Panji & Nadin

Panji & Nadin
Cemburu


__ADS_3

"Ohh jadi bener koko cemburu sama ko David?."Tanya Nadin, Panji tidak menjawab.


Lucu juga dia kalo lagi cemburu kayak gini.


"Aku nggak percaya dicemburuin sama cowok seganteng ini." Kata Nadin seraya memeluk Panji dengan kedua tanganya. Panji bergeming. Bahkan wajahnya masih dia palingkan dari Nadin.


Diih sok-sok an ngambek. Sok-sok an jual mahal.


"Udah dong jangan cemburu-cemburuan ah. Aku gak mungkin suka sama cowok lain, apalagi sebentar lagi kita mau nikah. Jangan marah lagi ya." Bujuk Nadin seraya mencium pipi Panji penuh perasaan, membuat bulu romanya meremang, dan jantungnya langsung berdegup kencang.


Tapi dia tetap bergeming, pura-pura tidak terpengaruh dengan apa yang dilakukan Nadin. Padahal Panji sudah sangat terpancing, tapi dia tahan, karena ingin tahu sampai sejauh mana usaha kekasihnya itu untuk membujuknya.


Nadin membelai rambut Panji, lalu turun ke pipinya.


Kok bisa sih kulit lelaki seputih dan semulus ini, dan ini apa lagi, duuh godaan macam apa ini Tuhan. Bibir ko Panji kenapa bisa merah gini sih?. Kayak buah ceri duuh pengen gigit, boleh gak ya?.


Panji tahu Nadin sedang menatap bibirnya. Dia sangat berharap Nadin akan mencium bibirnya. Dan sepertinya itu memang akan terjadi. Nadin sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Panji, dan dia akan mencium bibir Panji, setidaknya itulah yang ada dalam fikiran Panji.


Tapi Panji harus kecewa karena ternyata bibir Nadin tidak menyentuh bibirnya. Bibir itu hanya menyentuh dagunya saja dengan lembut, membuat Panji geregetan sendiri dan sangat gemas. Rasanya dia ingin sekali menyambar bibir Nadin saat itu.


"Sayang, udah dong jangan marah. Aku gak mau kalau kamu diemin aku kayak gini." Bujuk Nadin, sambil terus menciumi pipi Panji dengan lembut. Sesekali Nadin kembali mencium dagu Panji. Karena tidak ada reaksi dari kekasihnya, Nadin menyerah. Dia tidak mau membujuknya lagi.


"Ya udah kalau kamu masih marah, aku nyerah. Tapi maaf, aku gak akan berhenti kerja sampai kita menikah. Kamu udah ijinin aku. Aku turun sekarang. Selamat malam." Kata Nadin seraya menggeserkan tubuhnya mendekati pintu mobil disebelah kanananya, namun Panji menarik tubuh Nadin kembali mendekat kepadanya.


"Siapa yang ijinin kamu keluar?." Tanya Panji seraya menatap Nadin, lalu melingkarkan kedua tanganya dipinggang Nadin, mengunci tubuh kekasihnya itu. Dan tanpa permisi Panji mencium bibir Nadin karena dia sudah merasa gemas dari tadi.


Panji sudah tidak kuat menyalurkan emosi dan perasaan cintanya yang ia rasakan semakin besar kepada kekasihnya itu. Walau sempat terkejut, tapi Nadin tetap membiarkan Panji, dia juga menikmati momen itu, walau dalam hati Nadin tersenyum karena tingkah Panji yang sok jual mahal tadi.

__ADS_1


Nadin dan Panji saling menyalurkan emosi dan rasa cinta mereka didalam mobil, sedangkan Adam yang menjadi satpam di luar sana malah menjadi santapan empuk nyamuk-nyamuk nakal.


"Mereka lagi ngapain sih?. Lama banget. Gak tau apa gue udah dikerubuti nyamuk disini. Apa gue masuk aja ya. Ahh kalo mereka lagi cip*kan gimana? Entar gue pengen lagi." Gumam Adam.


Hingga akhirnya Nadin keluar dari dalam mobil Panji. Dia mengucapkan selamat malam pada Adam lalu pulang kerumahnya. Adam bergegas masuk dan mobil pun melaju menuju rumah Panji.


Hahh udah kayak orang gila beneran sekarang dia, senyam-senyum sendiri gak jelas. Tadi aja dia manyun kayak bebek yang belum dikasih makan. Udah di cas kayaknya ama Nadin nih. Ahh kapan ya ada yang nge-cas gue?. Kata Adam dalam hati, saat melihat wajah bahagia Panji.


...


Tak terasa hari pernikahan Nadin dan Panji tinggal satu minggu lagi. Semua persiapan sudah hampir sembilan puluh persen rampung. Sesuai rencana dan keinginan Panji, pernikahan mereka akan dilaksanakan di vila Panji di puncak.


