
Pagi hari di ruang makan keluarga Fadaei.
Devan menatap tajam menantunya yang duduk santai berseberangan dengannya. Tidak hanya itu saja, Devan juga memperhatikan wajah Ryan yang terlihat berbinar dari biasanya dan rambut Ryan masih terlihat basah.
Dia semalam enak-enakan! Sedangkan aku semalaman harus menina bobokan anaknya! gerutu Devan dalam hati.
Ya, tadi malam Aksa sangat rewel dan terus menangis. Raya dan Devan menjadi bingung di buatnya, dan mereka ingin membawa Aksa ke orang tuanya, akan tetapi pada saat sampai di depan pintu kamar Crystal dan Ryan, mereka mendengar desaahan yang bersahutan, dan mereka mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar tersebut dan membawa Aksa kembali ke kamar mereka dan alhasil Devan lah yang semalaman suntuk menenangkan cucunya.
"Kenapa Papi menatap ku seperti itu?" tanya Ryan, menaikkan salah satu alisnya heran dengan ayah mertuanya yang menatapnya tajam penuh permusuhan.
"Apa kamu tidak melihat lingkaran hitam di bawah mataku?!" Devan menunjuk matanya sendiri dengan perasaan kesal.
"Lihat dong," jawab Ryan santai, sembari memakan rotinya.
Raya menatap suaminya sambil menggeleng pelan. "Yang ikhlas kalau jagain cucunya! Kayak nggak pernah muda saja!" cibir Raya, kepada suaminya.
"Sayang, kenapa kamu membelanya sih?" Devan sepertinya tidak terima dengan perkataan istrinya.
"Siapa yang membela? Memang kenyataannya begitu 'kan?" balas Raya, sembari memberikan sepirin nasi goreng kepada suaminya.
__ADS_1
"Tunggu deh, ini sebenarnya membahas apa sih?" tanya Crystal, yang sejak tadi diam dan bingung dengan pembahasan di meja makan tersebut.
"Papimu kurang minum aqua," jawab Raya, menatap putrinya seraya tersenyum. "Ayo, lanjutkan sarapan kalian, jangan dengarkan burung beo berceloteh," lanjut Raya sembari melirik suaminya yang terlihat cemberut kesal karena tidak mendapatkan jatahnya semalam.
Apa dia bilang? Burung beo berceloteh?! Batin Devan kesal.
Yang benar saja dirinya di samakan dengan burung beo?!
Setelah selesai makan bersama, Raya dan Crystal mengantarkan suaminya masing-masing yang akan berangkat bekerja sampai di halaman rumah.
"Papa berangkat kerja dulu ya, Nak," pamit Ryan kepada putranya yang ada di gendongan Crystal.
"Iya, Papa. Hati-hati kerjanya," jawab Crystal, meniru suara khas anak kecil, lalu mencium punggung tangan suaminya, begitu pula Aksa melakukan hal yang sama, sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi susunya.
Sedangkan Devan tidak mau kalah, ia berpamitan kepada istrinya, lalu mencium kening dan bibir istrinya tanpa malu.
"Ih! Papi! Malu sama cucu!" omel Raya ketika mendapat ciuman mendadak itu.
Crystal dan Ryan tergelak ketika melihat tingkah Devan yang takut kalah saing dengan menantunya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Aksa belum mengerti," jawab Devan, lalu berjalan menuju mobilnya.
"Dasar aki-aki," gumam Raya, heran dengan sikap suaminya.
"Aku berangkat, Mam," pamit Ryan kepada ibu mertuanya, dan Raya menganggukkan kepalanya.
*
*
Devan berada di garasi mobil dan dia masih berdiri di dekat mobilnya yang berjejer rapi di dekat mobil Ryan.
"Awas saja kalau kamu nanti malam menitipkan Aksa lagi!" ancam Devan, kepada menantunya.
Ryan diam tidak menjawab, tapi dengan jahilnya ia mengeluarkan senjata apinya dari pinggangnya dan menodongkannya ke arah ayah mertuanya.
"Dasar menantu luknut!" umpat Devan, segera memasuki mobilnya karena ia takut di 'Dor' oleh menantunya.
Ryan tersenyum penuh kemenangan, lalu menyimpan kembali senjata apinya itu.
__ADS_1
Kasihan ya Devanš¤£
Votenya ya mana vote! Hari senin loh!