
Malam hari telah tiba, di kamar mewah terdengar suara tangisan bayi yang terdengar nyaring di telinga, membuat kedua orang tua sang bayi kebingungan.
"Ryan, kenapa bayi kita terus menangis? Padahal baru saja selesai menyusu," ucap Crystal kepada suaminya yang baru keluar dari kamar mandi.
Ryan berjalan mendekati ranjang di mana istri dan putranya berada di sana.
Ya, Ryan dan Crystal memutuskan untuk merawat putra mereka sendiri tanpa jasa baby siter. Mereka ingin merasakan bagaimana menjadi orang tua yang sesungguhnya. Ryan dan Crystal tidak ingin melewatkan tumbuh kembang putra mereka.
"Mungkin popoknya basah, Crys," ucap Ryan, memeriksa popok putranya dengan hati-hati.
"UH!! Putra Papa mengeluarkan amunisi ternyata, pantas saja," seru Ryan, sembari menutup hidungnya dengan lengannya kirinya. Karena bau khas amunisi itu sangat menyengat di hidungnya. Walau begitu Ryan tidak jijik sama sekali.
"Maaf, aku tidak tahu," ucap Crystal dengan lesu. Dia merasa menjadi ibu yang buruk.
"Tidak apa sayang, kita belajar bersama-sama," ucap Ryan, menenangkan istrinya.
Sedangkan Crystal beranjak dari atas tempat tidur dengan perlahan untuk mengambil popok baru dan kapas steril yang tergeletak di dekat tempat tidur Aksa, lalu di berikan kepada suaminya.
__ADS_1
Ryan mengganti popok putranya dengan telaten, dan Crystal menatap suaminya dengan penuh kekaguman. Crystal merasa menjadi wanita beruntung di dunia ini karena mempunyai suami paket komplit seperti Aaron Ryan.
"Sudah selesai," ucap Ryan, lalu mengangkat tubuh mungil putranya kedalam dekapan hangatnya, lalu mencium pipi Aksa berulang kali dengan gemas.
Aksa terlihat tersenyum tipis sambil menatap Ayahnya. Sepertinya bayi mungil itu sangat suka di cium Ayahnya.
Crystal tersenyum bahagia melihat pemandangan yang menyejukkan matanya dan juga membuat hatinya tenang. Kemudian ia membereskan popok bekas tersebut, membungkusnya dengan plastik dan membuangnya ke tempat sampah.
"Aku harus belajar lebih banyak lagi agar bisa menjadi ibu yang baik," ucap Crystal, lalu memeluk pinggang suaminya dari samping.
Crystal mengusap pipi gembul putranya dengan lembut. "Anak-anak? Memangnya kamu mau berapa anak dariku?" tanya Crystal.
"Lima atau tujuh," jawab Ryan, membuat Crystal melotot sempurna.
"Memangnya kamu kira, aku ini anak kucing! Yang ini saja rasanya masih sakit!" sungut Crystal, sembari menunjuk selangkangannya, disambut gelak tawa suaminya.
"Ha ha haa, aku hanya bercanda sayang," ucap Ryan di selingi dengan tawa, lalu menimang putranya yang sudah mulai menguap.
__ADS_1
"Memangnya masih sakit?" tanya Ryan, menatap istrinya itu dengan penuh cinta, kemudian ia mengecup pipi Crystal dengan lembut.
"Masih, sakit banget," jawab Crystal dengan manja.
"Maaf ya, karena ulahku kamu menjadi kesakitan seperti ini," ucap Ryan, merasa sedih dan ia kembali mengingat istrinya kesakitan saat akan melahirkan putranya.
"Untuk apa kamu meminta maaf? Sudah kodratku sebagi wanita memberikamu keturunan, hadirnya Aksa di antara kita semakin memperkuat cinta kita," jawab Crystal lalu mengecup pipi suaminya dengan mesra.
"Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu," ucap Ryan. Kemudian ia meletakkan putranya yang sudah terlelap diatas tempat tidur dengan perlahan.
Setelah itu ia menegakkan punggungnya dan menatap istrinya dengan dalam. Lalu ia meraih tengkuk Crystal dan melabuhkan ciuman lembut di permukaan bibir istrinya.
"I Love You," ucap Ryan, disela ciumannya.
"Me too," balas Crystal, dengan penuh cinta. Lalu bibirnya keduanya bertaut kembali, penuh dengan kelembutan, menyalurkan rasa cinta dan kasih sayangnya.
Gimana tuh kalau punya suami paket komplit kayak abang Ryan. Paket komplitnya pakai telor dan di bungkus pakai karet dua, biar nggak ketuker🤣🤣🤣🤣
__ADS_1