Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Mendadak bodoh!


__ADS_3

Ryan yang sedang meeting dengan para anggotanya berdecak kesal karena sejak tadi ponselnya berbunyi dan itu sangat mengganggu jalannya meeting tersebut.


"Pak, lebih baik angkat dulu teleponnya, siapa tahu penting," usul salah satu anggotanya, dan di angguki anggota yang lainya.


Ryan mengambil ponselnya dari kantong celananya kemudian ia menatap layar ponselnya, dan ternyata yang menghubunginya adalah istrinya sendiri, tidak menunggu lama ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Ya, Halo, sayan—"


"Pak Ryan, segera ke rumah sakit xx! Si bule eh maksudnya Crystal akan melahirkan!" ucap seorang wanita di seberang sana, yang tak lain adalah Cindy.


"Apa?! Bagaimana bisa? Seharusnya 'kan satu minggu lagi?" tanya Ryan dengan bodohnya.


Sedangkan Cindy yang ada di seberang sana merasa kesal sendiri ketika mendengar pertanyaan bodoh dari Ryan. "Tidak usah banyak tanya! Crystal sangat membutuhkan anda saat ini!" ucap Cindy, lalu memutus sambungan telepon itu secara sepihak.


"Dasar pria bodoh! Kalau minta jatah saja tidak mau di tunda tapi giliran istri mau melahirkan saja pura-pura lupa ingatan!" gerutu Cindy dengan gemas.


*


*


*


Ryan menatap layar ponselnya setelah panggilan telepon itu berakhir. Ia masih mencerna semua perkataan Cindy, ia tidak percaya jika istrinya akan melahirkan.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" tanya salah satu anggotanya, ketika melihat atasannya itu berdiri mematung.


"Dapat kabar jika istri saya akan melahirkan," jawab Ryan, masih dengan wajah bingungnya.


"Lalu kenapa bapak masih berada di sini? Bapak harusnya segera menemani istri anda berjuang melahirkan buah hati kalian," ucap salah satu anggotanya geram dengan atasannya yang mendadak bodoh.


"Tapi, HPL nya masih satu minggu lagi," jawab Ryan dengan bodohnya.


"Pak!!! Apakah saya harus menggantikan posisi anda menjadi suami Ibu Crystal?!" tanya anggota lainnya.


Mendengar ucapan anggotanya membuat Ryan meradang, lalu ia segera keluar dari ruangan tersebut tanpa permisi, menuju rumah sakit di mana Istrinya ada di sana.


*


*


*


Nafas Ryan terengah, ia menoleh ke kiri dan ke kanan melihat sekelilingnya dan ia melihat Cindy juga seorang pria yang ada di depan ruang bersalin.


"Cin!" seru Ryan, menghampiri kedua orang itu.


"Pak! Cepat masuk ke dalam ruangan bersalin itu Crystal sudah menunggu dari tadi," ucap Cindy sembari menunjuk salah satu ruangan yang ada disana.

__ADS_1


Ryan mengangguk pelan dan dengan cepat ia memasuki ruangan tersebut.


Dada Ryan bergemuruh ketika melihat istrinya berteriak kesakitan di atas tempat tidur pasien di temani oleh Caramel yang berusaha untuk menenangkan Crystal.


"Sayang," ucap Ryan bergetar, matanya mengembun karena tidak kuasa untuk menahan kesedihannnya.


"Anda sudah datang, Pak!" ucap Caramel, menoleh ke arah Ryan yang berdiri tidak jauh darinya.


Ryan berjalan mendekati istrinya, dan dengan sigap Caramel memundurkan dirinya untuk memberi ruang kepada Ryan.


"Kata dokter baru pembukaan tujuh, mungkin setengah jam lagi pembukaan jalan lahirnya akan sempurna," jelas Caramel, dan di angguki oleh Ryan.


"Terima kasih," ucap Ryan lirih, menggenggam tangan istrinya menyalurkan kekuatan disana.


"Sakit!" lirih Crystal sembari menggertakkan giginya dengan kuat, ketika rasa sakit itu kembali datang. Crystal menatap suaminya berkaca-kaca.


"Aku di sini, kamu kuat sayang," ucap Ryan dengan suara yang bergetar, ia menahan tangisnya. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa bagi Ryan yang pernah ia alami selama perjalanan hidupnya.


Melihat orang yang di cintainya kesakitan dan berjuang untuk melahirkan buah cinta mereka ke dunia.


"Mel, tolong hubungi seluruh keluargaku," pinta Ryan, dan Caramel menganggukkan kepalanya, kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Dan tidak berselang lama, seorang suster memasuki ruangan bersalin tersebut untuk memeriksa pembukaan jalan lahir Crystal.

__ADS_1


Kok gemes sama Abang Ryan yang mendadak bodoh ya. Tapi gemesnya tuh pengen ngecup bibirnya🤣


__ADS_2