
Tiga hari kemudian, dikantor Panji.
Adam memberikan sebuah dokumen kepada Panji yang berisi informasi tentang Nadin.Dia meminta meminta Adam membacakan isi dokumen itu.
"Namanya Nadin Azzahra Salsabila, anak pertama dari dua bersaudara. Dia tinggal bersama ayah, adik dan neneknya. Ayahnya seorang buruh bangunan, dan neneknya berjualan di warkop yang ada dibelakang proyek, rumahnya juga tidak jauh dari sana.
Dia juga adalah keponakan bi Sum, tukang masak dikeluarga lo. Ayahnya bekerja di proyek pembangunan mall kita, dan warkop itu juga ternyata berada dibelakang proyek kita." Jelas Adam.
"Apa lo yakin semua informasi ini benar?."
"Yakin lah."
Senyum jahat Panji menyeringai dibibirnya siang itu. Entah apa yang dia fikirkan saat ini, Adam juga tidak bisa menebaknya, yang jelas dia sangat yakin, kalau Panji sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik untuk gadis bernama Nadin itu.
Adam tidak mengerti, kenapa Panji seperti penasaran dengan Nadin. Bukankah dia sudah katakan kalau akan memotong gaji gadis itu setiap bulan? Lalu kenapa dia harus repot-repot mencari tahu informasi tentang Nadin.
"Lo gak akan macam-macam sama gadis itu kan Ji?."
"Gue udah bilang sama lo, kalau gue hanya mau beri dia sedikit pelajaran."
"Apapun rencana lo, gue harap lo jangan sampai ngelakuin yang tidak-tidak Ji. Lo sudah tahu semua tentang dia kan? Apa lo gak kasian sama dia?."
"Dia sendiri yang sudah cari masalah." Tukas Panji.
........
Sorenya.
Nadin baru saja keluar dari gerbang konveksi bersama karyawan lainya. Dia menunggu Novi diluar gerbang, karena Nadin akan pulang bersamanya seperti biasa. Hp-nya tiba-tiba berdering. Nadin mengernyitkan alis karena melihat nomor tidak dikenal memanggilnya.
"Hallo!!
"Hallo gadis nakal!!."
"Maaf, siapa ya? Saya nggak kenal anda."
"Saya Adam."
"Adam mana? Saya tidak kenal dengan orang bernama Adam."
"Saya asisten pak Panji, pasti kamu ingat kan?."
"Ooh anda. Ada apa? Apa anda ingin mengancam saya lagi? Jangan katakan anda mau nyipo*k saya?."
"Boleh, kalau kamu bersedia."
"ihh najis tralala."
Adam tertawa kecil diseberang sana. Panji yang duduk dibelakangnya, mengetok kepala Adam, karena kesal dengan ulahnya.
"Ada apa? Kenapa malah tertawa, saya tidak punya waktu mendengar tawa anda yang seperti kuda itu." Sungut Nadin.
"Apa?? kamu berani bilang saya seperti kuda?."
"Kenapa enggak? Anda tau sendiri bukan, saya sudah berani melempar mobil bos anda dengan batu, jadi kenapa saya harus takut?. Mungkin suatu saat nanti, bukan batu yang akan saya lempar ke mobil bos anda yang sombong itu, tapi bom."
"Jadi kamu mau lempar mobilku pake bom?." Nadin menjauhkan hp dari kupingnya, saat mendengar suara bentakan dari lawan bicaranya.
Pak Panji? Aduuh gawat. Gimana ini? Kenapa aku tidak kefikiran kalau pak Panji ada disana? Duuh kenapa juga aku harus ngomong gitu tadi?.
"Ehhhh....maaf pak, eh ko, saya cuma bercanda. Saya tidak berani."
"Temui aku sekarang juga."
__ADS_1
"Tidak bisa ko. Saya harus segera pulang."
"Temui aku sekarang, atau kamu akan tau akibatnya."
Dan tut...tut...tut...Panji memutuskan sambungan telfonya.
ting...sebuah pesan masuk dari nomor tadi. Nadin segera membacanya.
