
Nadin dan Adam saling pandang sambil tersenyum, saking asyiknya bernyanyi mereka melupakan kalau bosnya ada dibelakang. Mereka masih terdiam sampai saat ini. Aura dingin langsung memenuhi isi mobil.
"Mas Adam, boleh saya buka kacanya?."
"Kenapa?."
"Saya nggak kuat mas, kalau naik mobil kacanya ditutup terus kayak gini. Saya juga gak kuat lama-lama kena ac."
"Kampungan." Gumam Panji
"Ya udah buka aja." Jawab Adam.
"Awas aja kalau kamu berani buka kacanya."Ujar Panji pelan, namun penuh dengan nada ancaman, membuat Nadin mengurungkan niatnya.
"Kalo gitu saya turun disini aja mas."
"Kenapa? Bukannya kamu mau ke mall xxxxx, "
"Saya naik angkot atau bis aja mas."
"Kamu yakin?."
"Yakin mas, saya memang biasa naik angkot kok. Mas Adam mau ikut saya naik angkot?. Siapa tahu ketemu jodoh. Kalau mas Adam selalu berduaan sama ko Panji terus, kapan mas Adam dapet jodohnya?." Bisik Nadin.
Adam terkekeh mendengarnya.
Adam menurunkan Nadin di lampu merah, lalu mereka pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Nadin menaiki angkutan sejuta umat, atau bis untuk sampai ke mall. Doni sudah menunggunya disana. Mereka memang sudah lama tidak bertemu, karena kesibukan masing-masing.
Setelah dari mall, Nadin dan Doni pulang bersama. Doni membonceng Nadin, dan dijalan mereka sempat berpapasan dengan Adam dan Panji. Mereka melihat Nadin, dan memikirkan hal yang sama, Nadin dibonceng pacarnya.
.....
Hari sabtu kemarin, adalah gajian kedua Nadin. Dia sangat senang, karena ternyata Panji benar-benar tidak memotong gajinya.
Alhamdulillaah, ternyata pak Panji benar-benar tidak memotong gajiku.
Nadin memberikan separuh gajinya kepada ayah, nenek dan adiknya. Sebagian dia tabung, dan sisanya untuk bekal dan jajannya satu bulan kedepan.
Dia juga membeli satu stel baju baru, dan sebuah tas selempang untuk dibawanya ke tempat kerja. Tidak lupa Nadin juga memberi uang jajan untuk bi Sum, walau bi Sum menolaknya.
__ADS_1
Nadin memaksa bibinya itu untuk menerima pemberian darinya, walaupun memang tidak seberapa. Bagaimanapun juga Nadin bisa bekerja dikonveksi itu, karena bibinya.
Bi Sum mempunyai dua orang anak bernama Irma dan Devi. Irma lebih tua dua tahun dari Nadin, dan saat ini dia bekerja di sebuah salon kecantikan. Sedangkan adiknya Devi, masih duduk dibangku SMP.
Rumah mereka hanya berjarak beberapa meter dari rumah Nadin. Bi Sum dan suaminya sendiri sudah lama bercerai.
Bi Sum menitikan air matanya, karena terharu dengan sikap Nadin. Irma, anaknya sendiri yang sudah lama bekerja, bahkan tidak pernah memberinya atau Devi, uang, walau sekedar untuk jajan.
Dia lebih mementingkan dirinya sendiri. Irma lebih senang membelanjakan uangnya untuk keperluan dia sendiri, karena dia lebih mengutamakan penampilan daripada ibu atau adiknya. Apalagi dia fikir ibunya itu bekerja.
Ibunya mempunyai penghasilan, jadi untuk apa dia harus memberinya uang, fikir Irma. Bi Sum pernah menawari Irma bekerja di konveksi ko Wily, tapi dia tidak mau, karena menurut Irma, kerja di konveksi itu adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan. Dia selalu merendahkan Nadin, karena Nadin hanya bekerja di konveksi. Irma tidak tahu, kalau gajinya tidak lebih besar dari gaji Nadin.
.....
Senin siang di Konvesksi.
Saat jam istirahat tiba, Nadin dan Mikha bertemu seperti biasanya. Hari ini Nadin memberikan hadiah kepada Mikha, sebuah boneka tedy bear berwarna pink baby yang sangat lucu. Boneka itu dia beli, saat jalan-jalan ke mall kemarin, bersama Doni.
"Mikha, ini kak Nadin beliin boneka buat Mikha."
"Ini boneka buat Mikha kak?. "
"Horee... aku punya boneka baru." Ucapnya kegirangan.
"Mikha suka?."
"Iya kak, Mikha suka."
Mikha sangat senang menerima boneka itu. Selama ini tidak pernah ada yang memberikannya boneka, kecuali Prisa, itupun sudah sangat lama. Selama ini, Mikha hanya memainkan boneka pemberian Prisa, dan juga boneka bekas Prisa, saat masih kecil dulu.
