Nona Lisa

Nona Lisa
SAH.


__ADS_3

...Kenyataannya memang seperti ini. Dan ini bukan hanya mimpi biasa....


.


.


.


.


" Ini rumahnya?" Ucap Max, pada Santi yang duduk di sampingnya dengan keadaan masih terluka dan terlihat wajahnya menahan sakit.


" Iya?" Jawabnya mengangguk, menaruh ponselnya ke dalam tas dan melihat ke arah belakang.


" Ayo ki?" Ujar Santi dan di anggukkannya. " Terima ka-,"


" Saya juga akan turun." Sahut cepat Max, membuat Santi tidak lagi beragumen. Mungkin karena sudah lelah atau karena pria di sampingnya ini memang ingin bertanggung jawab dengan keadannya dan juga Riski.


Riski turun terlebih dulu, berjalan terlatih dan sangat pelan. Menahan rasa sakit yang sulit untuk berjalan. begitupun dengan Santi, saat ia akan berjalan Max menyentuh lengannya dan pinggangnya. membuat dirinya mendongak dan menatapnya.


" Jalannya pelan-pelan saja." Lirih Max, membuat Santi mengangguk dan membiarkan Max membantunya untuk berjalan. Toh! sebenarnya dirinya juga sudah tidak kuat berjalan. Kakinya juga sangat sakit akibat lututnya mencium aspal hingga memutih, terlihat jelas dagingnya.


" Pak Max?" Sapa Asisten Bima, Lukas. Membuat tiga orang di hadapan Lukas mendongakkan kepala menatapnya. Santi dan Riski mengerutkan kening saat pria berpakaian jas menyapa seorang pria yang menabraknya.


" Mereka siapa Pak?" Tanya Lukas, memperhatian wanita ada di rengkuhan Max dengan keadaan luka-luka.


" Kamu mengenalnya?" Tanya Santi pada Max.


" Iya." hanya, ber o riah dan mengangguk mengerti.


" Maaf pak, Saya mau bertemu dengan Mbak Lisa." Ujar Santi. " Saya ke sini di suruh sama mbak Lisa." Imbuhnya lagi, dan kini giliran Max mengerutkan kening menatap Santi.


" Apa Anda Mbak Santi dan Mas Riski." Tanya Lukas.


" Iya Pak."


" Silahkan masuk mbak." Lukas memberikan jalan pada Santi, membuat Santi mengangguk dan berjalan bersama dengan Max yang membantunya. Dan Riski di bantu oleh Lukas yang terlihat sangat susah berjalan.


" Riski?" Sapa Bima, melihat Riski di papah oleh asistennya dan duduk di ruang tamu dengan keadaan luka di seluruh tubuh. Dan bergantian menatap Santi yang juga di bantu jalan oleh Max.

__ADS_1


" Kalian kenapa!" Tanyanya lagi. " Lukas, panggil dokter." Perintahnya, Lukas hanya mengangguk merogoh saku, mengambil ponsel dan menghubungi dokter pribadi Bima.


" Kecelakaan Mas." Jawab Riski.


" Kenapa bisa!"


" Ya bisa, Namanya juga musibah." Jawab enteng Riski. Max, Kevin dan Angga yang mendengar hanya bisa tercengang. bocah remaja di hadapan Bima ini memang tidak ada takut-takutnya sama sekali dan seperti dia sudah mengenal Bima.


" Saya tau musibah! Tapi kenapa sampai bisa begini." Kata Bima, menghadapi bocah ingusan kesayangan Lisa sungguh membuat dirinya harus extra sabar. Dirinya tau Lisa begitu dekat dan sudah menganggap Riski sebagai adiknya.


" Riski, mbak Santi!" Panggil Lisa, dan terkejut melihat keadaan mereka yang mengenaskan.


" Mbak!! Sakit!!" Rengek Riski, yang tadi terlihat baik-baik saja, kini sekarang berubah menjadi remaja cengeng di hadapan Lisa.


Semua yang melihat Riski, mengerutkan Alis dan memicingkan mata.


Manja! Begitulah pikiran mereka.


" Ya Tuhan.. Kenapa kalian bisa sampai begini!" Pekik Lisa, menghampiri Riski dan Santi. Terasa Linu saat melihat luka Santi dan luka Riski yang sangat parah serta banyak.


" Aku sudah memanggilkan dokter." Kata Bima. Sedikit lega Bima cepat memanggil dokter, tapi masih terasa sedikit takut dan nyeri sendiri melihat luka dua karyawan yang sudah di anggap saudara.


Seluruh tubuh Riski hampir semuanya terluka. Kaki kanan yang memakai celana panjang sobek begitu besar, tangan sebelah kanan pun luka begitu parah.


" Kamu kenapa bisa sampai luka seperti ini sih Ki!" Cicit Lisa, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


" Jangan nangis, nanti riasannya luntur!" Ujar Riski, membuat Lisa mencibir dan akan menabok punggung Riski.


