil oleh-oleh yang di bawakan ibunya.
" Biar aku saja yang bawa." Ucap Max, mengambil tas kain dari tangan Santi dan berjalan bersama untuk masuk ke kontrakan.
" Aku taruh ini dulu di dapur? Pak Max duduk saja, pasti capek." Ujar Santi, membuat Max mengangguk. Tapi tidak mau mendengarkan perintah Santi, justru dirinya ikut ke dapur untuk melihat Santi.
" Ibu bawakan apa?" Max, penasaran dengan apa yang ada di dalam tas jinjing.
" Eh?" Kejut Santi, menoleh ke belakang. Tepat di belakangnya Max berdiri dengan senyum.
" Apa ini." Tanya Max, mengambil satu bungkusan di belakang Santi. Tepat Santi bisa menghirup aroma parfum pria itu. Harum, kala Max sudah mengganti kemejanya saat berada di bandara.
Hanya ada sedikit jarak di antara dirinya dan Max. untuk pertama kali bisa melihat wajah Max lebih dari dekat. Wajah seperti kebulean, putih dan juga mancung.
Sempurna.
Terkesiap dan dengan cepat ke dua tangannya menahan di dada Max, saat Max merengkuh pinggangnya dan merapatkan tubuhnya.
" Pak Max?" Pekik Santi, sedikit mendongakkan kepala dan membulatkan mata.
" Lagi liat apa? Sampai aku tanya gak di hiraukan." Ucap Max, sambil menaikkan ke dua alisnya.
" Hah?"
" Hah!" Ulang Max. "gak sadar aku terlalu tampan ya?" Pujinya setengah menggoda. Hingga Santi tanpa sadar mengangguk, dan membuat Max tertawa.
__ADS_1
Mengerjabkan mata, menggelengkan kepala cepat menyadarkan diri dan memukul kecil dada Max.
" Gak tampan, tapi jelek." Ucap Santi, pipi merah merona menahan malu. " Ayo lepas." Imbuhnya. memukul lengan Max yang masih setia tangan merengkuh pinggangnya.
" Kalau jelek kenapa tadi di liatin terus?"
" Ya kaget saja, tiba-tiba ada orang di belakangku." Kilah Santi.
" Jawaban yang tidak masuk akal." Kata Max, membuat Santi mengerucutkan bibir. Dan benar jawaban Santi tidak menyambung dengan pertanyaannya.
" Ayo lepasin? Belum muhrim." Ucap Santi, sedikit mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Max.
" Setengah muhrim, gakpapa kok." Jawab Max, mengerlingkan mata sambil tersenyum. Dan mendapatkan pelototan horor dari Santi.
" Ih?" Cubit Santi di dada Max.
" Aauuww! Sakit! Tapi geli." Ringis Max, dan lagi-lagi mata Santi melotot lebih lebar.
" Bercanda Baby." melepas ke dua tangannya di pinggang Santi, dan mengacungkan dua jari berbentuk V tanda sebagai perdamaian. Karna Santi masih melototinya dan sangat horor baginya.
" Sana duduk, aku mau masak nasi dulu. Buat makan siang kita." Usir Santi. " Ibu bawakan makanan banyak, tapi gak ada nasi." Keluhnya lagi. melihat empat tempat wadah makanan tranparan putih, dan bisa di lihat isinya.
" Iya, iya? Aku pinjam kamar kamu ya, mau tidur sebentar. Capek."
" Iya. Aku bersihkan dulu kamarnya." Ucap Santi mengangguk, berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Di ikuti Max lagi dari belakang dan melihat Santi membersihkan kamar yang tidak berantakan dan memukul kasurnya dengan penebah untuk menghilangkan debu yang tiga hari tidak di tiduri olehnya. Kamar Santi sedikit pengap karna jendela kamar yang tertutup.
Memberikan sedikit pengharum ruangan, menyalakan kipas angin dan membuka jendela agar udara masuk ke dalam kamarnya.
" Sudah? Pak Max bisa istirahat, nanti kalau nasinya sudah matang aku bangunkan." Ucap Santi.
" Makasih, Baby." Bisik Max di telinga Santi.
*****
__ADS_1
" Ha- mil." Gagap Lisa, mendengar penjelasan dokter umum di rumah sakit. Sesaat sudah dokter wanita itu memeriksanya dan mengatakan untuk memeriksa lebih lanjut ke dokter kandungan.
Sempat tidak mengerti dengan saran dokter, yang menyuruhnya untuk ke dokter kandungan. Dan pada saat dokter mengatakan dirinya kemungkinan hamil, sungguh reaksinya begitu terkejut dan Bima diam. Tidak tau apa yang sedang di pikirkannya.
Keluar dari ruang dokter setelah di periksa, Bima dan Lisa masih terdiam. Tidak tau harus berkata apa. Analisa dokter selalu akurat, tapi sepasang suami istri itu masih terlihat ragu dan takut. Jika tidak hamil, kemungkin suami istri itu akan kecewa.
" Kita periksa ke dokter kandungan dulu." Kata Bima, membuat Lisa sedikit mengangguk. Ada rasa penasaran dan tidak. Tapi naluri seorang wanita, dirinya yakin. Bila yang di bilang dokter umum tadi adalah benar, dirinya saat ini sedang hamil. Dan itu bisa di bilang saat ia sudah lebih dua bulan tidak datang bulan.
Menunggu antrian, seperti pada umumnya. Tidak ingin memanfaatkan kekuasaannya, hanya karna dirinya lebih kaya dari pasien yang lain. Duduk tenang sedikit jauh dari para antrian, sambil melihat banyaknya pasien wanita hamil mengusap perutnya yang buncit bersama dengan suami yang setia menemaninya.
Ke dua tangan Bima menggenggam lembut tangan Lisa, membuat Lisa menoleh ke arahnya.
" Aku selalu berharap. semoga saja Tuhan memberikannya." Kata Bima, dengan senyum hangat penuh harapan.
Dalam pernikahan apa lagi yang selalu di harapkan. Jika bukan, hadirnya seorang anak. Yang akan selalu membuat keramaian dalam rumah. Dan akan selalu membuat seorang ayah semangat dalam bekerja dan cepat ingin pulang, berkumpul dengan istri dan anak.
" Tolong jangan kecewa nanti, kalau Tuhan belum memberikannya." Kata Lisa, karna ia tau suaminya juga sangat menginginkan seorang anak. dan takut jika suaminya kecewa, bila harapannya tidak sesuai.
" Iya?" Sambil mengusap punggung tangan Lisa. " Nanti kita bisa buat lagi, sampai dia benar-benar tumbuh di sini." Imbuhnya dan mengusap perut Lisa yang masih datar.
sama-sama tersenyum lepas, saling menguatkan dan saling percaya. Berharap kenyataan itu ada, agar lengkap sudah penantian yang di harapkan.
" Nyonya Lisa?" Panggil suster di ambang pintu.
" Iya." Jawab Lisa, berdiri dari duduknya dan berjalan bersama Bima. Masuk ke dalam ruang pemeriksaan untuk ke dua kalinya.
Rasa jantung berdebar begitu kencang, seperti pertama kali mendengar suara pria melantangkan namanya di hadapan penghulu dan saksi ijab khabul.
Tuhan, Semoga ini benar nyata.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