
"Eh, kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Raya, dengan bodohnnya. Ia tidak sadar jika telah menyinggung para pria tampan yang ada di dekatnya itu.
"Tidak salah! Kamu memang selalu benar!" sahut Devan, dengan hati yang gondok. Walaupun dulu dia menikah dengan Raya di usianya terbilang tua, tapi dia merasa tidak terima saja.
"Heum, kalau aku apa terlalu tua untuk, Safira?" tanya Jeff, matanya menatap satu persatu orang yang duduk di ruang tamu sana.
"Boleh jujur nggak?" ucap Ryan, kepada Jeff.
"Ya, silahkan saja," jawab Jeff.
"Usiamu sekarang 43 tahun dan Safira 29 tahun, perbedaan umur kalian 14 tahun, itu artinya kamu memang terlalu tua untuk Safira. Seharusnya kamu sadar itu," jelas Ryan, dengan raut wajah yang menjengkelkan.
"Dan lebih parahnya lagi, setelah kamu menikah dengan Safira, aku akan memanggilmu adik dan kamu memanggilku Kak Ryan, sangat menggelikan!" lanjutnya lalu tergelak keras, namum juga sangat geli jika semua itu tarjadi.
Bruk
Jeff melemparkan bantal sofa dan tepat mengenai wajah Ryan.
"Huh!" Ryan mendengus seraya mengusap wajahnya kasar lalu melemparkan bantal yang baru mengenai wajahnya itu kesembarang arah.
__ADS_1
"Yang sopan sama orang tua!" sungut Jeff, sambil mencebik.
"Baiklah, Pak TUA, maaf," ucap Ryan, menekan kata 'tua' sambil menahan tawa, terus meledek Jeff.
Raya dan Devan, terkekeh melihat tingkah pria dewasa itu. Tidak menyangka jika dua pria yang tadinya bermusuhan kini menjadi sangat akrab.
Tidak berselang lama, Safira berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress selutut berwarna hitam yang membalut tubuh rampingnya, di tambah lagi riasan natural yang membingkai wajah Safira, membuat gadis itu semakin terlihat cantik.
Safira menggigit bibir bawahnya, dan wajahnya bersemu merah saat dia melihat Jeff. Bayangan mimpi enak-enak dengan kekasihnya melintas terus di kepalanya.
"Uh, cantiknya anak Mami," puji Raya, ketika melihat putrinya sangat cantik menawan.
"Apaan sih, Kak! Aku biasa saja!" sungut Safira, mencebikkan bibirnya kesal. "Sirik saja! Ajak jalan noh, Kak Crystal!"
"Sudah ih! Kalian ini sekarang ribut terus ya!" Devan menengahi, sambil menggeleng pelan karena sikap menantunya sudah tidak sekaku dulu dan senang meledek Safira.
"Jeff, ayo kita kencan saja, disini ada orang resek!" Safira berjalan mendekati Jeff, lalu menarik tangan kekar itu. Sebelum pergi keduanya tidak lupa berpamitan kepada kedua orang tuanya.
*
__ADS_1
*
*
Setelah kepergian Safira dan Jeff, kini diruang tamu tersebut tinggal lah Devan, Raya, Ryan dan susul Crystal yang baru bergabung di sana.
"Mi, Pi, aku dan Ryan mau bicara penting." Crystal menggenggam tangan suaminya dengan kuat, seolah meminta kekuatan untuk melanjutkan perkataanya.
"Ada apa?" Devan menatap putrinya dengan dalam.
Crystal menghirup udara dengan dalam, sebelum melanjutkan perkataannya.
"A aku dan Ryan ingin mengadopsi bayi. Kami sudah memikirkan ini semua dengan matang," ucap Crystal sedikit terbata, dia takut jika kedua orang tuanya tidak setuju.
Devan menghembuskan nafasnya dengan kasar, begitu pula dengan Raya. Mereka tahu cobaan yang di alami putrinya sangatlah berat.
Ryan merengkuh pundak istrinya dan mengusapnya pelan, menyalurkan kekuatan.
"Apa kalian sudah yakin dengan keputusan ini? Ini adalah keputusan besar loh." Raya berkata sambil menatap putrinya.
__ADS_1
Sajen ah sajen!!