
"Saya permisi dulu, Pak," pamit Aries, kepada Ryan, setelah urusannya selesai.
"Kamu tidak minum dulu?" tanya Ryan, saat melihat Aries beranjak dari duduknya.
Aries menoleh, kemudian ia mengelus tenggorokannya yang terasa kering. "Saya—"
"Ya, sudah sana kembali bertugas! Aku hanya berbasa-basi saja," potong Ryan, dengan nada datar, namun terdengar sangat menyebalkan.
Huh, dasar pelit! Umpat Aries, sangat kesal kepada atasannya. Karena sikap Ryan berubah menjadi sangat menyebalkan semenjak mengalami Sindrom Couvade.
"Baiklah, lagian saya juga tidak haus!" jawab Aries, langsung melenggang pergi dari sana dengan perasaan yang teramat kesal.
"Terima kasih ya!! Bonusmu, aku transfer," ucap Ryan.
Aries menoleh dan tersenyum bahagia. "Oke! Terima kasih, Pak. Aku mencintaimu!" seru Aries, sembari memperlihatkan finger heart.
"Menjijikan!! Enyah kau dari sini!" umpat Ryan, seraya melemparkan bantal sofa ke arah Aries, namun dengan cepat Aries segera lari keluar dari rumah tersebut dengan gelak tawa yang sangat keras.
"Dasar anak itu!" ucap Ryan, terkekeh pelan, setelah Aries tidak terlihat lagi. Kemudian Ryan memasuki kamarnya, dan tidak lupa ia mengunci pintu rumah terlebih dahulu.
Drtt ... Drtt ... Drtt
__ADS_1
Ponsel yang tergeletak di atas nakas bergetar panjang menandakan jika ada panggilan masuk.
Di ambilnya ponselnya itu dan ia segera mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Ayah mertuanya.
"Ya, Pi?" jawab Ryan, sembari melirik istrinya yang masih terlelap diatas tempat tidur.
"Bagaimana bisa Jeff kabur? Dan kenapa kau tidak mengabariku?!" tanya Devan dengan nada tidak bersahabat, dari seberang sana.
"Maaf, Pi. Tim kami juga sedang bekerja keras untuk menemukan Jeff dan dia juga sudah di masukan kedalam daftar DPO," jelas Ryan.
"Aku akan mengerahkan anak buahku untuk membatu Tim mu! Lalu bagaimana dengan Crystal?" tanya Devan, kali ini dengan nada yang sangat cemas.
"Crystal sudah berada di tempat yang aman, dan akan tetap berada di sampingku, aku akan selalu menjaganya, Pi. Jangan khawatir, dan terima kasih atas bantuannya," ucap Ryan, tulus
"Dan itu tidak akan pernah terjadi, karena aku akan selalu menjaga istriku dengan segenap jiwa dan ragaku!" tegas Ryan.
"Cih!! Sok puitis! Yang aku butuhkan hanyalah bukti! Bukan bualanmu belaka!!" umpat Devan, lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
*
*
__ADS_1
*
"Kamu berbicara dengan siapa, Pi?" tanya Raya, saat memasuki ruang pribadi suaminya sembari membawa segelas susu hangat.
Papi Devan, nggak berubah ya. Masih suka susu, 😂
"Dengan sekretarisku," bohong Devan, lalu meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Ia tidak mungkin menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada istrinya.
"Benarkah?" tanya Raya, menaikan salah satu alisnya, tidak percaya dengan ucapan suaminya.
"Iya, kamu tidak percaya padaku?" tanya Devan, dengan nada sedih. Kemudian ia mendekati istrinya dan mengambil segelas susu hangat itu lalu meneguknya hingga tandas.
Raya hanya menaikan kedua bahunya, seolah berkata 'aku tidak tahu!'
"Ayolah, sayang. Aku ini sudah tua dan tidak bermain-main lagi," ucap Devan, lagi lalu meletakkan gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
"Bukankah, semakin tua, semakin menjadi?!" cibir Raya dengan sengit.
Devan menghela nafasnya, lalu ia mencapit dagu Raya dengan lembut kemudian mengecup bibir istrinya sekilas.
"Semakin menjadi jika bersama dirimu," ucap Devan, lalu memeluk istrinya dengan erat. "Jangan berpikiran yang macam-macam," lanjut Devan dengan lembut, lalu mengecup pucuk kepala Raya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Jangan lupa, like komentar, vote dan kasih gift semampu kalian,😘😘
love you sekebun kelapa sawit buat kalian semua😘😘😘