Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Bebas


__ADS_3

Empat tahun kemudian.


Terhitung sudah delapan tahun, Crystal dan Ryan membina rumah tangga, putra mereka Aksa pun sudah berusia 7 tahun dan sudah duduk di bangku sekolah dasar. Pria kecil itu sangat cerdas dan juga sangat tampan di usianya yang masih kecil.


"Ma, kapan aku punya adik? Teman-teman di sekolahku semua sudah punya adik bayi," keluh Aksa, setiap pulang dari sekolah.


Crystal menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan putranya. Hatinya terasa tercubit setiap saat putranya mengeluh ingin punya seorang adik.


Beberapa tahun yang lalu kejadian naas menimpa dirinya. Pada saat dirinya hamil anak kedua, dia terjatuh dari tangga rumahnya, membuat bayi di dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan dan tidak sampai disitu saja, rahimnya mengalami kerusakan parah hingga membuatnya pendarahan hebat, dengan terpaksa Tim Dokter memutuskan untuk mengangkat rahimnya sekaligus menyelamatkan nyawanya. Tentu hal tersebut seperti cambukan keras yang menimpa dirinya begitu sakit dan pedih yang dia rasakan saat itu. Bagaimana tidak? Bagi setiap wanita, kehilangan rahim sama halnya kehilangan separuh hidupnya. Beruntung dia punya suami yang selalu berada di dekatnya dan selalu mendukungnya dalam keadaan apa pun.


Lidah Crystal terasa kelu dan lehernya terasa tercekat, bahkan untuk menelan ludah pun ia merasa kesulita, ketika mengingat kejadian itu.


Crystal berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tinggi badan putranya. Ia mengulas senyum tipis, sembari mengelus ke dua sisi pundak kecil itu dengan lembut. "Mama tidak bisa memberimu adik. Maafkan Mama, ya." Crystal berusaha memberikan pengertian kepada putranya.

__ADS_1


"Kenapa?" Satu pertanyaan polos yang terlontar dari bibir mungil Aksa, dan menatap wajah ibunya dengan bingung.


"Karena Mama terlalu sayang sama anak tampan ini," jawab Crystal terkekeh, sambil menjawil hidung mancung Aksa. "Ayo, ganti seragam sekolahmu dengan baju yang sudah Mama siapkan, setelah itu kita makan siang bersama." Crystal mengalihkan perhatian putranya.


"Baiklah, tapi Mama keluar dari kamarku karena aku mau ganti baju," usir Aksa, sambil mengibaskan tangannya, bertanda jika Crystal harus keluar dari kamarnya saat itu juga.


"Oh, baiklah. Mama lupa kalau putraku ini sudah dewasa," ucap Crystal, terkekeh. Kemudian segera keluar dari kamar tersebut, tidak lupa ia menutup pintu kamar itu.


Crystal menepuk dadanya yang terasa sesak, dan ia melakukannya berulang kali. "Huft." Crystal menghembuskan nafasnya pelan, setelah di rasa perasaannya lebih baik. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan untuk mempersiapkan makan siang untuk putranya.


*


*

__ADS_1


"Aku gugup sekali, Kak," ucap Safira, kepada Ryan yang berdiri di sampingnya.


Ryan terkekeh saat melihat adik iparnya terlihat sangat gugup.


"Kamu ini seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta saja," gurau Ryan, masih menyisakan tawa kecil dari bibirnya.


"Hussh! Diamlah jangan mengolokku!" kesal Safira, sambil mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Ah! Ya ampun itu dia!" pekik Safira tertahan saat melihat Jeff melangkah pelan menuju ke arahnya.


"Iyuhhh! Apa kamu mau dengan pria seperti itu? Lihatnya jambangnya tidak terawat, rambutnya gondrong dan pakaiannya sangat lusuh," Ryan terus meledek adik iparnya.


Penampilan Jeff saat ini terlihat seperti seorang gelandangan, yang tidak terurus. Tapi, pria itu masih terlihat sangat tampan walau penampilannya sangat berantakan.

__ADS_1


Kalian pasti emosi, kalau Jeff muncul🤣


__ADS_2