Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Surat perjanjian


__ADS_3

Safira terus mengulas senyumannya saat sudah berhadapan dengan Jeff.


"Hai," sapa Safira, tersenyum menatap wajah tampan Jeff.


"Hai, juga," balas Jeff, membalas senyuman lembut Safira.


Keduanya saling menatap penuh kerinduan. Jika di sana tidak ada orang banyak, mungkin Jeff sudah menarik Safira kedalam pelukannya.


"Ehem!!" Ryan berdehem keras, saat dirinya tidak di anggap kehadirannya.


"Kangen-kangennya nanti saja! Sekarang kita harus pergi dari sini!" ucap Ryan dengan datar, lalu segera pergi keluar dari gedung tersebut, dan di ikuti oleh Jeff dan Safira dari belakang.


"Apa kabarmu?" tanya Jeff melangkah pelan, salah satu tangannya terulur untuk merengkuh pundak Safira dan mengecup kening gadis itu sekilas.


Wajah Safira memerah dan tersenyum malu, saat mendapatkan kecupan singkat dari Jeff. "Aku baik-baik saja," jawab Safira, mendongak menatap wajah tampan Jeff yang di tutupi jambang yang lebat.


"Safira, bisakah kamu pulang lebih dulu? Aku ada urusan dengan Jeff," pinta Ryan, saat mereka sudah berada di parkiran mobil.


"Baiklah," jawab Safira dengan berat hati, tersenyum menatap Jeff yang juga sedang menatapnya. Kemudian ia berjalan meninggalkan area tempat parkir tersebut dan pulang niak taksi.


*

__ADS_1


*


Jeff mengirup udara kebebasannya dengan penuh suka cita dan ia merasa bersyukur karena bisa bertemu orang baik seperti Ryan yang selalu mendukungnya selama ini dan juga kekasih yang selalu setia menunggunya.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ryan.


"Sangat bahagia," jawab Jeff, menoleh ke arah Ryan.


"Iya itu pasti, karena 8 tahun bukan waktu yang singkat." Ryan berkata sembari membuka pintu mobilnya.


Jeff mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia memasuki mobil tersebut dan duduk di samping Ryan.


"Apa kamu sudah siap menemuinya?" tanya Ryan, memacu kendaraannya membelah jalan kota menuju suatu tempat.


"Yang pasti semua itu demi kebaikanmu," Ryan menimpali.


"Sebenarnya kamu ini di pihak siapa?" tanya Jeff, menatap tajam Ryan.


"Aku tidak ada di pihak siapa pun! Aku hanya menilai mana yang baik untuk kalian semua! Bukankah kamu sudah menyetujui rencana ini?"


"Iya, aku memang menyetujuinya, tapi siapa tahu kalau dia punya niat yang jahat. Aku harus mengantisipasinya dari awal, bukan?" jawab Jeff, seraya berdecak kesal.

__ADS_1


Tidak berselang lama mobil yang di kendarai Ryan, sudah terparkir rapi di depan perusahaan besar milik Ayah mertuanya yang tak lain adalah Devan. Setelah itu mereka berdua segera memasuki perusahaan tersebut dan menuju ruangan Devan.


*


*


"Aku tidak ingin berbasa-basi lagi!" Devan menatap Jeff dengan datar.


Jeff duduk di berseberangan dengan Devan, sedangkan Ryan duduk di sofa yang ada di sana sambil memainkan game yang ada di ponselnya.


Kedua pria yang duduk berhadapan itu, saling menatap tajam dan terlihat jelas jika masih ada api kemarahan di wajah keduanya itu. Namun mereka berusaha untuk mendamaikan diri, meski akan sulit.


Devan menyodorkan berkas kepada Jeff. "Baca!" titah Devan.


Dengan kasar, Jeff mengambil berkas tersebut dari tangan Devan. Kemudian ia mulai membaca setiap tulisan yang tertera di dalam berkas tersebut.


"Apa anda serius?" tanya Jeff, matanya masih terfokus pada berkas tersebut.


"Tentu aku serius! Sudah membacanya dengan jelas?" jawab Devan sekaligus bertanya.


"Iya!" jawab Jeff singkat, padat dan jelas.

__ADS_1


"Sekarang tanda tangani surat perjanjian ini!" Devan, menyodorkan secarik kertas kepada Jeff yang berisi surat perjanjian.


__ADS_2