Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Untuk sebuah nama


__ADS_3

Tidak berselang lama Safira turun dari lantai dua dan sudah berganti pakaian.


"Kamu mau kemana?" tanya Raya, yang masih berdiri di ruang tamu bersama Crystal.


Safira menghentikan langkahnya sejenak, tanpa menjawab pertanyaan ibunya, kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi.


"Lihat adikmu sudah di butakan dengan cinta!" kesal Raya, ketika putri keduanya mengabaikannya.


"Mi, setiap orang pernah melakukan kesalahan bukan? Termasuk aku dan juga Ryan yang pernah melakukan kesalahan yang lebih fatal dari ini bahkan melukai hati Mami dan Papi, tapi sekarang posisi terbanding terbalik, Safira lah yang tersakiti di sini, apa kalian tidak memikirkannya?!" ungkap Crystal, setelah mengatakan hal yang mampu membut hati Raya tersentil, ia langsung menuju kamarnya untuk menghubungi suaminya.


*


*


*


"Fir, kamu mau kemana?" tanya Aries, ketika melihat Safira membuka pintu mobil.


"Bukan urusanmu! Tugasmu sudah selesai bukan?! Jadi, jangan pernah mengikuti aku lagi!" ucap Safira, lalu memasuki mobilnya tanpa memperdulikan Aries yang mamatung disana.

__ADS_1


Safira segera melajukan mobilnya kesuatu tempat, pada saat ia keluar dari gerbang rumahnya dan di saat yang bersamaan mobil yang di kendarai ayahnya memasuki halaman rumah tersebut.


"Mau kemana Safira?" tanya Devan, kepada Aries sambil menatap mobil yang di kendarai putrinya mulai menjauh.


"Mengerjakan tugas kampusnya," jawab Aries berbohong, karena ia yakin jika Safira akan menemui Jeff di tahanan.


"Kenapa kamu tidak mengikutinya?"


"Karena tugas saya sudah selesai!" jawab Aries tegas, lalu membungkuk hormat kepada Devan dan segera pamit undur diri.


"Aku ingin kamu menjadi bodyguard anakku untuk seterusnya," ucap Devan, menghentikan langkah Aries.


Aries membalikkan badannya dan menatap Devan. "Maaf, Tuan. Saya tidak bisa," tolak Aries, dengan sangat sopan.


Karena aku tidak sanggup melihat Safira mencintai pria lain, sedangkan diriku juga mencintainya. Batin Aries, perih.


Biarkan lah dirinya memendam perasaannya itu sendiri. Mencintai Safira dalam diam dan melihat Safira tersenyum itu sudah cukup baginya.


Bukan tidak ingin memperjuangankan cintanya, akan tetapi saat melihat cinta Safira yang begitu besar untuk Jeff, membuatnya mundur karena dia tidak ingin memaksakan perasaan cintanya kepada Safira. Bukankah kata orang, Jodoh itu tidak akan kemana? Begitu pikir Aries.

__ADS_1


"Bukan karena uang, ada tugas lain yang harus saya kerjakan," jawab Aries, menolak halus agar tidak menyinggung perasaan Devan.


"Oh, baiklah. Aku mengerti," jawab Devan, seraya mengangguk pelan.


"Terima kasih, Tuan," ucap Aries, lalu segera menaiki motor sportnya.


Aries mengendarai motor sportnya dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Pikirannya saat ini tertuju pada Safira. Senyuman dan tatapan sendu gadis itu terus berputar di kepala Aries.


Apa aku sanggup untuk melupakannya? Batin Aries, sambil terus memacu kendaraannya, memecah jalanan kota yang sangat ramai di malam itu.


Ia menghentikan motornya saat lambu lalu lintas menujukan warna merah, bertanda jika semua pengendara sepeda motor atau mobil harus menghentikan laju kendaraannya.


Aries mengambil ponselnya dan membuka galerinya, di sana ada beberapa foto Safira yang ia ambil secara diam-diam. Ia mengusap layar ponselnya dan senyumnya terkembang saat melihat foto Safira yang tersenyum ceria.


Untuk sebuah nama yang telah lama aku rasa, yang telah ku kagumi dengan cinta yang tersembunyi.


Untuk sebuah nama, pandangi aku dengan senyum itu, aku tidak akan mampu untuk melepaskanmu, dan biarkan ini semua menjadi harapanku.


Walau aku tidak akan bisa lari dari cinta yang tak mungkin ku milikki. Batin Aries terasa sesak di dadanya, lalu memasukan ponselnya kedalam kantong jaketnya, dan ia melajukan motornya lagi karena rambu lalu lintas sudah menunjukan warna hijau.

__ADS_1


Nyesek banget dada aku, 😭


Jangan lupa dukungannya, ya😘😘


__ADS_2