Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Sulit untuk di mengerti


__ADS_3

Crystal berjalan beriringan dengan Cindy dan Caramel di koridor kampus mereka.


"Nanti pulang kuliah jadi ke toko buku, kan?" tanya Caramel, menatap dua sahabatnya bergantian.


"Jadi dong, gue sudah ijin sama Pak suami," jawab Crystal, seraya mengusap perutnya yang buncit itu.


"Lo gimana, Cin?" tanya Caramel, sembari menyenggol pundak Cindy, hingga membuat gadis itu terkejut.


"Eh, kenapa?" tanya Cindy dengan wajah bingungnya.


"Lo mikirin apa sih? Dari tadi melamun terus," seru Caramel, menelisik wajah Cindy yang tidak bersemangat.


"Gue patah hati," jawab Cindy lesu, sembari menghela nafasnya.


"Patah hati? Siapa yang berani bikin hati lo terpotek?" tanya Caramel penasaran, sedangkan Crystal menyimak pembicaraan dua sahabatnya itu.


"Aries," jawab Cindy pelan.


Crystal dan Caramel terkejut ketika mendengar jawaban temannya itu. "Serius lo?" tanya keduanya itu bersamaan kepada Cindy.


"Bukannya Aries itu sedang tugas di luar negeri?" ucap Crystal dengan wajah yang terlihat serius menatap Cindy.


"Sudah balik ke Indonesia, kemarin malam gue ketemu dia di Mall dan dia gandeng cewek cantik, terpotek-potek hatiku, hiks," jawab Cindy dengan wajah sedihnya.


"Terus lo samperin dia? Lo labrak nggak tuh cewek?" tanya Caramel penasaran.

__ADS_1


"Enggak lah, gue kan nggak ada hubungan apa-apa sama doi," jawab Cindy.


"Lah terus ngapain lo patah hati?" tanya Crystal, merasa aneh dengan sahabatnya ini.


"Gimana gue nggak patah hati kalau gue gagal menakhlukan hatinya. Nggak jadi dapat lamborghini, deh!" jawab Cindy dengan kesal.


Crystal dan Caramel saling pandang kemudian keduanya itu menepuk jidatnya bersamaan.


"Dasar Oon! Tantangan itu sudah nggak berlaku sejak dia pindah ke luar tugas keluar Negeri beberapa bulan yang lalu!" jawab Crystal, lalu menarik tangan Caramel, berjalan mendahului Cindy.


"Bulek! Santan! Tunggu!" seru Cindy, mengejar dua temannya itu. "Kalian jahat banget sih, kenapa nggak bilang kalau tantangan itu sudah expired?"


"Lagian lo, Oon nya kebangetan sih!" jawab Caramel.


"Terserah!" jawab Crystal, lalu ketiganya itu terus berjalan hingga sampai di kelasnya.


*


*


*


Disisi lain Ryan sedang berada di ruangannya, sambil memeriksa berkas yang ada di hadapannya. Tidak berselang lama terdengar ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk!" jawab Ryan, tanpa menoleh karena tatapannya fokus pada berkas yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Sibuk ya, Pak?" tanyanya, lalu mendudukan diri di kursi di hadapan Ryan.


Ryan mendongak dan terkejut ketika melihat Aries ada di hadapannya.


"Sudah sampai kamu?" tanya Ryan, beranjak dari duduknya kemudian menjabat tangan Aries.


"Iya, kemarin sore," jawab Aries tersenyum.


"Happy banget ya wajahnya yang habis dapat bonus besar karena berhasil menangkap Bandar yang sesungguhnya," ledek Ryan, terkekeh.


Ya, Aries di tugaskan keluar negeri bersama Timnya untuk mengintai dan menangkap Bos Bandar yang sesungguhnya.


"Ya, begitulah lumayan buat modal nikah," jawab Aries tergelak.


"Modal nikah? Calonnya sudah ada belum?" tanya Ryan, terdengar meledek Aries.


"Calonnya masih kecantol sama hati yang lainnya." jawab Aries ambigu, membuat Ryan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Kamu masih mengaharapkannya?" tanya Ryan serius.


"Mengharapakan sih enggak, tapi aku masih susah untuk melupakkannya," jawab Aries dengan jujur.


Karena di dalam hatinya masih ada satu nama yang memenuhi hatinya, yaitu Safira.


Ryan menganggukkan kepalanya tanpa berkomentar lagi, karena menurutnya masalah hati itu sangat sulit untuk di mengerti.

__ADS_1


__ADS_2