Boneka yang dibelikan Nadin, memang tidak sebagus dan semahal boneka yang dibelikan Prisa, tapi tetap saja membuat Mikha kegirangan.
"Makasih ya kak Nadin." Ucap Mikha.
"Iya, sama-sama sayang." Balas Nadin.
Mikha mencium pipi Nadin, sebelum dia kembali bersama suster Wati.
Dan sejak hari itu, pak Bahtiar dan Prisa, merasa penasaran dengan sosok Nadin yang selalu diceritakan oleh Mikha. Mereka berdua hanya tahu, kalau Nadin adalah keponakan bi Sum, tapi mereka berdua tidak pernah bertemu dengannya.
Sampai akhirnya suatu hari, Prisa mengantar Mikha yang ingin menemui Nadin ditaman, karena kebetulan siang itu, Prisa tidak kuliah.
__ADS_1
Mereka akhirnya bertemu, dan berkenalan. Prisa dan Nadin mulai akrab sejak saat itu, karena selain umur mereka sebaya, ternyata mereka juga satu SMA, hanya saja mereka beda kelas.
Nadin memang sering melihat Prisa saat disekolah, begitu pun dengan Prisa, hanya saja mereka tidak saling kenal. aNadin tahu, kalau Prisa adalah anak orang kaya, dia tidak berani menyapanya saat disekolah, karena Nadin fikir, Prisa adalah gadis yang sombong, tapi ternyata dia sangat baik, dan sepertinya tidak pernah memilih atau membeda-bedakan orang.
Mereka masih mengobrol ditaman belakang, saat Panji dan Adam keluar dari gedung konveksi. Dia heran, melihat adiknya yang tampak akrab dengan Nadin.
Kenapa semua orang, sepertinya menyukai gadis itu?. Tanya Panji dalam hatinya
Adam ingin menyapa Nadin, tapi Panji sudah mengultimatumnya dari awal. Dia tidak mau, sampai karyawan lain berfikir macam-macam, jika melihat Adam tampak akrab dengan Nadin, Apalagi ada Prisa disana.
Saat melihat Panji, Prisa segera menghampiri kakak lelakinya itu. Sejak Panji pergi dari rumah, dia dan Panji memang jarang sekali bertemu.
"Kak Panji.!! Teriak Prisa. Panji mengehentikan langkahnya.
"Aku pergi dulu ya Nadin, kapan-kapan kita ketemu lagi. Dan makasih ya kamu udah baik sama Mikha." Ujar Prisa
"Iya sama-sama non Prisa." Sahut Nadin
"Jangan panggil non segala, kita kan seumuran, lagi pula kita ini teman kan?." Ujar Prisa sembari menuntun Mikha. Dia segera menghampiri Panji.
Teman? Apa mungkin dia mau berteman dengan orang miskin sepertiku?. Tanya Nadin dalam hati, lalu dia masuk ke dalam gedung.
"Kak Panji, apa kabar kak?. Udah lama kita nggak ketemu, aku kangen banget sama kakak."
"Sekarang kita sudah bertemu, jadi kamu nggak perlu lagi kangen sama aku."
"Kakak kok gitu sih? Emang kakak gak kangen sama aku?..Oh ya kak, kemarin kak Jo..."
"Stop, jangan teruskan, aku nggak tertarik. Aku sudah bilang, kalian gak usah repot-repot mikirin hidupku, aku sudah dewasa, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kalau kamu masih menganggapku kakakmu, aku minta kamu jangan ikut-ikuttan jodoh-jodohin aku dengan siapapun, apalagi gadis yang bernama Jovanka itu." Ucap Panji sarkastik.
"Maafin aku kak. Aku tidak bermaksud menyinggung kakak. Aku hanya ingin kakak tahu, aku akan selalu dukung kakak. Maafkan aku, karena selama ini, aku sempat meragukan kak Panji. Dan aku seneng banget lihat kak Panji lagi dirumah ini." Ujar Prisa.
Panji menatap adiknya, juga Mikha, gadis kecil yang tidak pernah dia anggap sebagai anaknya.
Mikha memeluk kaki Prisa, saat dia melihat Panji menatap kearahnya, dia ketakutan seperti biasanya, saat melihat Panji.
Tatapan Panji kini beralih pada boneka tedy bear, yang ada di pelukan Mikha. Panji bisa menebak, kalau boneka itu pemberian Nadin.
Biasanya Panji tidak peduli apapun yang berhubungan dengan Mikha, tapi entah kenapa hari itu, dia merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya, apalagi saat melihat mata polos Mikha yang sepertinya sangat ketakutan saat melihatnya.
Tbc🌻
__ADS_1