
Hari terus bergulir begitu cepat dan tidak terasa Baby Aksa sudah berusia empat bulan. Dan Crystal pun sudah selesai lulus kuliah dan sudah selesai wisuda. Sedangkan Ryan belum berani menyentuh istrinya. Pria itu merasa takut jika istrinya nanti akan kesakitan, mengingat perjuangan Crystal saat melahirkan Aksa dulu sepertinya menjadikan trauma tersendiri bagi Ryan.
Perkembangan Aksa sangat cepat, kini balita itu sudah bisa tengkurap dan badannya semakin gembul, tampak menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Aksa," panggil Ryan, mendekati putranya yang sedang tengkurap di atas tempat tidur sembari menghisap jembol tangannya.
"Apakah jempolmu rasanya nikmat? Apa lebih nikmat dari biskuitmu ini?" tanya Ryan, sembari menyodorkan biskuit bayi ke pada Aksa. Tapi, sepertinya balita kecil itu tidak tertarik dengan biskuit yang di pengang Papanya.
"Oh, ayolah Boy. Makan biskuitmu ini akan lebih kenyang," ucap Ryan lagi.
Aksa mendongakkan kepalanya dan tersenyum tipis menatap Ryan, memperlihatkan dua gigi susunya yang tumbuh di bagian bawah. Balita itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Nah ini peganglah dan makan." Ryan meletakkan biskuit tersebut di genggaman tangan putranya.
Aksa menekuk bibirnya ke bawah, tidak berselang lama balita itu menangis keras dan membuang biskuit yang ada di tangannya.
"Hei, kenapa malah menangis? Kamu tidak suka dengan biskuitnya? Atau kamu sudah bosan? Apa kamu mau makan ayam goreng seperti upin dan ipin?" tanya Ryan beruntun, lalu menggendong putranya dan menenangkannya.
__ADS_1
Crystal yang baru saja keluar dari kamar mandi, menggeleng kepalanya pelan ketika melihat tingkah suaminya yang absurd.
Yang benar saja, balita seumuran Aksa di tawarkan Ayam goreng! pikir Crystal.
"Aksa haus sayang," ucap Crystal, mendekati Ryan yang sedang menggendong Aksa di dekat jendela kamar.
Ryan menoleh dan tersenyum menatap istrinya yang sudah terlihat sangat cantik dengan dress rumahan atau yang biasa di sebut dengan daster.
"Lihatlah, Boy. Mama sangat cantik sekali bukan?" tanya Ryan kepada putranya yang masih merengek.
Aksa menatap ibunya sembari mengulurkan kedua tangannya, bertanda jika meminta di gendong oleh Crystal.
"Sayang, seharusnya kamu mengerti jika aku masih terlalu takut untuk menyentuhmu," ucap Ryan, seraya menghela nafasnya dengan kasar.
"Aku sudah bilang berulang kali, jika aku akan baik-baik saja!" sahut Crystal sewot, sembari membuka botol gantungnya dan mulai menyusui putranya.
"Ya, maaf jika membuatmu kecewa. Nanti malam kita coba," jawab Ryan pada akhirnya. Crystal memutar kedua bola matanya dengan malas, menanggapi ucapan suaminya.
*
__ADS_1
*
*
Disisi lain Safira kini sedang duduk di kursi panjang di sebuah taman. Taman kota di mana dulu dia dan Jeff pertama kali bertemu.
Safira menundukkan kepalanya sembari mengelus cincin berlian yang masih melingkar di jari manisnya.
"Aku merindukanmu," gumamnya seraya mendongak, menatap langit cerah di sore hari itu.
"Aku salut dengan kesetiaanmu," ucap seorang pria yang tiba-tiba duduk di samping Safira.
"Kau!" Safira menuding wajah pria tersebut yang tidak lain adalah Aries.
"Ya, aku tidak sengaja lewat di sekitar taman ini. Dan tidak sengaja aku melihatmu termenung di sini." Menjelaskan kepada Safira, karena ia tidak ingin gadis itu salah paham kepadanya.
"Heum!" Safira hanya berdehem saja.
Keluarin Safira lagi, biar rameš¤£
__ADS_1