Panji & Nadin

Panji & Nadin
Hari pernikahan


__ADS_3

Esoknya Panji kembali ke Jakarta bersama Adam yang hari itu datang ke vila Panji membawa mak Ebah, pak Samsudin dan Hirlan. Adam memang sudah tahu tentang bu Ana saat pernikahan David, karena bu Ana menemui dan menjelaskanya pada Adam. Bu Ana dan pak Jonathan juga ikut ke Jakarta, juga Wily dan istrinya, karena mereka akan menemui pak Bahtiar.


Saat tiba di Jakarta Panji langsung menemui ayah dan neneknya untuk mengatakan kalau dia akan menikah dengan Nadin. Mereka terkejut mendengarnya, dan mengira kalau Panji sedang bercanda, karena yang mereka tahu Nadin sudah meninggal.


"Aku tidak bercanda, aku memang akan menikah dengan Nadin karena Nadin masih hidup. Dia belum meninggal." Terang Panji.


"Apa maksud kamu Panji?." Tanya pak Bahtiar.


"Papa denger sendiri kan, Nadin dan keluarganya masih hidup."


"Kamu serius Panji, Nadin dan keluarganya masih hidup?." Pak Bahtiar memastikan, dan Panji mengangguk.


"Apa?. Kalau gitu mama kamu bisa dibebaskan."


"Tidak pah. Dia tidak akan pernah bebas darisana. Dia pantas berada disana."


"Tapi tuduhan yang diberikan padanya jelas-jelas tuduhan palsu, karena Nadin dan keluarganya tidak meninggal. Apa kamu sengaja melakukan semua ini Panji?. Kamu ingin Soraya dipenjara, iya kan?. Papa tahu kamu memang tidak menyukai Soraya, tapi papa gak nyangka kamu sampai tega melakukan semua ini."


"Siapa yang tega?. Aku atau dia?. Asal kalian tahu, wanita itu yang telah berusaha membunuh mamaku. Dia yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi."


"Panji, jaga bicara kamu. Jangan bicara sembarangan." Sergah pak Bahtiar.


"Apa yang dikatakan Panji benar pah. Istri papa yang sudah mencelakai mama kami dua puluh tahun lalu." Timpal Wily tiba-tiba. Pak Bahtiar dan Prisa sepertinya tak terima dan tak percaya dengan pernyataan Wily, sampai akhirnya Wily memperlihatkan beberapa bukti foto yang menunjukan keterlibatan bu Soraya dalam kecelakaan bu Rika.


"Darimana kalian mendapatkan semua ini?. Ini bukan bukti kuat. Bisa saja ini akal-akalan seseorang yang tidak menyukai Soraya."


"Sayangnya semua itu benar pak Bahtiar, istri anda yang telah mencelakai Rika." Ujar pak Jonathan membuat pak Bahtiar terkejut karena kehadiranya. Apalagi saat dia melihat orang yang ada disebelah pak Jonathan.


Jantungnya rasanya akan loncat saat melihat sosok wanita itu. "Rika" Gumamnya tak percaya. Walau bu Rika telah menjalani serangkaian operasi plastik diwajahnya, tapi pak Bahtiar masih bisa mengenali wanita yang pernah mendampinginya itu. Tak hanya pak Bahtiar, tapi juga ibu sepuh, mereka berdua tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Bu Rika dan pak Jonathan menceritakan segalanya pada pak Bahtiar dan bu sepuh, seketika pak Bahtiar diam mematung karena merasa tidak percaya dengan kenyataan yang dia ketahui. Bu Rika, istrinya ternyata masih hidup, namun sekarang dia sudah menjadi istri orang lain.


Rasanya ini seperti mimpi yang sulit dipercaya. Dalam hatinya pak Bahtiar sedikit tidak rela, mengetahui bu Rika sudah menikah dengan pak Jonathan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bu Rika meminta maaf pada pak Bahtiar dan ibu sepuh, lalu berpamitan.


Prisa sangat shock mengetahui kalau ibunya ternyata sejahat itu. Dia tega melakukan usaha pembunuhan, hanya karena ingin menikahi pak Bahtiar. Prisa merasa terpukul, dan sangat malu pada kedua kakaknya, Wily dan Panji. Dia meminta maaf kepada mereka atas nama ibunya.


....


Pak Bahtiar pergi ke penjara untuk menanyakan pada bu Soraya tentang kebenaran yang baru saja didengarnya. Awalnya bu Soraya mengelak, namun akhirnya dia mengakui semuanya kepada pak Bahtiar.

__ADS_1


Tak lama berselang, bu Rika dan pak Jonathan juga datang ke penjara. Bu Soraya sangat shock dan tidak percaya mengetahui ternyata bu Rika masih hidup. Dan selama ini yang dia lihat benar-benar bu Rika, bukanlah hantu seperti kata napi perempuan itu.


Bu Soraya tertawa sendiri dalam penjara, sepertinya dia benar-benar frustasi sekarang. Sedangkan pak Bahtiar hanya bisa menyesali dan merutuki kebodohnya, yang memberi celah pada bu Soraya saat dia berusaha menggodanya, dulu.


Bukankah tamu tidak akan masuk ke rumah, seandainya sang pemilik rumah tidak membukakan pintu?. Rasanya sangat sakit melihat wanita yang dia cintai kini hidup bersama pria lain.


