
PLAK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Devan, dan pelakunya adalah Xander.
Mata Xander menatap tajam menantunya dan ia ingin sekali menghabisi menantunya saat itu juga.
Xander benar-benar kecewa dengan sikap Devan yang begitu egois.
Devan memegang pipinya yang terasa panas, selama separuh hidupnya ia mengabdi kepada Xander dan baru kali ini dirinya melihat kemarahan Xander kepadanya.
"Aku benar-benar kecewa denganmu! Van!" bentak Xander, menatap Devan dengan kemarahan.
"Apa kamu sudah menjadi yang terbaik untuk kedua putrimu? Harusnya kamu berkaca pada kesalahanmu sendiri! Dan apa aku pernah mengajarkanmu untuk membedakan status sosial seseorang?" tanya Xander sangat tajam, membuat Devan bungkam.
Xander benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir Devan. Ya, di mengetahui semua ini dari Crystal yang mengadu kepadanya. Karena dirinya juga ikut andil dalam masalah ini, maka ia juga harus menyelesaikannya.
"Biarkan putrimu memilih jalannya sendiri untuk masa depannya! Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik untuk Safira, karena Safira yang menjalani kehidupannya! Bukan kamu!" tegas Xander, dengan menggebu-gebu.
"Tugas kita sebagai orang tua, mengarahkan anak-anak kita ke jalan yang benar dan mendampinginya agar tidak salah jalan. Tapi! Apa mencintai seorang narapidana itu sebuah kesalahan?" tanya Xander lagi.
__ADS_1
Devan diam dan tidak mampu untuk berkata apapun lagi.
Status Jeff yang menjadi seorang Narapidana mungkin adalah sebuah aib dan juga di pandang sebelah mata lingkungan sekitar, dan itu memang nyata terjadi di kehidupan ini. Termasuk Devan yang sulit untuk menerima Jeff.
Tapi, kembali lagi ke hati kita masing-masing. Dan setiap manusia itu derajatnya sama di hadapan Tuhan!
"Sebagai orang tua tentu kita ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi caramu ini salah. Bayangkan jika kau berada di posisi Safira! Apa kau bisa? Melepaskan Raya dan juga melupakan Raya?" tanya Xander lagi, menatap sinis menantunya itu.
"Tentu saja aku tidak bisa, Dad, karena aku sangat mencintai Raya, bahkan sangat mencintainya," ucap Devan, sedih.
"Tapi, aku ingin kalian berpisah!" tegas Xander, membuat semua orang yang ada di sana membola sempurna.
Xander tersenyum miring, lalu menepuk bahu Devan dengan kuat.
"Rasanya tidak enak bukan? Di paksa meninggalkan dan melupakan orang yang kita cintai?!" tanya Xander, penuh dengan sindiran.
"Maafkan aku, Dad," ucap Devan penuh penyesalan.
"Mulai hari ini dan seterusnya, Safira akan tinggal bersamaku!" tegas Xander sangat dingin.
__ADS_1
"Dad, tidak bisa begitu, dong!" protes Raya, tidak terima dengan keputusan Ayahnya.
"Aku tidak ingin mendengar bantahan dari kalian! Dan aku tidak bisa membiarkan Safira hidup di bawah tekanan suamimu!" terang Xander.
Xander hanya ingin Safira menenangkan hati dan pikirannya. Xander tahu jika Safira beberapa bulan ini merasa tertekan dengan sikap Devan.
Raya dan Devan menatap wajah Safira yang terlihat sedih dan sembab. Rasa bersalah menyeruak ke dalam dada kedua orang itu.
"Aku ingin tinggal bersama Daddy dan Mommy," ucap Safira. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk dirinya dan juga semuanya. Dia butuh ketenangan.
Devan dan Raya mengangguk bersamaan, bertanda jika menyetujui permintaan putrinya, kemudian keduanya itu memeluk putrinya dengan erat.
"Papi minta maaf," ucap Devan, dengan pelan.
Udah mulai dingin lagi😊
Sampai disini adakah pelajaran yang bisa dipetik?
Kasih dukungannya dong, biar emaknya otaknya oleng dan bikin kegesrekan lagi🤣🤣🤣
__ADS_1