
...Takut, tentu! Tapi jodoh tidak akan kemana. Yakinlah....
.
.
.
.
Tok tok tok.
" Masuk." Suara dari dalam, tanpa mempedulikan siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
" Apa saya mengganggu." Ucap pria dewasa dari ambang pintu, membuat pria lebih tua di dalam ruangan itu seketika mendongakkan kepala menatap sumber suara, hingga sedikit terkejut saat melihatnya.
" Pak Bima?" Sapa ramah pria muda itu, berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Bima untuk menghampirinya.
" Silahkan duduk pak?" Ucap Fahmi, sedikit menunduk sopan pada atasannya. " Maaf saya tidak tau jika bapak akan ke ruangan saya." Imbuh Fahmi.
" Tidak apa-apa, saya tau kamu pasti sibuk." Ucap Bima, mulai duduk di sofa tunggal ruangan Fahmi yang tidak terlalu besar. Di ikuti Fahmi yang juga ikut duduk di sampingnya.
" Bagaimana, Apa ada kesulitan." Tanya Bima.
" Tidak Pak Bima, Ada Sekertaris fitri yang membantu saya." Jawab Fahmi, membuat Bima menganggukkan kepala.
Memang Fahmi tidak mengalami kesulitan bekerja di hari pertama. Karna Bima menyuruh sekertaris Fitri untuk membantu serta mengajarkan Fahmi dalam bidang pekerjaannya yang baru.
Bukan hal yang sulit bagi Fahmi, karna dirinya juga bisa cepat mengerti dalam pekerjaannya. dan tidak ingin mencoreng nama baik papanya sendiri yang sudah membanggakan dirinya di hadapan Bima. Serta memasukkannya dalam perusahaan besar dan terpopuler bagi para orang yang sedang berbondong-bondong ingin bekerja di perusahaan Bima.
" Saya tidak menyangka, kamu mengajukan sendiri pindah ke perusahaan ini." Ucap Bima, membuat Fahmi tersenyum sedikit menundukkan kepala.
Jika mengingat pertemuannya dulu dengan Bima, Bima yang akan menariknya ke perusahaan cabang utama. Tapi, Fahmi terlebih dulu mengajukan surat perpindahan kerja di cabang utama tanpa menunggu Bima yang akan menariknya.
" Saya hanya ingin mengembangkan kemampuan saya." Jawab Fahmi. " Dan saya juga ingin mandiri, tidak ingin bergantung orang tua terus Pak." Imbuhnya.
" Hhmm, Itu memang baik. Dan saya suka dengan orang seperti kamu." Puji Bima, juga ikut tersenyum.
" Terima kasih pak." Jawab Fahmi.
" Teruskan pekerjaan kamu, semoga kamu betah bekerja di sini." Ucap Bima, Berdiri dari duduknya di ikuti Fahmi yang juga ikut berdiri dan mengangguk untuk menjawabnya.
Berjalan keluar dari ruangan Fahmi, seulas senyum tipis, saat mendengar jawaban terakhir putra pak Yoga.
Bukan jawaban yang sesungguhnya, Jawaban untuk mengelak dalam kebenaran dan tak mau memberitahukannya, apa tujuannya yang sebenarnya.
Menarik.
__ADS_1
Hanya waktu yang akan menjawab semuanya, dan kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, tanpa harus dirinya ikut campur.
Takut akan bersaing, takut akan dia berpaling. Tidak, tidak sama sekali. karna sejatinya, Jodoh tidak akan pernah tertukar, dan akan tetap berada pada pemilik hatinya.
Tidak ingin egois, biarkan semua berjalan dengan seiringnya waktu, dan akan berhenti entah dimana nantinya.
Hanya Tuhan yang tahu.
Membalas senyuman serta anggukan cekil pada karyawan yang menyapanya, saat dirinya berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya.
Karna sudah cukup dirinya tau jawaban dari Fahmi. Dan tidak perlu lama untuk berbasa-basi, karna waktu adalah uang.
Fahmi, kembali ke tempat duduk kerjanya. Menghembuskan nafas berat serta mencoba menetralkan isi kepala sedang panas, saat menjawab hal yang ingin sekali ia katakan dengan jujur. Tapi masih ragu untuk mengungkapkannya.
Rasanya ingin sekali Fahmi bertanya dan bilang pada Bima, untuk tidak mendekati Lisa. Tapi bibir ini rasanya berat untuk mengucap, secara dia adalah atasannya dan pastinya akan mempengaruhi pekerjaannya.
Bukankah begitu seorang bos.
