Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Hukuman untukku?


__ADS_3

Ryan langsung memerintahkan para anggotanya untuk bergerak cepat. "Perketat penjagaan di bandara, terminal, pelabuhan, atau pun di stasiun dan lakukan pemeriksaan kepada setiap orang yang masuk di area yang saya sebutkan tadi!" tegas Ryan. Karena ia yakin jika Jeff akan keluar dari negara ini.


"Siap, Pak!" Mereka menjawab kompak, kemudian membubarkan diri untuk mengerjakan perintah dari atasannya.


Ryan menggertakkan giginya dengan kesal, lalu ia berjalan menuju salah satu sel tahanan dimana salah satu sipir yang membebaskan Jeff di tahan disana.


"Bagaimana? Apa sudah mendapat jawaban?" tanya Ryan dengan suara datarnya.


"Belum, Pak."


"Apakah pekerjaan mudah seperti ini harus saya juga yang turun tangan!!" sentak Ryan, dan menatap tajam salah satu polisi yang bertugas untuk mengintrogasi sipir tersebut.


"Mohon maaf, Pak. Sipir ini tetap bungkam, padahal saya sudah melakukan berbagai cara," jawabnya apa adanya, sembari menundukan kepalanya, karena tidak berani menatap atasannya.


"Hem, mungkin caramu sangat halus, maka dari itu dia sedikit melunjak!" Ryan terseyum devil, melangkah lebih dekat menuju sipir tersebut yang sedang terduduk dengan kondisi tangan terborgol.


Glek


Sipir tersebut menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat atasannya mendekatinya, dan ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Benarkah kamu tetap bungkam?!" tanya Ryan, dengan nada pelan namun penuh penekanan dan ancaman.


"Maaf pak, saya—"


BRAK

__ADS_1


"Katakan yang sejujurnya!" sentak Ryan, menggebrak meja kaca yang ada di hadapan Sipir tersebut hingga hancur dan membuat pecahan kaca dari meja tersebut berhambur memenuhi lantani di ruangan itu.


Melihat kemarahan Ryan, membuat kedua orang yang ada disana bergetar ketakutan.


"Apakah caraku masih terlalu halus?" tanya Ryan, sembari menengadahkan tangannya kepada Polisi yang ada di sana, bertanda jika ia meminta kain untuk mengelap darah yang keluar dari tangannya, akibat terkena pecahan kaca.


Polisi tersebut dengan sigap mengambil kain apa saja yang ada di dekatnya dan memberikannya kepada Ryan.


"Terima kasih," ucap Ryan, ketika menerima kain tersebut, lalu menyeka tangannya dengan kain tersebut. Ryan seperti sudah mati rasa jika hanya mendapat luka seperti itu, ia tidak merasa kesakitan sedikit pun.


Bahkan wajahnya terlihat sangat datar dan mengerikan.


"Maafkan saya, Pak. Saya terpaksa melakukannya—" kemudian menjelaskan kejadian di malam itu di mana ia menjaga di dekat sel tahanan Jeff.


Ryan mendengarkan dengan seksama, sembari menatap raut wajah dan mata Sipir tersebut, guna melihat ada kebohongan atau tidaknya disana.


"Terimakasih, Pak," ucap Sipir tersebut tersenyum senang.


"Tapi, kamu tetap berada di pengawasan kami dan kamu dengan terpaksa si pecat dengan tidak hormat!" tegas Ryan, membuat senyum di wajah Sipir tersebut lenyap seketika.


"Pak, saya sudah mengatakan yang sejujurnya."


"Saya tahu! Apa kamu lupa dengan hukum yang berlaku? Bagaimana pun juga, kamu tetap mengeluarkan Jeff dari sel tahanan, walaupun itu semua bukan murni kesalahanmu! Sekarang pilih, kamu ingin mendekam di sel yang dingin itu atau di pecat dengan tidak hormat?!" tanya Ryan, memberikan dua pilihan. Karena kesalahan Sipir tersebut dalam kategori yang sangat fatal, jadi Ryan tidak memberi toleransi sedikit pun.


Sipir tersebut menundukan kepalanya. "Saya pilih yang kedua," jawabnya pelan dan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Piihan yang bagus!" ucap Ryan, lalu segera keluar dari rungan tersebut.


*


*


Ryan memasuki ruangannya, lalu mendudukan dirinya dengan kasar di kursi kebesarannya.


"Awas kau Jeff, jika sudah tertangkap kembali, aku tidak akan mengampunimu!" geram Ryan, lalu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi tersebut, seraya memijat pangkal hidungnya.


Ryan menegakkan punggungnya lagi, ia menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mengendus aroma terapi yang ada di ruangannya. "Kenapa bau sekali," gumam Ryan, sembari mengibaskan tangannya di depan hidungnya. Perutnya tiba-tiba bergejolak seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari sana.


"Hoek," Ryan langsung berlari menuju kamar mandi.


"Kenapa kamu menyiksa, Papa, Nak?" gumam Ryan, ketika ia sudah selesai mengeluarkan isi perutnya.


Tiba-tiba, ia sangat merindukan istrinya, Crystal.


"Apa ini hukuman untukku?" gumamnya lagi, lalu segera keluar dari kamar mandi itu dan menuju kampus istrinya, tidak lupa ia mengganti pakaiannya lebih dulu yang selalu ia sediakan di dalam ruangannya.


Sabar ya buwang,, 😚


Jangan lupa dukung terus karya Emak 😘


Tak kasih bonus visualnya abang Ryan tapi bayar pakai Vote dan like!!😁

__ADS_1



__ADS_2