
"Argghhh!! Sakit!! Sampai mati pun aku tidak akan mengatakannya!"
"Tapi sayangnya kau tidak akan mati, dan aku dengan senang hati akan menyiksamu sampai kau memberitahukan siapa Bos besarmu itu!" tegas Ryan, lalu mengambil batu berukuran cukup besar lalu menghantamkannya di kedua kaki yang sudah terluka itu.
Bugh
Bugh
"Arghh!! Bedebah! Bajingan kau Aaron!!" Belum reda rasa sakit yang di rasakannya, kini ia merasakan kesakitan yang lebih luar biasa dari hantaman batu yang di berikan oleh Ryan.
"Huh, aku suka sekali menyiksamu? Apa sakit? Masih belum menyerah?" desis Ryan, tersenyum jahat dan menatap tajam pria yang sudah mulai tidak berdaya di hadapannya karena kehilangan banyak darah.
"Aku tidak akan mengatakannya!" ucapnya dengan lantang.
"Waoww, pilihan yang bijaksana sekali!" ucap Ryan, tersenyum miring.
Bugh
Satu hantaman lagi layangkan ke arah kaki tersebut.
"Arghhh!!!" pekik Penyusup itu, wajahnya semakin pucat karena merasakan kesakitan yang berkali-kali lipat.
"Dengar! Aku tidak akan pernah melepaskanmu, jika kau belum memberi tahuku siapa Bosmu itu! Dan aku juga tidak akan membiarkanmu mati! Apalagi ini menyangkut kehidupan istriku!! Apa kau pikir, aku akan melepaskanmu begitu saja! Hah!!!!" sentak Ryan dengan tajam, lalu mencekik leher pria tersebut dengan kuat, membuat Penyusup itu hampir kehilangan nafasnya.
__ADS_1
"Uhuk ... Uhuk ... ." Penyusup tersebut tebatuk dan nafasnya tersengal, ketika Ryan melepaskan cekikan di lehernya.
"Aku menyerah! Lepaskan aku ... lepaskan aku ... ," ucap Penyusup itu mengibarkan bendera putih, lalu memberikan ponselnya kepada Ryan. "Disana ada semua informasi yang kau butuhkan, tapi aku mohon lepaskan aku."
*
*
*
*
Disisi lain Devan masih berlari mencari Ryan dan Penyusup itu, di temani oleh dua Satpam.
"Apa ada hantu di sini?" tanya Devan, merasakan merinding bulu kuduknya.
"Kalau yang namanya hantu pasti ada di mana-mana, Tuan," jawab salah satu Satpam juga merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Hih, ngeri. Ayo kita cari Ryan kesana." Devan berjalan cepat, lebih masuk kearea perkampungan tersebut.
Sampai di tengah perkampungan, ketiga orang itu mendengar suara rintihan kesakitan.
"Kalian dengar itu?" tanya Devan.
__ADS_1
"Iya, seperti orang yang sedang kesakitan," jawab kedua Satpam tersebut, sembari mengusap tengkuk lehernya.
Karena rasa penasarannya, Devan memberanikan diri berjalan menuju sumber suara di balik tong sampah yang berukuran besar itu.
"Ryan!!" pekik Devan, matanya membola dan tubuhnya bergetar saat melihat tangan Ryan berlumuran darah, di tambah lagi ia melihat seorang pria tergeletak lemas tidak berdaya dan merintih kesakitan.
"Tenang saja, aku tidak membunuhnya. Justru aku membantunya mengeluarkan peluru yang bersarang di kedua kakinya," jelas Ryan, tersenyum smirk, membuat Devan semakin takut saat melihat menantunya sangat menakutkan.
"Tapi, kenapa kau menolongnya? Bukankah dia penyusup?" tanya Devan, berjalan lebih mendekat lagi. Bau anyir menyeruak di indra penciumannya, perutnya terasa seperti di aduk-aduk dan ia ingin muntah saat itu juga, akan tetapi ia berusaha untuk menahannya.
"Karena dia mau Kooperatif, mau memberi tahukan siapa Bos besarnya," jawab Ryan, melepaskan kemejanya untuk mengelap lumuran darah yang menempel di kedua sisi tangannya.
"Siapa Bos besarnya itu?" tanya Devan, penasaran.
"Papi sudah mengenalnya," jawab Ryan, menatap Ayah mertuanya yang tercengang.
"Jadi benar dugaanku," gumam Devan, masih di dengar Ryan.
"Iya!" sahut Ryan, tegas.
Bersambung..
Jangan lupa like! like! like
__ADS_1
Ratingnya turun lagi, please bantuin buat up in lagi,🙏🥺