Nona Lisa

Nona Lisa
tak percaya.


__ADS_3

...Kagumku ketika ada pria yang menghormati wanita. ...


.


.


.


.


Sudah berapa jam Santi tertidur pulas dan merasakan nyenyak sekali tidurnya hari ini. Mungkin karena lelah atau juga karena pengaruh obat yang bisa membuatnya tertidur pulas. tanpa mengeluh rasa sakit sat terbangun dari tidurnya.


Mengerjabkan mata berkali-kali dan menggeliat untuk merenggangkan otot. Ini tidur yang paling nyenyak dalam satu hari satu malam. Kala tubuh merasakan sakit semua karna luka yang belum mengering.


" Kanapa lampu kamarku menyala?" Gumam Santi, menyadari jika lampu kamarnya menyala. Tidak mau ambil pusing, mungkin dirinya saja lupa sebelum tidur menyalakan lampu.


" Aku ingin mandi, tapi gimana cara membuka ini baju." Merasa tubuhnya sangat lengket berkeringat dan bau sedikit tak sedap karna satu hari satu malam dirinya tidak membasuh tubuhnya sama sekali. Dan masih memakai dres punya Mawar.


Seharusnya ia menerima tawaran Lisa untuk menginap di rumahnya. Dan di rawat oleh buk Jum. Agar dirinya tidak perlu seperti sekarang, menyusahkan diri sendiri.


Bodoh.


Tangan kanan yang sulit sekali untuk di gerakkan ke atas. Perlahan mencoba bergerak ke atas meraih resleting di punggung.


" Aaaww!!" Ringis Santi, dan sudut air mata meluncur begitu saja di pipinya. " Sakit Tuhan.. hikss." Rintihnya, kembali meluruskan tangannya. Dan sedikit terkejut saat pintu kamar terbuka.


" Kenapa?" Ucap Max, yang masih setia di rumah Santi dan tidak sengaja mendengar rintihan wanita itu saat dirinya baru selesai dari kamar mandi, untuk menyegarkan tubuhnya.


" Kamu?" Pekik Santi, Melihat Max ada di balik pintu kamarnya dan dia masih setia di rumahnya. Dan penampilannya sangatlah segar, mungkin pria ini menumpng mandi di rumahnya.


Menyebalkan.


" Kenapa?" Tanya Max lagi, menghampiri Santi yang masih duduk di atas kasur lantai. Dengan mata berkaca-kaca.


" Tidak apa-apa?" Jawab Santi, mencoba untuk berdiri menahan perih luka tangan yang di perban.


Max yang melihat segera membantu, tidak mempedulikan jika Santi nanti marah.


" Darah?" Lirih Max, melihat darah mengalir di tangan Santi.


" Sudah aku bilang, jangan terlalu bergerak. Kamu bisa kan memanggil saya." Cicitnya.


" Eehhm, Sakit." Lirih Santi kala Max mencoba memegang tangannya dan melihat luka di sikutnya. Max mengambil tissue di atas lemari plastik dan membersihkan dasar sedikit mengalir di tangan Santi.


" Kamu ngapain saja, sampai luka kamu berdarah lagi." Tanya Max, ada raut sedikit khawatir dan kasihan dengan wanita di depannya ini yang mencoba untuk tidak menyusahkan orang.


" A-ku." Sempat ragu untuk menjawab.

__ADS_1


" Apa?" Kata Max, menaikkan alis sebelah menunggu wanita ini menjawab.


" Aku.. ingin membuka baju, dua hari aku belum mandi." Ucapnya begitu cepat, sambil melangkah mundur dan menundukkan kepala merasa malu saat mengucap.


Max yang mendengar sedikit melebarkan mata, menatap lama wanita yang menundukkan kepala dan sedikit menjauh darinya.


" Ka kamu mau mandi." Tanya Max, sungguh terasa tanggung di antara mereka berdua. yang malu untuk mengucap dan mendengar.


" Iya." Lirih Santi, tanpa mau melihat Max.


Menghembuskan nafas berat, sama-sama bingung harus berbuat apa.


" Kamu tunggu di sini, dan jangan melakukan apapun." Tegas Max, keluar kamar Santi dan berjalan ke luar rumah.


" Jangan melakukan apapun." Gumam Santi. " Terus aku harus bagaimana." Imbuhnya lagi, tapi menurut dengan perkataan Max, berjalan keluar kamar dan duduk di kursi plastik untuk menunggu Max, yang ternyata pria itu tidak ada di ruang tamunya. Dan entah dia pergi.


