
Merindukan seseorang adalah bagian dari mencintainya. Jika tidak pernah berpisah, maka tidak akan pernah benar-benar tahu seberapa kuat cintamu kepadanya. Safira Fadaei.
Safira pagi itu berada di balkon kamarnya sembari menikmati udara sejuk yang dapat menenangkan jiwanya.
Tanpa sepengetahuan Safira, Xander memasuki kamar itu dan menatap prihatin Safira yang belakangan ini sering mengurung diri dan juga menjadi sangat pendiam.
"Merindukanmu adalah cara hatiku untuk mengingatkanku bahwa aku mencintaimu," gumam Safira dengan lirih, sembari menatap langit yang berselimut awan hitam, sama seperti hatinya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Fir?" tanya Xander, berjalan mendekati cucunya lalu mengusap pucuk kepala Safira dengan penuh kelembutan.
Safira menoleh seraya tersenyum tipis, tanpa menjawab pertanyaan Xander.
Xander menghela nafasnya, kemudian ia merogoh kantong celananya.
"Daddy, ada sesuatu untukmu." Xander memberikan secarik kertas kepada Safira.
Safira terdiam sembari menatap secarik kertas tersebut dan dengan ragu ia mengambil kertas tersebut dari Xander.
"Bacalah, semoga kamu menyukainya," ucap Xander, setelah itu ia segera berlalu dari kamar tersebut, meninggalkan Safira yang masih berdiam diri di balkon.
"Bagaimana Dad?" tanya Jeje, saat Xander keluar dari kamar tersebut.
"Semoga cara ini bisa membantu. Kamu tenang saja, jangan khawatir," jawab Xander, lalu merengkuh pinggang istrinya posesif kemudian mengecup bibir Jeje yang sudah menjadi candunya itu sekilas.
Jeje mengangguk seraya tersenyum lembut kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
*
__ADS_1
*
*
Dengan perasaan ragu, Safira membaca tulisan yang tertera di atas kertas tersebut.
...Dear, Safira🖤...
Saat aku menutup mata, aku melihatmu. Dan saat aku membuka mata, aku merindukanmu.
Air mata Safira luruh seketika, saat membaca kalimat pertama dari tulisan tersebut. Jantungnya berdegup dengan cepat, saat tahu jika yang sedang ia baca adalah sebuah surat dari pemilik hatinya.
Bukan hanya kamu yang tersiksa, tapi aku pun sama. Tersiksa dalam sebuah kerinduan yang tidak berujung. Mungkin ini adalah ujian cinta kita.
Jangan bersedih lagi. Aku sangat mencintaimu, Fir.
Safira menghapus air matanya dengan pelan, kemudian ia melipat kertas tersebut. Lalu ia berjalan memasuki kamarnya, dan meletakkan kertas itu di atas nakas. Setelah itu ia keluar dari kamarnya untuk mencari Xander.
"Dad!" seru Safira kepada Xander, yang sedang duduk berdampingan dengan Jeje di ruang keluarga.
"Ya, sayang? Apa perasaanmu lebih baik?" tanya Xander.
Safira mengangguk lalu tersenyum.
"Terima kasih," ucap Safira, lalu memeluk Xander dan Jeje bersamaan.
"Sama-sama, sayang. Jangan bersedih lagi ya, masa depanmu itu masih panjang, sambil menunggunya keluar dari penjara, kamu bisa memperbaiki dirimu menjadi wanita yang lebih baik lagi dan kuat. Begitu pula dengan Jeff, dia akan menjadi pria yang lebih baik lagi dan memantaskan dirinya agar bisa bersanding denganmu," ucap Jeje sangat bijak, seraya membalas pelukan cucunya itu.
__ADS_1
"Benar yang di katakan, Mommymu, kami begitu sedih karena melihatmu seperti ini," sela Xander, mengelus punggung Safira dengan lembut.
Safira mengangguk di balik pelukkannya itu, lalu ia mengurai pelukkannya.
"Maaf karena telah membuat kalian bersedih, dan sekali lagi terima kasih, Dad, karena sudah memberikan surat itu kepadaku," jawab Safira.
"Sebenarnya ini adalah ide Mommymu, kemarin kami ke Rutan untuk menemui Jeff dan memintanya untuk menulis surat cinta untukkmu," ucap Xander jujur, dan tersenyum tipis.
Karena setelah kejadian dimana Devan menemui Jeff, pria itu tidak ingin bertemu dengan Safira lagi dengan alasan akan semakin memperkeruh keadaan.
"Terima kasih, Mommy. Apa aku boleh membalas suratnya?" tanya Safira penuh harap.
"Tentu," jawab Jeje, tersenyum lembut.
"Yei, terima kasih, Mom and Dad," seru Safira lalu berlari menuju kamarnya.
Jeje dan Xander saling pandang lalu tersenyum bersamaan.
"Begitulah yang namanya cinta, bisa merubah buah tomat busuk menjadi anggur yang sangat segar," ucap Xander, lalu mendapat cubitan keras dari istrinya.
"Ingat! Daddy pun sama seperti mereka yang begitu di butakan oleh cinta!"
"Eh, mana ada," elak Xander, sedangkan Jeje mencebikkan bibirnya dengan kesal.
"Nanti malam jangan minta jatah jungkat-jungkit!" ketus Jeje, lalu segera beranjak meninggalkan suaminya.
"Sayang! Honey!! My Wife yang cantik," seru Xander, mengejar istrinya yang menuju halaman belakang.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya dengan cara like, komentar, vote, dan kasih gift semampu kalian😘😘😘