Panji sudah tidak sabar menunggu hari bahagianya tiba. Dia meminta Adam mengawasi dan mengecek semuanya. Memastikan momen penting sekali seumur dalam hidupnya itu berjalan lancar dan sesuai keinginanya.


Pagi itu, Nadin baru saja bersiap akan berangkat kerja, saat Irma datang ke rumah mak Ebah. Sorot matanya menatap Nadin penuh kebencian. Wajahnya juga merah, sepertinya saat ini dia benar-benar sedang dikuasai amarah.


"Gara-gara hubungan lo sama ko Panji, gue dan emak gue harus ikut-ikuttan nanggung akibatnya. Lo seneng kan sekarang Nad?. Lo udah bikin kita kehilangan pekerjaan, lo seneng kan?. Lo ama bapak lo enak, bentar lagi bakal naek pangkat, jadi orang kaya. Sedangkan gue?. Gue dan emak gue jadi pengangguran, gak punya penghasilan, gara-gara elo."


Nadin dan keluarganya sangat terkejut mendengar ucapan Irma. Nadin tak menyangka sama sekali bu Soraya akan melakukan hal ini.


Apa mungkin dia tahu kalau dirinya dan Panji memang masih berhubungan?. Tapi kalau dia tahu, kenapa selama ini bu Soraya tidak pernah mengirimnya pesan ancaman seperti waktu itu.


Irma terus saja menyalahkan dan memaki Nadin, walau bi Sum berulang kali menyuruhnya untuk berhenti menyalahkan Nadin. Dia sangat kesal dan marah pada Nadin.


"Ibu kenapa sih selalu aja bela dia?. Jelas-jelas dia udah bikin kita dipecat, tapi ibu masih saja membelanya."


"Sudahlah nak, Kamu jangan terus menyalahkan Nadin, ini semua bukan sepenuhnya salahnya. Bukan salah Nadin kalau ko Panji jatuh cinta padanya." Kata bi Sum.

__ADS_1


"Bukan salahnya ibu bilang?. Lalu salah siapa?. Ibu denger sendiri kan bu Soraya ngomong apa sama kita kemaren?. Dia memecat kita berdua gara-gara dia (Irma menunjuk Nadin) berani berhubungan dengan ko Panji. Lagian sok kecakepan bener sih lo. Gue benci lo Nad, gue benci lihat muka lo. Gue harap gue gak akan pernah lihat muka lo lagi. Gue muak." Cerca Irma, lalu pergi dari sana.


Nadin tidak bisa berkata apa-apa selain meminta maaf pada bibinya. Dia sangat sedih mendengar kabar kalau bi Sum dipecat. Dan yang paling membuatnya bersedih adalah kata-kata Irma tadi, saat dia mengatakan kalau dirinya sangat membenci Nadin.


Walau bagaimana pun juga mereka adalah saudara sepupu. Nadin tidak mau hubunganya dengan Irma semakin memburuk. Tadinya Nadin ingin Irma menjadi salah satu bridesmaid di acara pernikahanya, namun sepertinya keinginan itu tidak akan terpenuhi melihat sikap Irma yang sudah jelas-jelas mengatakan kalau dia membenci Nadin.


"Bi Sum tenang aja. Saya akan memberikan bi Sum pekerjaan." Kata Panji yang ternyata sudah ada di rumah mak Ebah, dan mendengar semuanya. Nadin dan keluarganya menoleh ke arah Panji. Mereka terkejut dengan kedatangan Panji yang tiba-tiba.


"Ko Panji." Ujar bi Sum kaget.


"Maaf, kalau saya mengejutkan kalian. Saya sudah denger semuanya. Dan saya mau bi Sum bekerja di rumah saya. Setelah saya dan Nadin menikah, bi Sum bisa menjadi tukang masak dirumah kami kan?." Tanya Panji.


"Bisa...tentu saja bisa den." Jawab bi Sum.


"Atau kalau mau, bi Sum bisa bekerja mulai hari ini juga." Tawar Panji.


"Nanti saja setelah den Panji dan Nadin resmi menikah. Bibi akan membantu memasak disini dulu. Kami akan mengadakan sukuran kecil sebelum pernikahan den Panji dan Nadin." Terang bi Sum.


"Baiklah kalau begitu, terserah bi Sum saja."


Nadin sangat lega melihat wajah bahagia bi Sum. Nadin juga merasa senang dan bangga dengan sikap Panji. Lagi-lagi Panji membuatnya kagum dan semakin jatuh cinta dengan apa yang Panji lakukan. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan lelaki seperti Panji. Yang tidak hanya tampan tapi juga sangat baik dan mencintainya.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2