Panji & Nadin

Panji & Nadin
Pembela Kebenaran


__ADS_3

Kedua wanita di dalam toilet sepertinya tidak percaya melihat orang yang masuk dan bertanya pada mereka.


"Kenapa kalian diam?." Tanyanya.


Kedua wanita itu masih diam, karena merasa kaget, heran dan tidak percaya melihat lelaki masuk ke toilet wanita, apalagi laki-laki itu adalah Panji. Laki-laki terhormat dan sangat disegani. Disana juga ada Adam yang berdiri tepat dipintu masuk.


Ko Panji? Ngapain dia masuk kesini?. Apa dia salah masuk? Atau dia benar-benar takut aku akan kabur? Ya Tuhan segitunya dia. Sampe nekat nyusul aku kesini. Batin Nadin.


"Ada apa bu Ranti? Apa anda kenal dengan Nadin?." Tanya Panji.


"Ohh itu anu, saya gak kenal sama dia pak, tapi saya tahu dia." Jawab bu Ranti


"Maksud bu Ranti tahu?."


"Maaf sebelumnya kalau saya lancang. Apa Nadin ini kekasih pak Panji?."


"Memangnya kenapa kalau dia kekasih saya?. Apa bu Ranti keberatan?."


"Ti..tidak pak Panji, bukan begitu, tapi...."


"Tapi apa? Apa bu Ranti tahu tentang dia? Ayo katakan saja, jangan ragu. Saya akan mendengarkanya dengan senang hati."


Ini kesempatan bagus buat mempermalukan gadis matre itu. Batin bu Ranti.


"Sekali lagi maafkan saya kalau saya lancang.Tapi saya mengatakan semua ini, karena saya tidak mau pak Panji terjebak oleh gadis itu. Bagaimanapun juga, kita akan menjadi satu keluarga bukan?."


"Katakan saja cepat, jangan bertele-tele."


"Begini pak Panji, sebaiknya pak Panji jangan pernah lagi berhubungan dengan gadis ini. Dia tidak benar-benar mencintai pak Panji. Gadis ini hanya mengincar harta pak Panji saja. Saya sangat yakin dia tidak hanya berhubungan dengan pak Panji saja, tapi dengan pria lainya."


Ucapan bu Ranti benar-benar seperti sebuah pisau yang membuat luka yang sangat sakit di hati Nadin. Kalau saja dia bukan orang tua, Nadin sudah melawannya saat itu juga. Dia hanya bisa menahan rasa sakit dan amarah didalam dadanya.


"Kenapa bu Ranti sangat yakin?." Tanya Panji, mencoba memancing bu Ranti.


"Dia pernah mencoba mendekati anak saya, Bily waktu mereka masih sekolah dulu. Untung saja saya keburu tahu, dan untungnya Bily juga mau menuruti kata-kata saya."


"Oh ya? Apa cuma karena itu bu Ranti menyimpulkan gadis ini matre? Memangnya apa saja yang sudah dia minta pada anak anda?." Tanya Panji, bu Ranti diam kali ini. Dia juga tahu, Nadin tidak pernah meminta apa-apa pada Bily. Semua itu hanya asumsinya sendiri.


"Dengarkan saya bu Ranti, kalaupun benar Nadin ingin morotin saya, saya sama sekali tidak keberatan. Jadi kenapa anda harus keberatan? Apa anda merasa dirugikan, seandainya dia morotin saya? Saya rasa tidak. Dia itu perempuan sama seperti anda, jadi wajar kalau dia matre. Anda tahu sendiri biaya perawatan, berlian juga harga tas branded yang anda pakai itu sangat mahal. Semua itu dibeli pake uang, bukan daun pisang. Cewek matre, ya wajarlah, yang gak wajar itu cowok matre. Bukankah sudah sewajarnya seorang lelaki memberikan semua itu pada seorang wanita?.


Dan satu lagi, dia juga tidak pernah menggoda saya, saya sendiri yang ngejar-ngejar dia. Dan setahu saya, justru banyak orang berada yang berusaha mendekati orang yang lebih kaya, karena mereka takut hidup miskin dan kekurangan, dengan cara menjodohkan anak mereka misalnya." Ujar Panji panjang lebar, bu Ranti kalah telak kali ini. Dia diam terpaku.

__ADS_1


Lalu Panji membawa Nadin keluar dari sana. Dia menggandeng tangannya dengan mesra dihadapan bu Ranti yang tiba-tiba seperti patung hidup.


"Jangan pernah menghina siapapun bu, roda dunia berputar. Bisa jadi orang yang anda hina suatu saat akan menjadi orang besar, dan anda akan menyesal pernah menghinanya." Kata Panji, sebelum dia benar-benar keluar dari toilet.


Nadin tak percaya dengan apa yang dilakukan dan dikatakan Panji baru saja. Dia membelanya dihadapan bu Ranti, ahh rasanya dia sangat senang sekali saat ini. Nadin menatap Panji yang menggandeng tanganya, sembari tersenyum senang, sekaligus merasa bangga kepada Panji yang telah membelanya dengan kata-kata yang diucapkannya tadi.