"Temui aku di tempat kamu melemparkan batu itu, sekarang juga, atau kamu akan menyesal. Nasib semua keluargamu ada ditanganku, ingat itu."
Nadin terkesiap membaca pesan dari Panji.
Apa maksudnya nasib semua keluargaku ada ditangan pak Panji?.Dan dari mana dia bisa tau nomor telfonku? Aaghhh....kenapa aku harus berurusan dengan orang seperti pak Panji sih?. Kata Nadin dalam hatinya.
Ting.....Satu pesan kembali masuk dihpnya.
Aku tidak suka menunggu. Dan ancamanku tidak main-main.
" Iihh...Gak sabaran banget sih jadi orang."Gumam Nadin.
"Ayo naik.!! Maaf ya kelamaan nunggunya.Tadi motorku nggak bisa distater, maklumlah motorku udah butut Nad, udah pengen di lem biru." Ujar Novi.
"Kenapa kamu harus minta maaf segala sih Nov? Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, karena hampir tiap hari aku nebeng motor kamu." Sahut Nadin lalu mereka pun pergi.
Nadin segera turun saat dia sudah berada ditempat, dimana Panji menunggunya. Dia melihat sebuah mobil mewah yang sedang berhenti tepat dimana dia melemparkan batu waktu itu.
"Kamu kenapa turun disini Nad?."
"Adikku mau jemput kesini Nov, ini barusan dia ngirim pesan." Sahutnya berbohong.
"Oh ya udah, kalau gitu aku duluan."
"Hati-hati ya Nov.!!
"Iya."
"Jalan." Titah Panji..Mobil pun melaju meninggalkan komplek itu. Ada rasa takut dihati Nadin saat ini, apalagi saat melihat ekspresi Panji yang begitu dingin.
"Maaf pak, saya mau dibawa kemana?. Bapak tidak akan menculik saya kan?." Tanya Nadin
"Aku akan bawa kamu ke tukang jagal." Jawab Panji dengan muka datarnya.
"Apaaa?? Jagal? Kenapa bapak, eh ko, ingin membawa saya ke tukang jagal?."
"Kamu pasti tahu sendiri."
Jangan katakan dia mau memenggal kepalaku. Ahh tidak, mana mungkin dia sekejam itu. Tapi kalau bener dia mau memenggal kepalaku gimana? Jaman sekarang banyak manusia aneh bukan. Banyak penjahat berjas dan berdasi seperti pak Panji.
"Kamu masih ingat, kamu pernah bilang kalau aku boleh menggantung kamu di monas, daripada kamu harus membayar denda 5 jt sebulan?."
"Iya ko, saya ingat. Tapi itu kan cuma..."
"Aku punya ide yang lebih bagus dari pada harus capek-capek gantung kamu di monas. Aku sudah memutuskan akan memotong kepala kamu ditempat jagal."
Nadin tersentak, dan jujur saja dia takut. Nadin berusaha meyakinkan dirinya, kalau Panji hanya sedang menakut-nakutinya.
"Hehehe....ko Panji bisa aja. Ko Panji ini suka bercanda juga ternyata."
"Aku tidak suka bercanda. Aku selalu serius dengan apa yang aku katakan."
"Jadi anda serius? Anda mau membunuh saya hanya karena uang 10 jt?." Tanya Nadin
"Iya. Sekarang katakan apa permintaan terakhir kamu, sebelum aku membunuh kamu?. Apa kamu mau menghubungi keluarga kamu untuk mengucapkan salam perpisahan?."
__ADS_1
Raut wajah Nadin berubah pias seketika, saat mendengar semua ucapan Panji. Dia ingin sekali menangis, apalagi saat mendengar ucapan Panji, "kamu mau menghubungi keluargamu untuk mengucapkan salam perpisahan?."
Nadin menyakinkan diri, kalau Panji pasti hanya bercanda, tapi saat dia ingat bagaimana teganya Panji menurunkan jabatan dan gaji Nina, juga gajinya sendiri, dia jadi takut kalau Panji serius dengan ucapanya.
Apa iya aku benar-benar akan mati hari ini ditangan seorang jagal seperti hewan potong? Apa kematianku harus setragis itu? Aku tidak ingin mati secepat ini, aku belum bisa membalas budi dan membahagiakan bapa dan keluargaku. Tuhan tolong aku. Aku belum mau mati, aku masih ingin hidup.
