
Setelah menghubungi Jeff, Safira segera bersiap karena sebentar lagi Jeff akan menjemputnya.
Gadis itu mengernyitkan keningnya ketika melihat pria tampan, tinggi, gagah, dan memiliki kulit coklat berdiri di depan teras rumahnya.
"Perkenalkan, Nona, saya Aries." Membungkukkan diri, bertanda memberikan hormat kepada Safira.
"Aries?" Beo Safira, mencoba mengingat nama tersebut, beberapa detik kemudian ia baru teringat jika pria yang bernama Aries ini adalah utusan Kakak iparnya yang akan mengawalnya.
"Iya, Kak Aries, perkenalkan nama saya Safira," ucap Safira, tersenyum lembut lalu membungkukan diri, seperti yang di lakukan Aries kepadanya.
Aries tertegun ketika melihat kesopanan dan keramahan yang di miliki gadis di depannya itu. "Jangan memberi hormat kepada, Saya. Nona." Aries menjadi tidak enak hati.
"Kalau begitu bersikap biasa saja kepadaku," jawab Safira ramah, di selingi dengan senyuman lembut dan tulus.
"Ah, iya," jawab Aries menjadi rikuh sendiri, sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Sebelumnya saya hanya—"
"Aku dan kamu! Bukan saya dan anda!" potong Safira.
Aries tersenyum canggung dan menganggukan kepalanya. "Iya, maksudku. Aku hanya menyampaikan, jika aku akan menjadi bodyguard bayanganmu," jelas Aries, dan Safira menganggukkan kepalanya bertanda jika dirinya mengerti.
__ADS_1
"Iya, aku sudah tahu dari Kak Ryan. Jadi, kamu akan mengawasiku dari jauh?" tanya Safira.
"Iya, Nona. Aku—" lagi-lagi ucapan Aries di potong oleh Safira.
"Fira saja!! Tidak perlu embel-embel Nona! Dan ingat jangan terlalu formal kepadaku!" kesal Safira, karena pria yang ada di hadapannya ini terlalu formal kepadanya.
"Ya baiklah, Fira, aku akan mengawasimu dari jauh dengan jarak 10 meter darimu," jelas Aries, tersenyum canggung.
"Oke!" jawab Safira, lalu menatap pria tampan yang ada di hadapannya itu dari atas sampai bawah lalu kembali ke atas lagi dan tatapannya itu berhenti tepat di wajah Aries.
Aries yang di tatap seperti itu menjadi sangat risih sendiri.
"Fira? Kamu mau apa?" tanya Aries, mencondongkan tubuhnya kebelakang, saat Safira mendekatkan wajahnya.
"Aku cuma mau bilang! Kalau resleting celana kamu belum terkunci! Awas, nanti burungnya terbang loh," bisik Safira, membuat wajah Aries seketika itu bersemu merah hingga menjalar ke dua telinganya karena malu.
Fira, nacallll! 😆
"Sorry!" Aries lalu membalikan badannya, membelakagi Safira dan segera menaikan resleting celananya.
__ADS_1
Memalukan. Aries, terus mengumpati dirinya sendiri di dalam hati.
Sedangkan Safira, terkekeh geli sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Sudah?" tanya Safira, ketika Aries kembali ke posisi semua, menghadapnya.
Aries, hanya menganggukkan kepalanya dan matanya mengendar menatap satu persatu pelayan dan penjaga yang ada di sekitar teras rumah besar itu, terlihat jelas jika para pelayan dan penjaga di sana menertawakannya.
"Ayo berangkat," ucap Safira, masih menahan tawanya. Kemudian ia segera berlalu menuju pintu gerbang rumahnya, karena sudah terdengar suara klakson panjang bertanda jika Jeff sudah di depan sana, lalu di ikuti oleh Aries dari belakang, menggunakan motor CBR nya yang baru ia beli satu minggu yang lalu.
"Menunggu lama?" tanya Jeff, ketika Safira sudah duduk di sampingnya.
"Tidak," jawab Safira tersenyum lembut, sembari memasang seat beltnya.
Seperti biasa, Jeff selalu menggunakan hoodie dan juga masker, jika bertemu dengan Safira.
"Apa kamu tidak gerah? Terus memakai hoodie dan juga masker seperti itu?" tanya Safira, menatap mata tajam Jeff yang juga tengah menatapnya.
Jeff tersenyum di balik maskernya, sambil menggeleng pelan. Kemudian ia segera melajukan mobilnya menuju toko buku langganan Safira.
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungannya ya Sayang-sayangku, dengan cara like, komentar, vote dan kasih gift semampu kalian😘😘😘