
"Crystal!! Ryan! Keluar kalian!" seru Oma Airin, menggedor pintu kamar tersebut.
"Sial!" umpat Ryan, lalu mencabut tombak saktinya yang baru masuk setengahnya.
"Sayang, tanggung," rengek Crystal, mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Baru saja akan terbang ke awan, akan tetapi dirinya sudah terhempas ke dasar samudera.
"Nanti kita lanjut lagi," jawab Ryan sedikit kesal.
Bagaimana tidak kesal? Jika kegiatan mengenakannya di ganggu seperti itu, hingga membuat kepala atas dan bawah pusing tujuh keliling dan tujuh tanjakan.
Kemudian Ryan mengecup bibir istrinya dengan mesra, dan tangannya pun meremat dua buah pir bersamaan, membuat Crystal kesal dan langsung menepis tangan suaminya.
"Menyebalkan!" sungut Crystal, lalu mendudukkan dirinya sembari mengenakan pakaiannya, begitu pula dengan Ryan melakukan hal yang sama.
Setelah selesai memakai pakaiannya, keduanya itu menuju ruang tamu.
*
*
*
__ADS_1
"Hei! Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Oma Airin, ketika melihat wajah Crystal cemberut.
"Ck!" Bukannya menjawab, Crystal malah berdecak dengan kesal, seraya memalingkan wajahnya.
Sedangkan ekspresi wajah Ryan jangan di pertanyakan lagi, seperti biasa selalu terlihat datar dan kaku, mirip dengan kanebo kering.
Oma Airin terkekeh sendiri, karena ia sudah tahu kenapa cucu buyutnya bersikap seperti itu kepadanya.
"Oma kayak nggak pernah muda saja." Devan menimpali, lalu menghela nafas panjang dan menatap putrinya dengan perasaan bersalah, karena kisah masa lalunya itu, membuat nyawa Crystal dalam bahaya.
"Crys, Papi minta maaf." Devan berucap dengan nada lembut. Kemudian Devan menceritakan kisah masa lalunya yang berhubungan dengan Ibundanya Jeff, hingga ia sampai mengasingkan wanita tersebut ke negara terpencil di dunia.
Ketiga orang yang ada disana terdiam, menyimak penjelasan Devan dengan seksama.
"Lalu kenapa Papi tidak menjemput kembali Ibu Flora dan Jeff?" tanya Crystal, menatap ayahnya dengan penuh kekecewaan.
Pertanyaan putrinya itu membuat Devan bungkam, karena di situlah letak kesalahan terbesarnya. Ia membiarkan Flora dan Jeff hidup penuh ke kesulitan di negara terpencil tersebut.
"Apa Mami tahu tentang masalah ini?" tanya Crystal lagi dan Devan menggeleng sebagai jawaban. "Pi, aku tahu setiap manusia tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari kesalahan. Akan tetapi, setiap manusia itu pasti mempunyai rasa perikemanusiaan, bukan?" ucapan Crystal, begitu menohok di hati Devan.
"Maaf," lagi-lagi hanya bisa mengucapkan kata maaf.
__ADS_1
Crystal menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menatap Ayahnya yang duduk berseberangan dengannya. "Aku sudah memaafkan Papi," jawab Crystal. "Tapi, walau bagaimana pun juga, Papi harus meminta maaf kepada Jeff, karena Papilah yang membuat kehidupan mereka menjadi sangat sulit." Crystal tidak menanamkan kebencian di dalam hatinya kepada Jeff. Walaupun pria itu hampir mencelakainya.
"Itulah akibatnya jika menyalah gunakan kekuasaan." Oma Airin menatap sengit, Devan.
"Iya, maaf," ucap Devan lagi.
"Besok ikut aku ke rutan, Pi, untuk menemui Jeff," ucap Ryan, kepada Devan.
"Baiklah, aku juga merasa sangat bersalah dengannya," jelas Devan.
"Dan sekarang sudah malam, apa kalian tidak berkeinginan untuk pulang?" Ryan mengusir halus Ayah mertua dan juga Buyut mertuanya.
"Huh!" Oma Airin mendengus kesal. "Kau pasti ingin bermain jungkat-jungkit, kan? Dasar menantu buyut luknut!!" umpat Oma Airin, beranjak dari duduknya.
"Sayang, luknut itu apa?" bisik Ryan kepada istrinya.
"Lemper," jawab Crystal asal, sembari menahan tawanya.
Hai jumpa lagi sama emak gesrek yang cuantikkk π€π€
Makasih sudah mendoakan emak dan Emak udah sampe kampung halaman dengan selamat,
__ADS_1
Jangan lupa dukung karya emak ya, dengan cara like, vote, komentar dan kasih gift semampu kalian aja, lovee you allππ