
Sebelum menandatangani surat perjanjian tersebut, Jeff membacanya berulang kali sampai dirinya paham.
"Apa ini tidak salah?" tanya Jeff, mendongak dan menatap Devan dengan kening yang berkerut dan raut wajah yang terkejut.
Apakah pria itu sudah gila! Memberikan salah satu perusahaannya kepada dirinya? Jeff tidak habis pikir dengan semua itu! Atau ada niat terselubung di balik semua ini?
Salahkah dirinya jika mempunyai pikiran negatif kepada Devan, mengingat dulu mereka adalah rival!
"Aku memberikan semua itu untuk menebus rasa bersalahku kepadamu, aku benar-benar menyesali semua perbuatanku di masa lalu. Yang membuatmu kehilangan ibumu dan juga membuatmu tersiksa." Devan berucap dengan penuh penyesalan.
"Aku terima permintaan maafmu. Tapi, aku tidak bisa menerima ini." Jeff, meletakkan surat perjanjian tersebut di atas meja. Dengan tegas pria itu menolak pemberian Devan.
"Kenapa?" tanya Devan, ada rasa kecewa di dalam hatinya ketika menerima penolakan itu. "Apa kamu takut, jika aku akan memintamu menjauhi Safira?" tebak Devan.
"Aku tidak pernah takut dengan apa pun. Jika hal itu terjadi, aku akan membawa kabur Safira sejauh mungkin," jawab Jeff, tersenyum miring, membuat Devan berdecak kesal.
"Segitunya kau mencintai putriku?" Devan bertanya, sambil menggeleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tapi, memang kenyataanya cinta Jeff dan Safira begitu besar. Selama 8 tahun pasangan itu memperjuangkan cinta mereka. Walau harus tersiksa dalam kerinduan dan sebuah penantian.
Mata dan hati Devan terbuka lebar, ketika melihat perjuangan cinta putrinya.
"Sangat!" jawab Jeff dengan tegas.
"Maka dari itu jangan menolak pemberianku ini! Anggap saja ini bekal untuk dirimu di masa depan. Apa kamu pikir menghidupi putriku tidak membutuhkan biaya?!" sindir Devan dengan pedas.
Jeff tidak tersinggung karena dia saat ini tidak punya apa-apa. Seluruh harta bendanya di sita, bersamaan saat dirinya masuk ke dalam jeruji besi.
Bibir Jeff melengkung ketika mendengar kalimat terakhir Devan. "Baiklah, aku menerimanya!" Jeff, menyambar surat perjanjian itu, lalu menandatanginya.
"Terserah apa yang ingin kamu katakan! Yang penting aku sudah mendapatkan harta dan juga restu dari orang tua kekasihku." Jeff berkata datar namun mengandung tawa, hingga membuat Devan tergelak, begitu pula Ryan yang sejak tadi diam di pojokan sambil memainkan ponselnya ikut tergelak keras.
"Dasar edan!" umpat Devan, menggelengkan kepalanya berulang kali.
*
__ADS_1
*
*
Disisi lain Safira sedang berada di rumah orang tuanya sambil bermain dengan Aksa di ruang keluarga. Gadis itu nampak gelisah, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Crystal, menyenggol lengan adiknya.
"Ah, tidak. Aku hanya saja memikirkan—"
"Jeff?" potong Crystal, dan Safira menganggukkan kepalanya.
"Apa yang kamu pikirkan? Semua akan baik-baik saja. Papi sudah berubah dan akan merestui kalian," jelas Crystal, dan kemudian ia menjelaskan semua rencana Papi Devan kepada adiknya.
Wajah Safira yang tertunduk lesu tidak bersemangat kini terlihat sangat ceria.
"Benarkah?" Safira memastikan, Crystal menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
"Ah, senengnya." Safira berseru lalu memeluk Kakaknya dengan erat.
"Nggak bisa nafas, ogeb!" keluh Crystal, saat ia merasa engap ketika di peluk Adiknya dengan sangat erat.