
Hari berlalu begitu cepat dan tidak terasa kandungan Crystal sudah berusia 8 bulan, perut ibu hamil itu semakin terlihat membesar.
"Crys, sudah belajarnya," tegur Ryan, karena hari sudah malam, akan tetapi istrinya itu masih sibuk dengan buku-buku dan juga laptop yang ada di meja belajarnya itu.
"Kamu tidur dulu, Ryan. Aku harus segera menyelesaikan skripsiku sebelum aku melahirkan nanti," ucap Crystal tanpa menoleh, matanya terfokus pada layar laptop tersebut dan jari-jarinya berselancar di atas keybord laptop itu. Waktu Crystal untuk mengerjakan skripsinya tinggal 28 hari lagi, sebelum ia memasuki HPLnya.
"Apa tidak bisa dilanjut besok saja? Ini sudah tengah malam tidak baik jika kamu begadang terus seperti ini," ucap Ryan, terdengar kesal.
Crystal sangat giat mengerjakan skripsinya itu. Hingga terkadang lupa waktu dan juga lupa makan. Membuat Ryan sangat khawatir dengan kesehatan istri dan juga bayinya yang belum lahir itu.
"Sebentar lagi, sayang," jawab Crystal, masih kekeh dan tidak beranjak dari duduknya.
Ryan beranjak dari atas tempat tidur lalu berjalan mendekati Crystal, kemudian menggendong tubuh istrinya dengan paksa dan merebahkannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Ya!! Ryan! Aku belum selesai!!!" kesal Crystal, ketika tubuhnya di dekap oleh suaminya di atas tempat tidur.
"Sudah malam, Crys!! Waktunya istirahat dan tidur! Oh, atau kamu ingin olah raga malam dulu, hem?" tanya Ryan, sembari menggigit cuping telinga istrinya itu dengan lembut, membuat tubuh Crystal meremang.
"Tidak, terima kasih. Aku tidur sayang," jawab Crystal, lalu memejamkan matanya dengan erat. Bisa tidak tidur semalaman jika dirinya melayani gairah suaminya itu.
"Padahal aku sangat ingin menjenguk, baby kita," ucap Ryan lagi, tidak serius mengatakannya karena ia hanya ingin mengerjai istrinya itu.
Ryan terus mengusap perut Crystal menyalurkan rasa nyaman kepada istrinya, hingga membuat Crystal merasa tenang dan tidak berselang lama istrinya itu terlelap dalam tidurnya.
"I Love You, sayang," ucap Ryan, menatap wajah damai istrinya dari atas samping yang terlihat sangat damai. "Terima kasih sudah mau berjuang mengandung anakku," lanjut Ryan, mengecup pipi Crystal dari samping.
Dan tidak berselang lama, Ryan pun memejamkan matanya, ikut telelap dan mengarungi mimpir bersama istrinya. Namun baru beberapa saat memejamkan matanya, tidur Ryan terusik karena merasakan pergerakan dari istrinya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa?" tanya Ryan, membuka kedua matanya dan melihat istrinya terlihat gelisah.
"Punggungku sakit dan pegal," keluh Crystal, merubah posisi tidurnya yang awalnya membelakangi Ryan kini menjadi menghadap ke suaminya.
Jika istrinya sudah mengeluh begitu, Ryan harus bersiap untuk terjaga sampai pagi. Karena semenjak usia kehamilan Crystal sudah memasuki 8 bulan, istrinya itu sudah mulai kesulitan untuk tidur dan sering mengeluh sakit punggung. Maka dari itu, Ryan sudah tidak berani untuk menyentuh istrinya lagi dan bersiap untuk menjadi suami yang siaga untuk istirnya.
"Sini, aku akan mengusap punggungmu," ucap Ryan, menarik istrinya agar lebih mendekat kepadanya. Kemudian ia mengusap punggung istrinya dengan sangat telaten dan penuh kelembutan, membuat Crystal sangat nyaman dan mulai memejamkan matanya lagi.
"Sayang, aku haus," ucap Crystal, membuka kedua matanya lagi.
Ryan menghembuskan nafasnya, kemudian ia bangun dari tidurnya dan mengambil sebotol air mineral yang ada di dalam kulkas yang ada di sudut kamar itu dan memberikannya kepada istrinya. Rasa lelahnya dan kantuknya yang saat ini ia rasakan tidak ada artinya di bandingkan dengan perjuangan istrinya yang tengah mengandung buah hatinya.
Sabar banget sih abang Ryan ini, love banget deh❤❤❤
__ADS_1