"Makasih ya ko." Ucap Nadin.


"Nggak usah ge-er, aku ngelakuin itu semua karena aku memang tidak suka pada sikap ibu itu."


"Apapun alasan ko Panji, saya tetap berterimakasih, karena saya merasa ada yang membela saya."


"Anggap saja bonus buat kamu, karena kamu mau menemani aku datang kesini."


"Nah gitu dong sekali-sekali jadi orang baik, jadinya kan Panji manusia pembela kebenaran. Hidup pembela kebenaran.!! Cicit Nadin.


Panji hanya menoleh sekilas kearah Nadin.


"Mau kemana kita ko? Kenapa tempat duduknya dilewat?." Tanya Nadin saat mereka melewati meja vip tempat mereka duduk tadi.


"Pulang." Jawab Panji cepat.


Nadin menolehkan kepalanya mencari sosok Bily, yang dia yakin masih ada disana, tapi ia tidak melihatnya. Walau dia tidak ingin bertemu dengan Bily, tapi hatinya mengatakan sebaliknya. Dia merindukanya, dan sangat senang saat melihatnya lagi.


Mereka sudah masuk ke dalam mobil, untuk pulang. Tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka. Ketiga orang di dalam mobil larut dengan pikiran masing-masing. Nadin kembali teringat Bily.


Wajah Bily yang semakin terlihat sangat tampan dan lebih dewasa, terus saja menghantuinya. Yang ada difikiran Panji saat ini juga adalah Bily, dan semua ucapan bu Ranti yang mengatakan kalau mereka akan jadi satu keluarga.


Kini dia tahu kalau Bily adalah anak bu Ranti, laki-laki yang dijodohkan dengan adiknya Prisa, dan ternyata adalah mantan kekasih Nadin. Ada perasaan tidak suka dalam hati Panji, saat dia menyebut Bily sebagai mantan kekasih Nadin.


"Jadi anak bu Ranti itu mantan pacar kamu?."Tanya Panji tiba-tiba.


"Bukan ko, dia......"


"Kamu gak akan bisa ngeles Nadin, tadi kami sudah denger semuanya."Timpal Adam.


"Lagian kenapa juga ko Panji dan mas Adam pake acara masuk ke toilet cewek? Emang gak malu apa?."


"Dia tuh yang ngajakin nyusulin kamu ke toilet, abisnya kamu lama. Dia pikir kamu beneran kabur." Sahut Adam.


"Aduuh ya gak mungkin lah saya berani kabur, bisa kiamat hidup saya dan keluarga saya. Apa mas Adam gak denger ancaman-ancaman yang ditujukan pada saya, kalau saya kabur?. Lagian gimana mungkin saya kabur dengan pakaian dan sandal yang udah kayak anak tangga gini? Mana gak bawa uang sepeser pun."

__ADS_1


Kruck....kruck, suara perut Nadin, membuatnya sangat malu.


"Kamu lapar Nadin?." Tanya Adam.


"Saya rasa perut saya sudah menjelaskan semuanya, tanpa saya harus menjawabnya" Jawab Nadin.


"Kamu mau beli sesuatu, roti, atau gorengan mungkin?."


"Enggak mas Adam, saya nggak mau beli apa-apa. Saya pengen cepat sampai ke rumah. Kasian non Mikha."


"Berhenti Dam." Titah Panji, dan dengan sigap Adam menginjak rem, hingga mobil pun berhenti.


"Kenapa berhenti ko?." Tanya Nadin.


"Turun." Titah Panji.


"Mau ngapain?.


"Cepat turun, jangan banyak tanya."


"Iih dasar panci aluminium, merintah aja bisanya." Gerutu Nadin lalu dia turun, dengan wajah kesal.


Adam hanya tersenyum menyaksikan adegan dua orang dibelakangnya, lalu dia pun turun.


Panji masuk ke sebuah foodcourt langgananya, lalu memesan nasi goreng juga makanan lainya.


"Kenapa kita kesini ko?." Tanya Nadin.


"Mau mancing." Jawab Panji


"Mau nangkep belut, Nad hahaha." Timpal Adam.


"Ishhh kalian sama aja."


"Lagian pertanyaan kamu nggak berbobot banget sih Nad. Pake nanya mau ngapain segala. Orang masuk ke tempat makan itu ya mau makan dong. Masa mau nangkep belut."


"Iya tau..tau. Tapi mas Adam dan ko Panji tadi kan udah makan. Masa udah mau makan lagi."


"Udah makan apaan? Baru juga dua suap, Panji ngajakin nyusul kamu ke toilet. Jadi itu belum bisa dihitung udah makan ya Nad."


"Kalian bisa diem gak sih?. Berisik banget."Hardik Panji.

__ADS_1


Tak lama makanan pun datang. Mereka menyantapnya, kecuali Panji. Dia hanya menyesap kopi juga makanan kecil sembari menatap Nadin yang lahap menyantap nasi gorengnya. Kenyataan tentang Bily dan Nadin benar-benar telah mengganggu fikiran Panji.


Tbc💚


__ADS_2