Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Hai hati!


__ADS_3

Devan mengurai pelukan putrinya, lalu ia menatap wajah sembab putrinya dengan penuh kesedihan. Di hapusnya air mata yang membasahi pipi putrinya dengan ibu jarinya dengan lembut.


"Papi hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap Devan dengan pelan.


"Pi, untuk saat ini Jeff memang bukanlah pria yang baik, tapi aku yakin suatu saat nanti dia akan berubah menjadi pria yang baik. Takdir tidak ada yang bisa menebak, Pi," ucap Safira, tanpa menatap Ayahnya.


Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Papi, tetap tidak setuju dengan hubungan kalian!" tegas Devan, mengeraskan rahangnya.


"Kamu belum pernah merasakan jadi orang tua! Papi sudah pernah gagal dalam mendidik Kakakmu ! Kamu tahu hal itu bukan?" jelas Devan.


"Papi hanya tidak ingin jika kamu melakukan kesalahan seperti Kakakmu. Beruntung saat itu Ryan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Apa salah, jika saat ini Papi berusaha untuk menjagamu dan melindungimu?!" tanya Devan, menatap putrinya sendu.


Safira terdiam dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ayahnya.


Sedangkan Raya yang mendengarkan pembicaraan Ayah dan Anak di luar ruangan itu menangis tersedu-sedu.


"Kenapa percintaanmu seperti ini, Nak?" gumam Raya, menyenderkan punggungnya di dinding bercat putih itu, sembari mengusap air matanya dengan kasar.


Hati ibu mana yang tidak sakit jika harus melihat putrinya patah hati, tapi semua itu demi kebaikan putrinya sendiri.


"Maafkan Mami, karena berpihak kepada Papimu," gumam Raya lagi.

__ADS_1


*


*


*


"Papi sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu," ucap Devan.


Deg


Jantung Safira berdetak dengan cepat ketika mendengar perkataan Ayahnya.


"Aries adalah pria yang tepat untukmu!" tegas Devan, tidak ingin di bantah.


"Persetan dengan kata cinta!! Keputusan Papi sudah mutlak! Dan tanggal pertunangan kalian akan segera di tentukan!!" ucap Devan lagi, tanpa ingin mendengar aksi protes putrinya.


"Papi sangat egois!! Aku benci Papi!!!!" teriak Safira dengan keras dan menatap Ayahnya dengan penuh kekecewaan.


"Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu," ucap Devan lagi, lalu segera berlalu dari hadapan putrinya.


Safira semakin terisak perih, tubuhnya merosot di atas lantai marmer yang dingin itu.

__ADS_1


Hai hati! Janganlah rapuh, janganlah kau mudah untuk terluka. Tetaplah kuat, agar aku juga kuat untuk memperjuangkan cintaku. Batin Safira, sembari mengusap cincin berlian yang masih melingkar indah di jari manisnya.


"Kenapa kamu mengambil keputusan secara sepihak!" sentak Raya kepada Devan yang baru keluar dari ruangan pribadinya.


"Ini demi kebaikan putri kita!" tegas Devan.


"Bukan demi kebaikan putri kita, tapi kamu malah menambah luka di hatinya! Bisakah kamu tidak egois?!"


"Terserah! Keputusanku sudah bulat! Apa kamu ingin Safira menunggu sesuatu hal yang tidak pasti?! 8 tahun bukan waktu yang sebentar, Raya!" jawab Devan, dengan tegas.


"Selain itu apa kamu mau mempunyai menantu mantan Narapidana? Berpikirlah secara realistis!" lanjut Devan dengan menggebu.


"Car berpikirmu itu bukan realistis tapi egois!" bentak Raya, lalu masuk ke dalam ruangan tersebut menghampiri putrinya yang masih terisak di atas lantai.


"Sudah jangan bersedih, Mami akan sedih jika melihatmu seperti ini," ucap Raya, membantu putrinya bangkit daria atas lantai itu, lalu memeluk Safira dengan erat.


"Yang kuat, Nak. Tabahkan hatimu," ucap Raya, memberi ketenangan kepada putriny.


Safira mengangguk pelan di balik pelukkannya itu. Pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Jeff.


Kita adalah sepasang mata yang sama-sama tahu, ada hal yang kita rasakan, tapi memilih untuk diam. Dan entah sampai kapan saling memperjuangkan, batin Safira.

__ADS_1


Aku tambahin level emosinya ke level 10. Kebakar deh kalian sama kelakuan Devan🤣


Hayo dukung karya emak dengan cara like, komentar, vote dan kasih gift semampu kalianā¤ā¤


__ADS_2