Tidak berselang lama, Max masuk ke dalam rumah bersama dengan tetangga sebelah kontrakannya.


" Mbak Santi?" Sapa ramah tetangga sebelah dan sedikit terkejut melihat keadaan Santi.


" Mbak Santi kenapa kok bisa sampai bisa seperti ini?" Tanyanya lagi.


" jatuh dari motor buk ijah." Jawab Santi, sedikit tersenyum. Dan tidak tau apa maksud Max membawa tetangganya ke rumahnya.


" Tolong bantu tunangan saya membersihkan badannya Buk." Ucap Max, membuat Santi melototkan mata mendengar ucapan Max, mengaku sebagai tunangannya.


Masuk ke dalam kamar, membawa satu botol air minum yang telah di isinya di dapur. Kebiasan Lisa kala menjelang tidur malam, karna dirinya sering kali merasa haus di tengah malam.


Melihat Bima duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponsel. Dan satu dalam pikirannya, Tampan! Dimana sangat jelas suaminya terlihat tampan, memakai kaos polos berwarna putih.


Membayangkan tubuh Bima yang tidak memakai baju, Pikiran liar Lisa sudah mulai merasuki otak mesumnya.


Mendengar pintu terbuka dan istrinya yang masih setia diam di depan pintu sambil membawa botol air minum di tangannya. Membuat Bima tertawa kecil melihat kelakuan istrinya.


" Sini?" tegur Bima, dan membuat Lisa tersadar dari pikiran mesumnya.


Memalukan.


Menetralkan detak jantung, meneguk saliva dan berjalan sebiasa mungkin untuk mengurangi kegugupan.


" Kamu belum tidur?" Tanya Lisa, menaruh air minum di atas laci dan mulai duduk di samping Bima yang sudah menggeserkan tubuhnya.


" Habis ini? Sudah selesai ngobrolnya." Tanya Bima, sudah pasti mengerti jika para Art Lisa mengajaknya mengobrol di dapur karna istrinya sangat lama sekali kembali ke kamar.


Menunggu.


Cih.. Yang benar saja.

__ADS_1


" Hhmm, sudah." Malu Lisa untuk menjawab. Mulai merebahkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi badan. Rasa gugup, untuk pertama kali tidur bersama seorang pria.


Jika di waktu malam pertama terlewatkan karna Lisa tertidur terlebih dulu dan Bima yang tidak kunjung masuk ke dalam kamar. Membuat dirinya tidak gugup, tenang dan nyaman untuk tidur.


Tapi, malam ini.


Malam ini rasanya seperti canggung, sulit untuk mengobrol dan sulit untuk menutup mata. Jantung merasa tidak aman, berdetak begitu cepat seperti ingin keluar dari tubuh. Dan Rasanya ingin sekali menghilang malam ini juga


Sungguh.


Dirinya tidak berbohong.


Ini seperti bukan dirinya yang selalu bertemu dengan Bima, jantung merasa baik-baik saja dan tidak malu seperti malam ini.


Entah, ada apa dengannya malam ini.


Bima, menaruh ponsel di atas laci dan juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Lisa. Dan memiringkan badan menatap Lisa yang tidur terlentang menatap atap kamar.


" Malu?" Ucap Bima, sukses membuat pipi Lisa merah, bibir menahan senyum dan tawa.


Melirik sekilas dan kembali mengulum bibirnya. Jantungnya benar-benar sudah tidak aman. Apa lagi suaminya menatapnya begitu intens.


" Kenapa segugup ini sih!!" Gerutu Lisa dalam hati. Mencoba memejamkan mata mengurangi rasa gugupnya. Dan benda berat berada di atas perut Lisa.


Deg.


Menegang, saat merasakan tangan menyentuh pinggangnya. Dan memutar badannya untuk mengahadap ke arahnya.


" Selamat malam, sayang." Ucap Bima, membenarkan anak rambut Lisa dan mengusap pipi istrinya dengan lembut.


Membuka mata perlahan, menatap hangatnya mata Bima dan senyuman yang menenangkan.


" Dia enggak melakukannya." Ucapnya dalam hati, ada rasa sedikit kecewa dan juga berharap Bima melakukannya malam ini.


Tapi pria ini, justru tidak memulainya atau tidak melakukan apa-apa terhadapnya.


" Selamat malam." Ucap Lisa balik, dan sedikit tersenyum. Dan memejamkan mata tanpa peduli pada Bima yang menatapnya lama.


.


.


.


.πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Ciye!! Yang berharap ada unboxingπŸ˜„πŸ˜„

__ADS_1


__ADS_2