Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Sama-sama tersiksa


__ADS_3

Suasana taman itu tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa muda-mudi yang sedang duduk santai dan juga berolah raga sore. Safira menatap ke depan tanpa memperdulikan Aries yang duduk di sebelahnya.


"Fir, tahukah kamu, jika aku sudah berusaha untuk melupakanmu tapi aku aku tidak bisa." Aries berucap sembari menatap wajah cantik Safira dari samping.


Safira menoleh menatap Aries dengan kening yang berkerut. "Jangan mengharapkan cinta yang tidak pasti."


"Aku tahu! Maka dari itu salah satu cara untuk melupakanmu adalah menjauh darimu dan aku akan keluar dari pekerjaanku," lanjut Aries.


"Kamu ini bodoh!" umpat Safira menatap Aries tidak suka. "Kariermu sangat bagus Ries," ucap Safira, mengalihkan pandangannya dari wajah Aries.


Aries tersenyum miris. "Pekerjaanku ini adalah sebuah cita-citaku dan aku sudah berhasil menggapainya. Aku akan melanjutkan bisnis orang tuaku," jelas Aries, membuat Safira geleng-geleng kepala.


"Aku meminta maaf karena diriku, kamu harus melepas cita-citamu. Bukankah itu terlalu bodoh?" tanya Safira, melihat Aries dengan tatapan tidak percaya.


"Lebih bodoh lagi jika aku harus bertahan disini dan selalu terbayang dirimu." Ucapan Aries tedengar begitu menohok di hati Safira.


Safira terdiam sejenak dan menghela nafas panjang, ia menoleh menatap Aries. "Maafkan aku." lirih Safira.


"Kita sama-sama bodoh dan di butakan oleh cinta. Kamu begitu mencintainya, dia juga sangat mencintaimu dan aku sendiri juga sangat mencintaimu," ucap Aries, tertawa miris dengan takdir yang sedang ia jalani saat ini.

__ADS_1


"Dan kita sama-sama menderita karena cinta," lanjut Aries, menatap wajah Safira dengan lekat.


"Benar bukan?" tanya Aries, masih menatap Safira.


Safira terdiam, dia kalah telak karena yang di ucapkan Aries adalah kebenaran yang sudah tidak bisa ia tepis lagi.


"Aku permisi." Safira langsung pergi meninggalkan Aries yang masih duduk di kursi taman itu.


"Suatu saat nanti aku pasti bisa mendapatkan hatimu, Fir!" Masih berharap jika takdir berpihak kepadanya. Aries menatap punggung Safira yang semakin menjauh dari pandangannya. Dan setelah itu, ia pun pergi dari taman tersebut.


*


*


*


Safira mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya, dengan perasaan yang tidak menentu. Hatinya terasa tersentil, ketika mendengar perkataan Aries yang begitu menohok di hatinya.


Tidak berselang lama ia sampai di tempat yang ia tuju dengan selamat. Dan ia segera memasuki rumah tersebut, dengan wajah yang ia buat seceria mungkin.

__ADS_1


"Hai, tampan!" seru Safira kepada Aksa yang sedang di pangku oleh Crystal di ruang keluarga.


Di ruang keluarga itu ada Devan, Raya, dan Ryan, mereka terlihat sedang berbincang ringan sembari melihat tingkah lucu Aksa.


"Hai, tante girang!" seru Crystal balik, membuat adiknya cemberit kesal.


"Enak saja, aku di sebut tante girang!" sewot Safira, menatap kesal Kakaknya, lalu ingin mengambil alih Aksa dari gendongan Crystal.


"Cuci tangan dulu!! tante girang!!" Crystal memukul tangan adiknya yang ingin menggedong Putranya.


"Ah, iya, aku lupa," jawab Safira terkekeh, lalu berjalan menuju wastafel untuk mencuci kedua tangannya. Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah selesai mencuci dan mengeringkan tangannya, setelah itu ia kembali lagi ke ruang keluarga, namun langkahnya terhenti ketika mendengar pembicaraan Ibu dan Kakak iparnya.


"Jadi benar kalau Aries akan mengundurkan diri?" tanya Raya, kepada menantunya.


"Iya, Mami. Dia ingin melanjutkan bisnis keluarganya," jawab Ryan. Sebenarnya Ryan sangat menyayangkan keputusan Aries.


"Sayang sekali," gumam Raya dan Crystal bersamaan. Sedangkan Devan diam menyimak pembicaraan mereka.


Dan Safira yang mendengar percakapan itu, menjadi merasa bersalah kepada Aries.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalka like dan kasih dukungan sebanyak-banyaknya. Terima kasih, all❤❤😘


__ADS_2