
Waktu bergulir dengan cepat, tidak terasa jam kuliah di kelas Crystal telah usai.
"Langsung berangkat sekarang?" tanya Caramel.
Ketiga perempuan itu masih berada di dalam kelas.
"Makan dululah, perut gue laper banget," jawab Crystal, sembari memasukan laptopnya kedalam tasnya.
"Ho'oh sama nih." Cindy menimpali.
Kemudian ketiganya itu beranjak keluar dari dalam kelas dan menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.
"Pesen apa lo?" tanya Caramel, ketika mereka sudah duduk di meja yang ada di sudut kantin tersebut.
"Bakso sama lontong," jawab Crystal, sambil tersenyum, membuat kedua temannya itu mengernyit heran.
Cindy menggeleng pelan, lalu beranjak dari duduknya untuk memesan makanan kepada ibu kantin.
"Kenapa lo?" tanya Caramel kepada Crystal.
"Jadi inget punyanya laki gue yang mirip bakso dan lontong," jawab Crystal cengengesan sendiri.
__ADS_1
Crystal mengingat percintaan panasnya dengan Ryan tadi malam. Ryan yang sekarang begitu lembut saat di atas ranjang, hingga membuatnya selalu terbuai dan ingin minta tambah terus di masuki lontong jumbo milik suaminya itu.
"Dasar otak selang*kangan!" Caramel menonyol kepala temannya itu kebelakang.
"Yeh, biarin! Gue ngebayangin punya laki gue sendiri ya!" sahut Crystal kesal.
"Paling bentuknya juga sama kayak cowok yang lainnya, yang membedakan hanyalah ukurannya saja," jawab Caramel, mencibir temannya itu.
"Beda dong!" jawab Crystal tidak terima dengan jawab Caramel.
"Bedanya apa coba? Bentuknya panjang dan di ujungnya kayak pakai helm terus punya dua telor di tambah lagi ada rambut-rambut yang tumbuh menghiasi di sekitar telor itu!" jawab Carame tidak berfilter, membuat Crystal menggeram kesal lalu menimpuk temannya itu dengan kerupuk yang ada di hadapannya.
"Dasar jablay! Enggak usah di perjelas bego! Otak gue langsung travelingkan!" sungut Crystal, karena ia jadi mengingat keperkasaan suaminya hingga membuat miliknya bekedut manjah dan basah.
"Besarnya seberapa sih?" tanya Caramel, penasaran.
"Sebesar ini," jawab Crystal, sembari memegang lengannya sendiri.
"Serius lo? Beuh, itu mah gede banget!" pekik Caramel sembari bertepuk tangan.
"Ya dong. Duh, beruntungnya gue punya suami yang ganteng, karir oke, duit banyak, big size and long time lagi!" ucap Crystal, bangga dengan suaminya.
__ADS_1
"Iya selamat ya, semoga gue juga dapat yang kayak gitu," jawab Caramel, kemudian keduanya itu tergelak bersama.
Tidak berselang lama Cindy datang dengan membawa nampan yang di atasnya ada 3 mangkok bakso lengkap dengan lontong yang masih terbungkus daun pisang. Kemudian ketiganya itu mulai makan bersama sambil bercanda dan tertawa, hingga makanan mereka habis tidak tersisa.
Setelah selesai makan ketiganya itu berangkat ke toko buku yang tidak jauh dari kampusnya.
Ketiganya itu berpencar mencari buku untuk referensi skripsi mereka. Setelah mendapatkan buku yang mereka cari dan membayarnya, ketiga kini bersiap untuk pulang.
"Antar gue ke tempat kerja Ryan, gue mau ketemu sama dia," ucap Crystal ketika sudah memasuki mobil Caramel dan duduk di jok belakang, sedangkan Cindy duduk di jok depan di samping Caramel.
"Oke, Bu," jawab Caramel, memberi hormat kepada temannya itu. Kemudian Caramel melajukan mobilnya, membelah jalanan kota yang ramai lancar di siang hari itu.
Tidak berselang lama, mobil yang di kendarai Caramel sudah sampai tujuan dengan selamat. Crystal segera keluar dari mobil tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada dua temannya itu.
"Selamat Siang, Bu," sapa Pria berseragam polisi yang ada di sana dengan sangat ramah.
"Siang juga, Pak. Suami saya ada?" tanya Crystal sopan.
"Ada, Bu. Silahkan masuk saja ke ruangan Pak Aaron," jawabnya sopan.
"Terima kasih," ucap Crystal, tersenyum ramah lalu melangkah masuk keruangan suaminya.
__ADS_1
Crystal tersenyum senang saat sudah sampai di depan ruangan Ryan. Namun, senyum Crystal memudar seketika saat ia mendengar suara wanita dari dalam ruangan itu.
"Pak, pelan-pelan. Aw sakit!"