
1 minggu kemudian
Suasana di rumah keluarga Fadaei sudah berangsur normal, tidak ada ketegangan lagi disana. Dan Safira pun sudah tinggal di rumah Kakek dan Neneknya untuk beberapa bulan kedepan.
Devan membatalkan niatnya untuk menjodohkan Safira dengan Aries. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada putrinya yang akan berujung menyakiti hati putrinya sendiri.
Sedangkan Aries hari ini akan berangkat keluar negeri untuk menjalankan tugasnya. Dan saat ini pria itu sedang barada di kediaman keluarga Fadaei untuk berpamitan.
"Hati-hati selama disana, dan tetap utamakan keselamatan, semoga di sana kamu dapat pengganti Safira," ucap Ryan, sembari menepuk bahu Aries dengan pelan.
Tidak semudah itu aku melupakan cinta pertamaku. Batin Aries, masih berharap jika takdir cintanya berpihak kepadanya.
Aries terkekeh menggapi perkataan Ryan. "Aku lebih suka produk lokal," jawab Aries, membuat Atasannya itu tersenyum tipis, karena tahu maksud dari perkataan pria yang duduk di sampingnya itu.
Ya, Ryan tahu jika melupakan orang yang masih di cintai itu tidak akan mudah.
"Ada loh produk luar tapi rasa lokal," ucap Ryan, sembari mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusannya dan menyelipkan rokok tersebut di sela bibir tebalnya yang seksih itu, kemudian ia menyulut ujung rokok itu dengan korek apinya.
"Memangnya ada?" tanya Aries dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
Ryan menghisap asap rokok tersebut dan mengeluarkannya lewat hidung. "Ada dong. Tuh!" Ryan menunjuk Istrinya yang sedang berada di ruang keluarga bersama yang lainnya.
"Bedanya apa? Bukannya Crystal itu bule, ya?" tanya Aries, belum mengerti dengan perkataan Ryan.
"Makanya buruan nikah! Crystal memang bule tapi rasanya beuhhh kayak dodol garut, legit dan menggigit," ucap Ryan tidak berfilter.
"Huh!" Aries mendengus kesal dan baru paham arah pembicaraan Atasannya itu.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Kamu iri ya?" Ryan meledek Aries yang terlihat masam.
"Untuk apa aku iri, nanti aku juga merasakannya," jawab Aries dengan ketus. Ia merasa kesal dengan Ryan yang terus mengoloknya.
Mendengar pertanyaan Devan, tentu saja membuat Aries gelagapan, sedangkan Ryan sudah ingin menyemburkan tawanya karena melihat kepolosan Aries.
"Merasakan makan dodol garut, Tuan," jawab Aries asal, sambil menendang kaki Ryan pelan.
"Dodol garut? Wah enak itu, aku juga pernah memakannya tapi bikin gigi ngilu, karena rasanya terlalu manis," ucap Devan.
Bibir Ryan sudah berkedut dan ingin tertawa terbahak, ketika mendengar ucapan Ayah mertuanya. Sedangkan Aries melotot tajam ke arah Ryan.
__ADS_1
"Menurutku dodol garutnya itu enak banget, Pi. Apalagi kalau yang original sekali makan bawaannya pengen nambah terus, habisnya legit banget sih." Ryan menimpali. Dirinya jadi membayangkan dodol istrinya yang terus membuatnya ketagihan.
"Ya, selera orang 'kan berbeda-beda," jawab Devan lagi.
Gara-gara atasan somplak ini! Kenapa jadi bahas dodol garut sih? Batin Aries, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bisa gila jika aku berlama-lama disini. Batin Aries lalu beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" tanya Ryan, ketika melihat Aries berdiri.
"Tugas Negara sudah menanti," jawab Aries sembari menunjuk jam yang melingar di pergelangan tangannya.
Ryan pun ikut beranjak dari duduknya begitu pula dengan Devan, kemudian mereka saling bersalaman dan berpelukan.
Semoga kita bisa bertemu lagi, Fir. Batin Aries, ketika keluar dari rumah tersebut.
Sudah adem lagi, jangan ada perdebatan lagi ya! Alur ceritanya sudah seperti ini dan tersusun rapi sebelum di publish dan di baca sama kalian, jadi kalau ada yang ingin dan meminta untuk merubah alur ceritanya, mohon maaf saya tidak bisa🙏❤
Senin ya senin!! Votenya mana??
__ADS_1