Kata Nadin dalam hati. Air matanya sudah mulai berjatuhan, saat dia ingat bapak, adik juga neneknya.
Panji tersenyum puas melihat Nadin terdiam dan ketakutan seperti tikus kecil yang tertangkap oleh seekor kucing. Adam hanya memperhatikan drama yang terjadi dari kaca spion didepannya.
"Kamu tidak perlu menangis dan memasang wajah sedih kamu. Aku tidak akan berubah pikiran, sekalipun kamu menangis sambil bersujud dikakiku. Katakan saja keinginan terakhir kamu sekarang juga. Aku berjanji akan mengabulkanya." Ujar Panji.
"Anda janji akan mengabulkan permintaan terakhir saya ko Panji?."
"Cepat katakan."
"Keinginan terakhir saya adalah, saya mau anda sendiri yang dipenggal oleh jagal itu. Saya ingin anda menggantikan saya."
" Apaaa? Kamu sudah gila? itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak, bukankah anda sudah berjanji akan mengabulkan keinginan saya?."
"Kamuuu..." Panji kesal, karena ternyata Nadin bisa membuatnya kehabisan kata-kata.
Adam terkekeh, karena untuk pertama kalinya bosnya itu kalah dari lawan bicaranya.
Adam tahu sebenarnya Panji hanya ingin menakut-nakuti Nadin.
"Jadi gimana? Anda akan memenuhi janji anda tadi kan?. Anda jangan ingkar janji ko."
"Oke. Kalau gitu aku tidak akan memenggal kepala kamu, dan sebagai gantinya, kamu harus membayar ganti rugi lima kali lipat untuk perbaikan mobilku, juga sepatu yang sobek gara-gara gunting kamu"
"Lima kali lipat?."😳Nadin terkesiap
"Kenapa? Kamu keberatan?.Pilihan ada ditangan kamu sekarang, dipenggal atau bayar lima kali lipat?."
"Apa tidak ada pilihan lain selain dipenggal ko? Di tembak misalnya?.Saya lebih baik ditembak, daripada dipenggal. Apalagi kalo ditembak sama ko Panji, saya pasti langsung jawab iya." Celoteh Nadin.
Panji mengernyitkan alisnya, karena tidak mengerti maksud ucapan Nadin.
"Apa maksud kamu?." Tanya Panji.
"Maksudnya, lo nembak dia jadi pacar lo Ji." Sahut Adam menimpali.
Panji menolehkan pandangannya, ke arah Nadin, menatapnya sesaat, lalu tersenyum miring sembari kembali menatap lurus ke depan.
"Jadi, kamu mau aku nembak kamu?. Kamu mau aku jadi pacar kamu?." Tanya Panji, tanpa menatap Nadin.
"Tidak ko Panji, bukan itu maksud saya. Saya cuma asal bicara tadi, saya cuma bercanda."Sahut Nadin.
"Baiklah, aku setuju. Kamu harus jadi pacarku untuk membayar uang ganti rugi itu."
"Apaa? Jadi pacar pak Panji? Tidak...tidak, itu tidak mungkin. Saya nggak mau."
Bisa-bisa dia ngehamilin aku, terus dia nggak mau ngakuin anaknya , kayak Mikha. Ihh amit-amit jabang baby deh.
"Kenapa? Apa kamu minder punya pacar tampan, kaya dan pinter seperti aku?."
ciih sombong sekali dia.
"Seharusnya kamu senang aku sudah berbaik hati ingin menjadikan kamu sebagai pacarku. Kamu termasuk gadis yang beruntung Nagin."
"Nama saya Nadin, bukan Nagin. Dan maaf sekali saya tidak mau jadi pacar pak Panji.
__ADS_1
Pak Panji benar, saya sangat minder punya pacar seperti bapak. Saya tidak mau punya pacar yang usianya jauh diatas saya, apa nanti kata orang."
Kurang ajar sekali dia, Apa dia fikir, aku ini sudah tua apa?. Gerutu Panji dalam hati.