
Nafas Crystal kembang kempis, seperti habis lari maraton karena gelombang kenikmatan yang menghantam dirinya begitu dahsyat, hingga membuat tubuhnya terasa lemas tidak berdaya.
"Aku lelah," rengek Crystal, sembari tubuh suaminya yang masih mengungkungnya.
CUP
CUP
Ryan mengecup bibir dan kening istri bergantian, dengan penuh cinta. "Istirahatlah," ucap Ryan, lalu mencabut menyatuannya dan menggulingkan badannya ke samping istrinya.
"Enak, saja! Kamu belum menjawab pertanyaanku!" sungut Crystal, mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Ryan, sembari menarik selimut tebal yang ada di sana, untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Yang masalah, Kendro dan Jeff," terang Crystal, memiringkan tubuhnya, menatap suaminya dengan kesal.
"Aku lupa," ucap Ryan, salah satu tangannya meremat buah pir yang ada di depan matanya itu.
"Ryan!!!!" kesal Crystal, lalu memukul tangan suaminya.
"Nanti saja ceritanya, aku belum puas menyusu," jawab Ryan, lalu menundukkan kepalanya tepat di depan dada istrinya.
HAP
__ADS_1
Ryan langsung menyedot sari buah pir itu seperti bayi yang kehausan.
"Sayang, please, kenapa kamu jadi manja begini sih?" tanya Crystal, menjauhkan tubuhnya akan tetapi salah satu tangan Ryan menahan punggungnya.
"Aku hanya menikmati milikmu ini, karena sebentar lagi aku 'kan harus berpuasa lama," jawab Ryan, tidak begitu jelas karena mulutnya masih tersumpal pucuk buah pir istrinya.
"Alasan! Bilang saja kamu tidak ingin menjelaskan masalah Jeff dan Kendro! Aww!! Kenapa di gigit!" pekik Crystal, dan tangannya reflek memukul punggung suaminya dengan kuat.
PLUK
Ryan melepaskan benda itu dari mulutnya, kemudian ia mengusap bibirnya yang basah dengan telapak tangannya.
"Aku sebenarnya memang malas menjelaskannya, karena terlalu rumit dan jika di ingat akan membuatku sangat marah, biarkanlah ini semua berlalu apa adanya, agar tidak ada dendam lagi. Aku juga mencoba memaafkan kesalahan Jeff dan Kendro. Kesalahan mereka sangat fatal, akan tetapi setiap orang punya hak untuk saling memaafkan dan di maafkan. Dan setiap orang pernah melakukan kesalahan bukan? Jadi biarkanlah mengalir apa adanya." jelas Ryan, lalu memeluk istrinya dengan mesra.
"Istriku bijak sekali," puji Ryan, lalu mengecupi seluruh wajah istrinya dengan penuh cinta.
"Ya, dong. Istrinya Aaron Ryan harus cerdas," ucap Crystal tergelak, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
*
*
*
__ADS_1
Di sisi lain, Safira sedang menatap Ayahnya dengan perasaan bersalahnya.
"Kenapa kamu menemuinya lagi?!" tanya Devan, yang duduk di kursi ruang pribadinya.
"Maaf, Pi," ucap Safira dengan lirih.
"Kamu melanggar janjimu, Fir!"
"Pi, aku hanya menemuinya sebentar saja hanya untuk mengurangi rasa rindu yang begitu menyakitkan di dalam hati ini!" jawab Safira, terisak perih.
"Papi sudah menepati janji Papi, jika akan membantu meringankan hukuman Jeff!" jelas Devan, membuat Safira semakin menundukkan kepalanya.
"Maaf, Pi. Maafkan Safira." Gadis itu berlutut di bawah kaki Ayahnya untuk memohon pengampunan dan air matanya terus mengalir deras membasahi pipinya.
"Fir, apa yang kamu lakukan?" Devan membantu Safira berdiri dari bawah sana, lalu memeluk putrinya dengan erat.
"Satu kali lagi, Papi mohon jangan pernah menemuinya lagi! Jangan langgar janjimu, Fir!" ucap Devan, sembari mengusap punggung putrinya berulang kali.
Emosi nggak?
Kalau enggak! Aku bikin tambah emosi lagi biar tanduk kalian pada keluar semua dan bisa menghujatku sepuasnya🤣
Jahara deh eike🤣
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote, dan kasih gift semampu kalian❤❤❤