" Jangan! Sakit mbak!!" Teriak Riski, hingga Lisa mengurungkannya.


" Riski ngebut mbak, motong jalan gak nyalain lampu sen." Adu Santi, sebenarnya ingin marah dengan Riski. Tapi karena melihat Riski luka lebih parah dari dirinya akhirnya ia urungkan. Yang penting dirinya dan Riski selamat serta tidak berbaring di rumah sakit.


" Ini bocah bener-bener ya! Sudah mbak bilang kan ja,-"


" Jangan Ngebut!" Saut Riski cepat. " Maunya enggak ngebut! Tapi aku takut ketinggalan." Tambahnya lagi, menatap lekat Lisa yang di sampingnya ini sangat cantik.


" Aku pengen lihat mbak aku ini mau nikah! Nikah dadakan dan ngasih kabar pun dadakan. Belum dua puluh empat jam kita bertemu mbak sudah mau nikah saja!!" Protes Riski, dimana siang masih bertemu dengan Lisa dan Bima. Melihat mereka di dalam ruangan dan melihat Bima nyosor seperti bebek.


Dan sore menjelang petang, Lisa memberi kabar jika dia akan menikah. Menyuruh Riski dan Santi untuk datang ke alamat yang sudah di kirim olehnya lewat pesan chat.

__ADS_1


Bagaimana Riski tidak terkejut, bingung dan juga menerka-nerka otaknya. Tidak ada persiapan, tidak ada pesta dan tidak ada acara lamar melamar. Dan Lisa akan menikah dini hari.


" Pasti ini di paksa kan sama Mas Bima!" Tuduh Riski, Bima yang mendengarnya pun hanya tersenyum kecil. Bocah ingusan itu selalu berprasangka buruk saja dengannya. Walaupun sebenarnya Bima tau Riski tidak pernah meragukannya dan mempercayainya.


" Maaf Tuan, penghulunya sudah datang." Sela Lukas, membuat semua orang menatap ke arah penghulu yang datang.


" Jadi nikah mbak." Lirih Riski, membuat Lisa mengangguk dan tersenyum. Menyentuh tangan Lisa, ikut tersenyum hangat dan memeluk wanita yang sudah di anggap kakaknya selama ini. Santi pun juga ikut memeluknya, melupakan rasa sakit di sekujur tubuh karena bahagia melihat Lisa akan di persunting pria baik, selalu di puja dan di harapkan mendiang ibu Lisa dulu.


*****


Jika ada yang bilang, ijab kabul tidak akan lengkap dengan adanya ke dua orang tua. dirinya akan bilang IYA. memang tidak lengkap dan tidak akan sebahagia adanya orang tua yang melahirkan dan merawat kita.


Kenapa begitu.


Karena ucapan sakral itu adalah hal yang sangat bahagia, terharu dan sedikit emosional untuknya dan ke dua orang tuanya.


Ibu yang mengandung, melahirkan dan merawat putrinya dari kecil hingga dewasa. Kini di ambil oleh pria yang mencintai anaknya dan akan membawanya pergi dari rumah.


Ayah yang memberi kasih sayang, memberi materi dan melindungi putrinya hingga dewasa. Kini menjadi saksi, menyerahkan suka rela pada pria yang memberikan cinta dan sayang seperti dirinya.


Tidak ada wali orang tua perempuan yang menuntun ucap kata, berjabat tangan dan menyerahkan putrinya pada pria yang mempersunting anaknya.


Bisa bayangkan, bagaimana perasaan mu sekarang. Jika berada di posisi Lisa.


Sedih!


Pasti. Tapi apa yang bisa di perbuat. Ingin menghidupkan kembali orang tuanya, tidak bisa. Ingin membatalkan nikah, tidak akan. Yang hanya bisa dirinya lakukan saat ini adalah berdoa, meminta restu pada Tuhan dan kedua orang tuanya kelalui hatinya yang paling dalam.


SAH!


Setetes air mata jatuh, membasahi pipinya. mendengar lantang tegas saat Bima mengucap namanya beserta mendiang ayah dalam satu tarikan nafas. Dan terucap satu kata SAH, dimana kini air matanya semakin mengalir.


" Tuhan, kau memberikanku ujian yang begitu berat dan kau membalas dengan kebahagian ujian yang sudah ku lewati dengan iklhas. Tuhan, tolong sampaikan kepada ke dua orang tuaku. Saat ini putrinya sudah menikah, menikah dengan pilihan ibu. Yang sudah berjanji untuk menjaga dan melindungi putrinya. Tolong sampaikan terima kasihku pada ke dua orang tuaku Tuhan, yang sudah merawat dan menjagaku. Tidak perlu lagi mereka mengkhawatirkanku, karna sekarang suamiku akan melindungi dan menyayangiku. Terima kasih Dan aku mulai bahagia. Ibu, Bapak."


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2