
Devan menuding istrinya dengan perasaan penuh emosi.
"Jangan mengada-ada kamu! Hukum tetaplah hukum!" sentak Devan, menatap tajam Raya.
"YA!" teriak Raya, lalu menepis tangan suaminya yang menuding wajahnya. "Aku hanya memberi saran! Kenapa kau menjadi marah denganku!"
"Bagaimana aku tidak marah, jika saranmu begitu menyesatkan?!" teriak Devan tidak kalah kencang.
Mata Raya kian menajam dan menatap suaminya sengit. "Sudah berani membentakku!"
"Tidak! Siapa yang membentakmu? Aku hanya berkata apa adanya, jika saranmu menyesatkan," ucap Devan, memalingkan wajahnya karena ia tidak berani menatap wajah istrinya yang tampak mengerikan jika sedang marah.
"Mam, Pi? Kalian kenapa bertengkar?" tanya Safira, yang baru memasuki rumah dan di susul oleh Ryan di belakangnya.
"Tidak, kami tidak bertengkar hanya bertukar pendapat," sangkal Raya, tersenyum manis.
"Owh," jawab Safira, mengangguk mengerti. "Jangan bertengkar hanya karena aku," lanjut Safira tersenyum lembut, menatap orang tuanya bergantian.
"Tentu saja tidak, Sayang," jawab Raya, menatap putrinya dengan penuh kesedihan.
Sebagai seorang ibu yang mempunyai ikatan batin yang kuat, tentu saja ia tahu dengan apa yang di rasakan Safira saat ini.
__ADS_1
"Mi, Pi, aku ke kamar dulu," pamit Ryan, memberikan ruang kepada Safira untuk berbicara dengan ke dua orang tuanya dari hati ke hati.
"Iya, silahkan. Kamu sudah bekerja keras hari ini," ucap Devan, begitu pun Raya turut menganggukkan kepalanya bertanda jika dirinya setuju dengan ucapan suaminya.
Ryan tersenyum dan segera berjalan menuju tangga untuk mencapai kamarnya yang ada di lantai tiga.
"Kenapa tidak menggunakan lift?" tanya Devan, sedikit berteriak.
"Olah raga, Pi. Biar tambah kuat," jawab Ryan sekenannya, membuat Devan menganggukkan kepalanya berulang kali.
*
*
"Fir, Mami minta maaf karena perkataan Mami beberapa waktu yang lalu menyakiti hatimu," ucap Raya, menggenggam tangan putrinya dengan lembut.
"Tidak apa, Mi," Jawab Safira, memaksa tersenyum.
Devan menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia duduk di sebelah kiri Safira dan merangkul pundak putrinya. "Papi minta maaf karena secara tidak sengaja menempatkanmu pada posisi yang tidak mengenakan ini," ucap Devan, seraya mengelus pundak putrinya berulang kali.
"Aku tidak apa, Pi. Jangan pikirkan perasaanku," ucap Safira, menatap Ayahnya dengan sendu.
__ADS_1
Mendengar ucapan putrinya membuat Devan menjadi sangat bersalah.
"Fir, Papi ingin yang terbaik untukmu, kamu mengerti 'kan dengan perkataan Papi?" tanya Devan, dan Safira mengangguk pelan.
Raya beranjak dari duduknya, karena ia juga ingin memberikan ruang kepada Ayah dan anak itu agar bisa menyelesaikan permasalahan mereka.
"Fir, kamu menyayangi Papi?"
Safira terdiam namun hanya sesaat, kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan. "Aku sangat menyayangi Papi, dan sangat mencintai Papi, karena Papi adalah pria pertama yang memberikan cintanya kepada putrinya tanpa syarat. Begitu pula dengan ku, Papi adalah cinta pertamaku." Safira mengucapkan kata demi kata dengan nada yang bergetar.
"Jika kamu menyayangi, Papi, bolehkan Papi meminta satu hal kepadamu?"
"Tentu saja, Pi, katakan saja permintaan Papi," jawab Safira, menatap wajah Ayahnya yang sudah mulai ada kerutan.
"Berjanjilah jika kamu akan mengabulkan permintaan Papi," ucap Devan, lalu menggenggam tangan Safira dengan erat.
"Jika hal itu bisa membuat Papi bahagia, maka aku akan mengabulkannya."
"Jauhi Jeff mulai dari sekarang dan Papi akan membantunya agar dia tidak di hukum mati, dan juga mengurangi masa tahanannya," pinta Devan, dengan berat hati.
DEG
__ADS_1
Seperti biasa kasih dukungan buat author dengan cara tekan Favorite, like, vote, komentar dan kasih Gift seiklas kalian❤❤❤