...


Tiga hari kemudian.


Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan Panji dan Nadin. Hari pernikahan mereka yang seharusnya terjadi satu tahun yang lalu. Akad nikah akan segera dilaksanakan. Panji sudah duduk didepan penghulu, dan pak Samsudin.


Dia tampak sedikit gugup, tapi Panji bisa dengan mudah mengatasi rasa gugupnya, saat melihat Nadin yang tampil sangat cantik dalam balutan kebaya akad dan sanggul khas adat jawa.


Nadin tersenyum manis ke arah Panji membuat aura cantiknya semakin bersinar, melenyapkan rasa gugup yang Panji rasakan.


Panji tidak bisa menyembunyikan kekagumanya pada wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya itu. Rasanya Panji ingin hari ini berlalu secepatnya. Panji sudah tidak sabar menunggu datangnya malam, hingga akad nikah pun dia ucapkan dengan lantang dan sangat lancar dalam satu tarikan nafas.


Kini Panji dan Nadin sudah resmi menjadi suami istri. Senyum bahagia jelas terlihat dari wajah keduanya. Air mata kebahagian menetes dari wajah bu Rika, dan juga Adam, asisten sekaligus sahabat Panji.


"Selamat ya Ji!! Akhirnya lo sold out juga." Ucap Adam seraya memeluk Panji.


"Mas Adam, maaffin aku ya. Aku gak bermaksud ngerebut ko Panji dari sisi mas Adam. Udah ya jangan nangis" Canda Nadin, saat Adam menyalaminya. Panji membelalakan matanya ke arah Nadin.


"Hehehe....canda suamiku, jangan marah." Kata Nadin. Panji tersenyum dalam hati mendengar Nadin memanggilnya suamiku. Seketika rasa bahagia membuncah dalam dada Panji. Suami, rasanya dia masih tidak percaya kalau sekarang dia sudah menjadi seorang suami.


"Kalian serius pengen aku nyusul?." Tanya Adam.


"Ya iya lah, masa ya iya dong." Sahut Nadin.


"Oke kalo gitu nanti malem aku nyusul ke kamar kalian ya?." Sahut Adam. Panji dan Nadin terkekeh


Jam satu siang acara resepsi digelar. Nadin dan Panji sudah berada di pelaminan, menyalami para tamu undangan yang hadir diacara itu. Sesekali mereka saling pandang dan saling melempar senyum bahagia.


"Kamu cantik sekali istriku." Bisik Panji memuji Nadin.


"Kamu juga ganteng banget suamiku." Balas Nadin memuji Panji yang siang itu terlihat sangat tampan dengan setelan tuxedonya. sedangkan Nadin sendiri memakai gaun putih cantik yang dipilihkan oleh ibu mertuanya.


"Aku jadi gak sabar, pengen cepet-cepet nanti malem." Kata Panji.

__ADS_1


"Iya, aku juga." Sahut Nadin.


"Beneran sayang?."


"Bener sayang. Aku udah gak sabar pengen istirahat. Pegel tau, berdiri terus kayak gini, mana tinggi banget ini sepatunya."


"Yeee....aku fikir kamu...."


"Kamu apa?. Pasti ngeres deh mikirnya, ya kan?." Tanya Nadin, Panji tersenyum genit.


Bu Ranti dan orang tua Jovanka juga hadir di acara itu. Dia tidak menyangka Nadin dan Panji benar-benar menikah, dan Nadin yang dulu dia hina sekarang adalah penyanyi terkenal. Saat dia melihat Salsa di televisi, bu Ranti sama sekali tidak menyangka kalau dia sebenarnya adalah Nadin.


Nadin gadis miskin yang dulu dia hina dalam sekejap berubah menjadi sinderela yang dinikahi pangeran tampan dan kaya raya.


Irma, sepupu Nadin pun merasa "iri" melihat Nadin, tapi sekarang dia tidak lagi bersikap buruk pada Nadin. Irma berharap dia juga akan seberuntung Nadin.


.....


Acara resepsi telah selesai. Semua tamu sudah meninggalkan vila Panji. Ba'da maghrib, keadaan vila sudah bersih dari sisa-sisa pesta. Ba'da isya keluarga Panji dan keluarga Nadin kembali ke Jakarta, meninggalkan pasangan pengantin baru berdua di vila.


Hanya bi Neneng dan suaminya yang menginap di vila itu, karena mereka berdua yang akan melayani Panji dan Nadin selama berada disana, sebelum mereka berangkat ke negeri kincir angin, seperti impian Nadin selama ini.


Sebelum pulang, bu Rika memberikan sebuah hampers pernikahan pada Nadin.


"Ini hadiah dari mama buat kamu. Dipake ya." Pinta bu Rika.


"Ini apa mah?." Tanya Nadin.


"Kamu buka aja nanti, dan inget pesan mama, kamu harus pake malam ini juga, oke sayang?."


Sahut bu Rika, Nadin mengangguk sambil tersenyum samar. Dalam hatinya Nadin sangat yakin kalau hampers yang diberikan ibu mertuanya pasti berhubungan dengan malam pertama.


.


.


.


Bersambung🌄

__ADS_1


__ADS_2