Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Safe House


__ADS_3

Crystal memijat tengkuk suaminya, yang sedang memuntahkan isi perutnya di closet kamar mandi.


"Sudah, aku merasa lebih baik." Ryan mengangkat tangannya, bertanda jika Crystal tidak perlu memijat tengkuknya lagi.


"Kamu masuk angin? Biasanya juga tidak pernah seperti ini," ucap Crystal, cemas lalu membantu suaminya berdiri.


"Entahlah," jawab Ryan.


"Kamu oke?" tanya Raya, saat memasuki kamar mandi sembari membawa minyak telon di genggamannya.


"Oke, Mam. Maaf, membuat sarapan kalian menjadi kacau," jawab Ryan, merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa dan selamat ya kamu akan merasakan mual atau muntah seperti ini sampai beberapa bulan kedepan," ucap Raya, terkekeh sembari menyerahkan minyak telon tersebut kepada putrinya. "Oleskan ke hidung, perut dan punggungnya," titah Raya kepada Crystal, setelah itu ia keluar dari kamar mandi.


"Kenapa Mami mengucapkan selamat? Dan kenapa juga aku harus merasakan mual dan muntah berkepanjangan," tanya Ryan, kepada istrinya dengan raut wajah yang bingung.


"Entah," jawab Crystal karena dirinya juga tidak tahu, sembari membuka kemeja suaminya dan mengoleskan minyak telon kearea perut yang sixpack itu. "Apa kita perlu kedokter?" tanya Crystal.


"Tidak perlu, aku sudah merasa lebih baik." Ryan mengancingkan kemejanya kembali.


"Tapi—'


Cup


Ryan mengecup bibir istrinya sekilas. "Aku baik-baik saja," potong Ryan, lalu menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar mandi tersebut.


*


*

__ADS_1


*


"Kamu disini dulu bersama Mami dan Safira. Aku akan pulang malam," ucap Ryan, kepada istrinya yang mengantarkanya sampai halamaan rumah.


"Iya," jawab Crystal, tersenyum.


CUP


Ryan menarik tengkuk istrinya, mengecup dan melumaat bibir istrinya dengan rakus. Crystal pun ikut membalasnya dan larut dalam permainan bibir Ryan yang selalu membuatnya melayang.


"Astaga!! Mata suciku ternodai!" pekik Safira tertahan, saat melihat adegan live di depan matanya, kemudian ia segera berbalik badan dan mengurungkan niatnya untuk ke halaman rumah.


Gila! Kak Ryan bisa hot begitu ya? Pantas saja Kak Crystal langsung membuka selang*kangannya dengan suka rela. Batin Safira, tertawa cikikikan sendiri.


"Ugh, sayang. Su ... sudah." Crystal mendorong pundak Ryan dengan kuat hingga ciumannya itu terlepas.


"Kebiasaan!" sungut Crystal, mengusap bibirnya yang terasa kebas dengan kasar.


"Ih! dasar menyebalkan!" sungut Crystal, saat suaminya langsung menjalankan mobil begitu saja setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Dasar kanebo kering!" umpat Crystal, sembari menatap mobil suaminya yang melaju menuju pintu gerbang.


*


*


*


Di perjalanan Ryan tersenyum sembari mengusap sudut bibirnya yang masih terasa basah.

__ADS_1


"Bisa gila aku lama-lama," ucap Ryan. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju suatu tempat.


Tidak berselang lama, ia sudah sampai ketempat yang ia tuju. Sebuah rumah minimalis yang lokasinya masih berada di kota tersebut.


"Pagi pak," sapa salah satu anggotanya yang berada disana.


"Bau parfum mu membuatku mual!" jawab Ryan, berjalan masuk kedalam rumah tersebut.


Anggota tersebut mengernyit heran, lalu mengendus ketiaknya. "Parfume? Sejak kemarin bahkan aku belum mandi," gumamnya, lalu masuk kedalam rumah mengikuti atasannnya.


"Bagaimana para penjahat kemarin?" tanya Ryan, kepada beberapa anggotanya yang ada disana.


"Sudah kami tempatkan di sel tahanan kelas satu, tapi mereka masih bungkam tentang identitas Bos besarnya," jelas salah satu anggota lainnya.


Ryan tersenyum, lalu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel dari sana yang sudah terbungkus plastik.


"Jawabannya ada disini," jawab Ryan, meletakkan ponsel tersebut diatas meja. Membuat para kelima pria yang ada disana saling pandang.


"Wow! Bagaimana anda bisa mendapatkannya?" timpal anggota lainnya, mengambil sarung tangan lalu memakainya dan mulai membuka plastik yang membungkus ponsel tersebut.


"Sedikit menyiksa penyusup itu," jawab Ryan terkekeh.


"Lalu rencana kita yang sudah tersusun jadi kita jalankan?" tanya salah satu anggota lainnya, sedikit ragu.


"Tentu saja, tapi aku yang akan terjun langsung dan seperti yang sudah kita rencanakan, menggunakan Crystal untuk memancing Bos besar itu keluar!"


"Pak! Itu terlalu berbahaya," tolak para anggotanya tidak setuju jika harus mengorbankan Crystal.


Namun keputusan atasannya itu sudah mutlak, tidak terbantahkan lagi.

__ADS_1


Kasih dukungannya ya jangan lupa like, komentar, vote, kasih gift dan favorite. makasihh semuanyaa😘


__ADS_2