Nona Lisa

Nona Lisa
gagal bertengkar


__ADS_3

" Mas Bima keren mbak." Puji Riski, berbisik pada Lisa sambil berjalan di iringi kawalan para pria bertubuh tegap dan gagah.


" Keren apanya!" Sebal Lisa, cemberut karena pekerjaannya belum terpenuhi sama sekali. Dan itu semua ulah suaminya.


" Keren mbak, nyewa pengawal buat jaga mbak Lisa dari kejauhan." Ucap Riski. kagum dengan perlakuan Bima pada Lisa, untuk menjaga serta mengawal istrinya kemana pun dia pergi tanpa harus merasa risih di kawal dekat.


Pengawalan yang sempurna dan cepat bergerak, menjaga dan melindungi Lisa dari orang yang akan menyerang istri Tuannya.


Ya, Lisa dan Nyonya Winda hampir saja akan bertengkar di keramaian banyak orang yang melihat percecokan di antara mereka. Jika saja salah satu pengawal Bima tidak bertindak dengan cepat mencengkram tangan Nyonya Winda, mungkin istri Tuannya akan terkena serangan terlebih dulu.


Lisa yang akan menyerang pun di hadang oleh pengawalnya yang setengah menundukkan kepala kepadanya. Dan memerintahkan untuk pergi dari hadapan wanita tua meronta-ronta untuk minta di lepaskan.


Lisa bersikukuh tidak mau pergi sebelum berhasil menampar atau mencakar wanita tua yang sombong angkuh dan suka menghina orang. Terutama pernah menghina suaminya, ia sangat marah dan benci itu. Dan rasa ingin membalas dendam pada wanita tua itu.


Sayanv seribu sayang, balas dendam Lisa tidak akan tersampaikan karena pengawal dari suaminya melarang dan menghadangnya agar tidak berbuat kekerasan yang pastinya akan menimbulkan kerugian pada istri Tuannya sendiri.


Lisa hanya bisa mengendus kesal, menghentakkan kaki dan juga melototkan mata pada lawannya yang menatapnya dengan marah.


" Aku benci sama suamiku sendiri." Gerutu Lisa.


" Kenapa benci mbak!" Tanya Riski, mengerutkan keningnya. Berhenti di depan lift yang terbuka dan melangkah bersama dengan Lisa yang masih di kawal ketat oleh pengawam suaminya.


" Gara-gara dia aku enggak bisa cakar tu bibir mak lampir." Ucap Lisa, masih tidak terima karena pengawal Bima melerainya dan memerintahkannya untuk ikut melangkah pergi dari wanita tua yang menyebalkan dan masih di pegang kuat oleh pengawal Bima lainnya.


" Itu bukannya dulu ibu-ibu yang ada di pesta dan membuat mas Bima di permalukan ya mbak." Tanya Riski sekilas melihat Lisa sedang adu mulut dengan wanita tua. dan mengingat wajah wanita tua di layar tv bagaimana sikap arogan dan juga sombongnya berhadapan dengan Bima yang tegas serta tenang tapi menyeramkan.


" Iya! Calon mantan mertua yang gak jadi. di kira Bima cowok yang gak punya apa-apa." Jawab Lisa ketus.


" Bapak! Lain kali jangan pernah melerai saya bertengkar. Kalau bapak-bapak ini enggak mau saya potong gaji atau pecat." Ucap Lisa, masih jengkel dan marah pada para pengawal Bima. yang menggagalkannya balas dendam pada Nyonya Winda.


Main potong gaji, main pecat saja! dirinya saja tidak pernah mempekerjakan para orang yang menjaganya dari kejauhan.


Para pengawal sekitar empat orang di dalam lift patuh menganggukkan kepala serempak.

__ADS_1


" Mbak Lisa sensi banget dari tadi." Kata Riski, memperhatikan Lisa dari ke gudang sampai jalan ke mall, mood Lisa selalu berubah-ubah. Tapi yang jelas Lisa hari ini sangat galak, melebihi ibu-ibu mengomeli suaminya ronda sampai malam.


" Hhmm, iya kah." Ucap Lisa, mengerutkan kening menatap Riski. Dan memang sedari pagi hingga menjelang sore ia lebih sensitif dan galak pada semua orang.


" Ini nich, ciri-ciri mau datang bulan." Timpal Riski.


" Sok tau." Ketus Lisa, memukul lengan Riski. mendengar ucapan Riski dirinya teringat jika belum datang bulan selama dua bulan ini dan mata melebar serta senyum memikirkan sesuatu dalam isi kepalanya.


