Oh! My Bodyguard

Oh! My Bodyguard
Ada penyusup


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat dan tidak terasa sudah malam hari, Ryan dan Crystal masih di rumah di rumah orang tuanya. Mereka memutuskan menginap disana karena sejak tadi Safira dan Rya terus memohon agar Ryan dan Crystal menginap disana.


Dan disinilah mereka semua berkumpul di ruang keluarga, dengan formasi duduk Crystal diapit oleh adik dan ibunya, sedangkan Devan dan Ryan duduk berseberangan dengan para wanita.


"Ah, akhirnya kita berkumpul bersama lagi," ucap Safira, memeluk Crystal sembari mengelus perut kakaknya itu dengan pelan. "Aku sebentar lagi akan punya keponakan. Kak, kasih keponakan yang gembul dan gemesin ya," pinta Safira, mengusap perut Crystal dengan gemas.


"Hih! Bikin sendiri sana! Geli tahu," ucap Crystal, sembari menyingkirkan tangan adiknya dari atas perutnya.


"Maunya bikin sendiri, tapi tidak ada lawannya," jawab Safira, cengengesan.


Plak


Raya memukul kepala putrinya dengan keras. "Nikah dulu baru bikin!"


"Auh, sakit tahu Mam!" keluh Safira, mengusap kepala bagian belakangnya yang terasa sakit.


"Iya, yang di katakan Mami benar, jangan seperti Kakak kelewat batas," sela Crystal, tersenyum kecut bukan karena merasa tersindir dengan ucapan ibunya, akan tetapi ia merasa sadar diri jika salah.


"Eh, Mami tidak bermaksud menyindirmu," ucap Raya merasa bersalah dan ia juga takut jika putrinya sakit hati.


"Tidak Mam, aku baik-baik saja," jawab Crystal, tersenyum lembut.


"Kami baik-baik saja, Mam. Semua masalah sudah berlalu." Ryan menimpali, seraya tersenyum menatap istrinya yang juga tersenyum kepadanya.


"Ryan, bisa kita bicara," ucap Devan yang sejak tadi diam saja, karena pikirannya saat ini sedang berkecamuk.


"Baiklah, Papi," jawab Ryan masih terdengar canggung saat ia memanggil Ayah mertuanya dengan sebutan 'Papi'.

__ADS_1


*


*


*


Devan dan Ryan berjalan menuju halaman belakang, sedangkan para wanita masih berada di ruang keluarga sembari bergosip ria.


"Maaf, aku merokok," ucap Ryan,sembari menyalakan sebatang rokok. Keduanya saat ini sudah duduk di kursi halaman belakang rumah.


Devan mengangguk, seraya tersenyum.


"Sejak kapan kamu tahu tentang semua ini? Kenapa tidak memberi tahuku?" tanya Devan, menatap menantunya dari samping.


Ryan tersenyum tipis, sembari menghembuskan asap rokok dari hidungnya, kemudian ia menatap Ayah mertuanya dengan sinis. "Aku pikir Papi sudah mengetahui semuanya. Ck, ternyata bergerak lambat ya!" sindir Ryan, menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku bertanya kepadamu, bukan untuk mendengar cibiranmu!" kesal Devan.


"Ini juga termasuk missiku!" tegas Ryan, membuat Devan meradang.


"Apa maksudmu?! Jangan bilang jika kamu hanya ingin mempermainkan putriku!"


"Jangan salah paham dulu. Aku tidak pernah mempermainkan Crystal ataupun mempermaikan pernikahan ini. Aku sangat mencintai putrimu! Hanya saja orang yang mengincar Crystal adalah Bog Bossnya Kendro," jelas Ryan, membuat Devan tercengang.


"Apa jadi kejadian ini masih bersangkutan dengan Kendro?" tanya Devan, dan Ryan mengangguk pelan sembari mengendarkan pandangannya di area halaman belakang itu.


"Stttt." Ryan memberi kode agar Devan diam, tidak bersuara.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Devan, hanya menggerakan bibirnya saja.


Ryan tidak menjawab melainkan mengambil sebuah batu yang tidak terlalu besar di bawah kursi yang ia duduki, kemudian ia melemparkannya ke arah pohon Apel yang tumbuh di dekat pagar rumah tersebut.


Dug


Batu yang Ryan lempar tepat mengenai sasaran dan terdengar suara jeritan kesakitan dari atas pohon tersebut.


Ryan langsung berlari sembari mengeluarkan senjata api yang selalu ia selipkan di belakang tubuhnya.


Devan juga ikut berlari mengejar Ryan, dan juga ingin melihat penyusup yang berani masuk kearea rumahnya.


"Turun atau kau akan ku tembak!" Ryan mengacungkan senjata apinya ke arah pohon tersebut.


"Meong kucing Meong," sahut seseorang dari atas pohon tersebut, dengan nada di buat seperti kucing yang akan melahirkan.


DOR


Ryan habis kesabaran dan langsung meluncurkan tembakan peringatan ke udara.


"Turun!!!!!" bentak Ryan, mengarahkan senjata apinya lagi kearah orang tersebut yang tidak begitu jelas terlihat, karena minim pencahayaan.


"Ampun, Pak," sahutnya ketakutan, dari atas pohon sana.


Hem, siapa ya kira-kira penyusup itu. Yuk, main tebak-tebakan kayak nebak jodohnya para kaum jomblo, ciee jomblo...🤣🤣🙈


Jangan lupa dukungannya dengan cara like, vote, komentar, dan kasih gift seiklasnya aja.😘😘

__ADS_1


__ADS_2