Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Nikahkan mereka berdua!


__ADS_3

Raya menyilangkan ke dua tangannya di dada dan menatap tajam suaminya yang baru memasuki rumah. Devan menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat aura kemarahan di raut wajah istrinya.


"Ehm." Devan berdehem pelan dan menjadi salah tingkah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hebat! Sungguh hebat sekali kamu jadi orang tua!" Raya berucap dengan nada berapi-api dan menatap suaminya dengan sangat tajam.


"Sayang, kamu ngomong apa sih?" Devan berusaha untuk berkilah.


"Tidak usah berkilah lagi! Aku sudah tahu semuanya! Kau benar-benar membuatku kecewa!" Raya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Sekarang antarkan aku bertemu dengan pria itu!" lanjut Raya dengan tegas, membuat Devan terkesiap.


"Sayang, saat ini sudah malam, lebih baik besok saja. Aku berjanji akan membawamu untuk menemuinya," ucap Devan, berjalan mendekati istrinya dan ingin meraih tangan Raya, akan tetapi tangannya langsung di tepis dengan kasar oleh Raya.


Raya manarik nafasnya dengan dalam dan menghembuskannya dengan kasar, lalu matanya menatap jam yang menempel di dinding ruang tamu tersebut dan ternyata waktu sudah menunjukan jam 11 malam.


"Baiklah! Tapi, beri aku penjelasan!" Raya mendundukan diri di sofa ruang tamu tersebut dan di ikuti oleh Devan yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Penjelasan apa?"


PLAK


"Awwww!!" Devan mengaduh kesakitan, saat pahanya di pukul dengan keras oleh istrinya.


"Berulang kali kamu membuatku kecewa! Dan sifatmu itu tidak pernah berubah sangat menyebalkan dan juga—" Raya tidak melanjutkan ucapannya, namun ia mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sudah terlalu lelah dengan sikap suaminya.


"Bukan hanya aku yang salah, akan tetapi ide untuk menjadikan Safira memancing Jeff adalah ide Daddy." Berusaha untuk membela dirinya sendiri dan tidak ingin di salahkan.


"Lalu dimana peranmu sebagai orang tua, yang seharusnya melidungi putrinya, akan tetapi ini malah menjerumuskan! Apa kamu tidak tahu imbas perbuatanmu?!" Raya berucap dengan penuh emosi.


Devan terdiam dan mencerna setiap kata Raya yang masuk kedalam otaknya.


"Safira terjerat cinta dengan pria itu, dan dia menjadi tersakiti di sini. Dia sudah sangat mencintai pria itu! Apa kamu tidak merasa bersalah dengan putrimu?! Coba kalau situasi ini terjadi kepada hubungan kita! Apa kamu bisa menjalaninya? Safira menjadi korban ke egoisan kalian dan pria itu menjadi korban ke egoisan dan juga kekuasaanmu!"


"Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu di ucapkan oleh Devan.

__ADS_1


"Hanya maaf yang bisa kamu ucapkan? Heh, lalu dimana pikiranmu saat kau menyuruh Safira mendekati Jeff? Sekarang bagaimana nasib putriku yang malang itu," ungkap Raya terisak perih, membayangkan kesengsaraan putrinya yang mencintai seorang pria yang salah menurutnya.


Devan masih terdiam membisu, namun otaknya bekerja keras memikirkan bagaimana caranya membuat Safira bisa melupakan Jeff.


"Aku harap kamu bisa memberikan jalan keluar dari masalah ini!" ucap Raya, dengan tegas.


"Aku akan mengirim Safira ke Kanada!" tegas Devan.


"Apa semudah itu? Ini masalah hati dan juga perasaan putrimu!" Raya tidak setuju dengan rencana Devan.


"Lalu bagaimana lagi? Hanya ini lah salah satu cara agar Safira bisa melupakan Jeff," jelas Devan.


"Bebaskan Jeff dari penjara dan nikahkan mereka berdua!" usul Raya, yang membuat Devan naik pitam.


"Apa kamu sudah gila!!" Devan beranjak dari duduknya dan menuding wajah istrinya dengan perasaan yang sangat emosi.


Seperti biasa kasih dukungan buat author dengan cara tekan Favorite, like, vote, komentar dan kasih Gift seiklas kalian❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2