" Pak! Jangan bilang sama suami saya soal tadi. Kalau sampai suami saya tau, saya botakin rambut bapak." Ancam Lisa pada pengawal, berdiri di samping pintu mobil yang sudah bukakan oleh sopir pribadi Bima.


Pengawal Lisa hanya mengangguk dan sedikut tersenyum tanpa mau menjawabnya.


" Kamu mau kemana Ki?" Tanya Lisa, kala Riski masih berdiri di samping pengawal Bima.


" Pulang mbak! Mau kemana lagi." Jawab Riski.


" Ya sudah masuk, ngapain di situ."


" Terus mobil mbak Lisa."


" Ya sudah ayo." Kata Lisa kala dirinya akan melangkah pergi meninggalkan pintu mobil yang terbuka.


" Maaf Nona? Sebaiknya Nona masuk ke dalam mobil Tuan. Biar mobil Nona di bawa Mas Riski. " Ucap Pengawal pribadi Lisa.


" Saya enggak mau. Berangkat sama Riski, pulang ya, sama Riski dong pak!" Tolak Lisa.


" Mas Riski, tolong masuk ke dalam mobil sama Nona Lisa. dan tolong berikan kunci mobilnya." Pinta pengawal, tidak ingin berdebat dengan istri Tuannya.


Riski bergantian pada Lisa dan juga pengawal Bima. Dirinya hanya menghembuskan nafas berat, menambil kunci mobil di dalam saku celana dan memberikannya pada pengawal karena tak ingin mencari masalah. Akhirnya Riski ikut pulang bersama Lisa di mobil milik Bima.


****


Duduk termenung di teras rumah, menikmati sorenya ingin sepoi-sepoi di kampung halamannya. Sambil melihat anak desa bermain gobak sodor di jalan kampung.

__ADS_1


" Lagi mikirin apa San?" Tegur Bapak, ikut nimbrung di samping putrinya.


" Enggak lagi mikirin apa-apa pak? Cuma lihat itu saja." Jawab Santi, sambil menunjuk pakai dagunya ke ke arah anak-anak kampung main dengan sangat gembira.


Dulu masa kecil Santi sama seperti mereka, bermain bersama teman, menikmati masa kecilnya dengan senang, penuh canda tawa tanpa beban mengeluh hidup yang sederhana.


Tapi sekarang, semakin tumbuhnya usia, semakin besarnya tuntutan hidup perkembangan untuk maju. Hidup yang dulu tak pernah membuatnya pusing, kini semakin besar semakin rumit.


Keluarga yang selalu mendapatkan hinaan dan juga selalu banyak tetangga yang membeicakan keluarganya, hanya karena keluarganya tertinggal dari para tetangga yang hidupnya terlebih dulu menjadi makmur dan juga sukses lantaran merantau bekerja jauh dari kota atau ke luar negeri.


Tidak ingin keluarganya di hina terus menerus, tekat bulat merantau jauh demi mengubah nasib lebih baik, sedikit membuat Santi sukses dan bisa menjujung keluarganya di kampung untuk tidak di hina lagi.


Lihatlah, orang yang dulu menghina keluarga Santi. Satu persatu para tetangga menjilat ludahnya sendiri, saudara jauh mulai mendekat, tetangga yang menghinanya dulu mulai memujinya. Dan yang paling menyebalkan, tanpa malu seorang ibu yang dulu marah dan menghinanya di depan umum hanya karna jalan dengan putranya, kini datang ke rumahnya ingin melamar dirinya untuk putra.


Menjijikkan.


" Bapak akan menolak lamaran dari keluarga itu Nak?" Ucap Bapak Santi, orang tua mana yang akan terima anaknya di hina dan di perlakukan di hadapan orang banyak.


" Makasih pak, makasih sudah mengertikan Santi." Ucap Santi, terharu bapaknya mengertikan dirinya dan juga mengertikan perasaannya yang tidak mau menikah dengan mantan pacarnya.


" Jangan terlalu di pikirkan. Sudah sore, putri bapak harus mandi biar tambah cantik." Perintah Bapak Santi, membuat Santi tersenyum dan mengangguk.


Orang tua yang tak akan pernah lelah mencurahkan lasih sayang dan perhatian pada anak-anaknya.


Santi masuk ke dalam kamar, mengambil baju ganti sebelum dirinya ke kamar mandi dan mendengar suara notif pesan masuk dari ponselnya.


" Hay, lagi di mana? Saya boleh main ke rumah kamu." Tulis pesan dari Max, membuat dirinya sedikit tersenyum dan mulai mengetik balasan pesan untuk Max.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2