Menghembuskan nafas beratnya, dan memilih kembali fokus pada pekerjaan. Saat dirinya tak ingin ada orang yang akan bilang kurang profesional dalam bekerja.
****
Memilih pulang sedikit malam, mengurangi kejenuhannya di rumah, tanpa adanya pria yang tidak menjemputnya pulang kerja. Karna Bima masih bekerja hingga malam.
Pulang bersama dengan Santi, dan di antar Riski yang sedang mengemudi. Melihat jalanan malam masih padat dengan pengendara.
Apa dia sudah makan.
Pikirannya pun fokus dengan Bima, hingga mobil sudah berhenti di halaman rumah.
" Ada tamu mbak?" Tanya Riski, membuat Lisa tersadar dari lamunannya. Dan menatap Riski serta berganti arah melihat mobil terparkir di depannya.
" Siapa?" Gumam Lisa, melihat mobil yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan mulai turun dari mobil, hingga pak Yanto mendatanginya.
" Ada tamu mbak Lisa?" Ucap Pak Yanto.
" Siapa pak?"
" Katanya teman mbak Lisa?" Jawab pak Yanto, membuat Lisa mengerutkan kening.
Bukan sombong, hanya saja dirinya tidak pernah keluar dan merasakan pertemanan dengan sebayanya. itu lantaran dulu Lisa lebih memilih merawat dan fokus dengan kesembuhan ibunya. Bekerja, bekerja dan merawat sang ibu.
Berjalan masuk ke dalam rumah, bersama dengan Riski dan Santi yang berada di belakang.
" Mbak Lisa?" Sapa buk Imah, membuat orang itu menoleh ke samping dan tersenyum saat menatap Lisa.
Berdiri dari duduknya, dengan senyum mengembang saat dirinya di tatap oleh Lisa.
__ADS_1
" Fahmi." Lirih Lisa, terkejut dengan siapa tamunya.
Ya, Fahmi datang ke rumah Lisa tanpa mengabarinya. Pulang dari kerja ia memutuskan untuk langsung mencari alamat rumah Lisa.
Bertanya pada penjaga rumah, saat Fahmi tidak yakin dengan alamat rumah Lisa yang di kirim oleh Mawar. Dan sedikit terkejut saat penjaga itu membenarkan ucapannya, jika itu memang benar rumah Lisa.
Rumah yang besar dan megah. Rumah yang luas dan elit. Sungguh perubahan Lisa sangat maju. Dimana dia sudah menjadi wanita sukses dan kaya, serta bisa hidup mandiri. Dan membuktikan jika dirinya bisa.
" Hay Lis." Sapa Fahmi, membuat Lisa mengerjabkan mata dan tersenyum membalasnya.
" Kamu tau alamat rumahku?"
" Aku meminta alamat rumah kamu sama Mawar." Jawab Fahmi.
"Oh!!" Sambil mengganggukkan kepala. "Duduk Fahm." Ajak Lisa, membuat Fahmi mengangguk dan duduk. Sedangkan, buk Imah, Riski dan Santi memilih pergi ke dalam rumah. Tidak ingin mengganggu Lisa yang sedang ada tamu.
" Siapa iti cowok." Tanya Riski.
" Kelihatannya teman mbak Lisa di kampungnya." Jawab Santi, saat mengingat wajah pria yang tidak asing dan teringat jika itu teman Lisa yang sudah beberapa kali datang ke rumah bosnya.
" Tau mbak!" Ucap Riski, memicingkan mata menatap Santi.
" Iya, sudah sering itu cowok datang ke rumah mbak Lisa dulu." Jawab Santi, membuat Riski mengangguk-anggukkan kepala dan meneguk minuman di meja makan dapur.
" Kenapa pulang ke kota enggak bilang sama aku." Ucap Fahmi.
" Maaf, waktu itu aku pulang mendadak jadi gak bisa ngabari kamu." Jawab Lisa.
Memang sedikit mendadak dirinya pulang, kala Bima memintanya untuk ikut pulang bersamanya. Dan untuk masalah tidak mengabari Fahmi, memang dirinya tidak fokus dan malas memegang ponselnya.
" Kamu ke sini sama siapa." Tanya Lisa.
" Sendiri." Jawab Fahmi. " Aku sekarang tinggal di kota ini."
" Iya!"
" Iya, baru beberapa hari."
" Pekerjaan kamu!"
" Mengajukan pindahan kerja, dan diterima." Jawab Fahmi tersenyum, membuat Lisa menganggukkan kepala serta ikut tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