
"Apa yang dikatakan Panji itu benar, Nadin?." Tanya bu Soraya.
"Itu benar bu." Jawab Nadin.
"Pah, nek aku tidak bercanda. Aku sungguh-sungguh akan menikahi Nadin. Kalau tidak ada halangan kami akan menikah bulan depan." Kata Panji.
Tidak ada yang menyahuti ucapan Panji saat itu, karena mereka semua masih sangat terkejut mengetahui semua ini.
"Kamu benar-benar mencintai Nadin, Panji? Atau kamu hanya ingin mempermainkan kami?." Tanya Pak Bahtiar.
"Aku mencintai Nadin, dan tidak bermaksud mempermainkan siapapun. Aku sudah mengenalkan calon istriku pada kalian semua. Sekarang kami permisi. Aku harap kalian semua merestui dan bisa menghadiri pernikahan kami nanti." Pamit Panji, seraya melangkahkan kakinya.
"Tunggu." Suara bu Soraya menghentikan langkah Panji.
"Tidak akan ada pernikahan kamu dengan gadis itu. Kami semua disini tidak akan merestui pernikahan kalian." Ujar bu Soraya penuh emosi.
"Sudah aku katakan aku tidak peduli kalian mau merestui atau tidak, aku akan tetap menikah dengannya." Sahut Panji.
"Kamu sadar siapa wanita yang ingin kamu nikahi itu?. Apa kamu mau mempermalukan keluarga ini, dengan menikahi gadis miskin dan kampungan seperti dia, Panji?." Cerca bu Soraya, menghentikan langkah Panji.
"Jangan pernah sekalipun menghina calon istriku." Sarkas Panji yang kembali emosi pada ibu tirinya. Wajah putihnya berubah merah menahan amarah karena tak terima bu Soraya menghina Nadin.
"Siapa yang menghina dia?. Memang itu kenyataanya. Dia memang miskin dan kampungan. Aku sudah memilihkan calon yang jauh lebih berkelas, cantik dan sepadan dengan keluarga kita, Kamu malah ingin menikah dengan gadis yang dibesarkan di tempat sampah." Cerca bu Soraya.
"Mah, cukup mah." Pak Bahtiar berusaha menghentikan istrinya.
"Ternyata apa yang dikatakan Ranti tentang kamu semuanya bener Nadin. Kamu itu gadis murahan dan matre. Wajah kamu aja lugu, padahal hati kamu busuk.
Kamu sengaja menggoda Panji biar kamu bisa morottin dia kan? Biar kamu dan keluarga kamu bisa hidup enak tanpa harus susah payah kerja, ngaku kamu."
Mata Nadin sudah berkaca-kaca dari tadi mendengar hinaan yang keluar dari mulut bu Soraya. Dia ingin pergi, tapi kakinya terasa begitu berat
"Udah mah, cukup." Ujar pak Bahtiar, sembari memegangi bu Soraya.
"Jangan harap kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau Nadin. Aku nggak akan biarkan kamu menjadi bagian keluarga ini. Aku nggak sudi punya menantu miskin dan kampungan seperti kamu." Cerca bu Soraya berapi-api.
__ADS_1
"CUKUPP.!! Teriak Panji pada ibu tirinya, membuat bu Soraya diam seketika, karena kaget mendengar teriakan Panji yang baru pertama kali dia dengar. Bukan hanya dia tapi semua orang yang ada disana juga sama terkejutnya.
"Anda fikir anda ini siapa?. Seharusnya anda sadar posisi anda hanyalah istri dari papaku. Anda hanya ibu tiri, yang sama sekali tidak berhak mengatur hidupku. Aku tidak butuh ijin anda untuk menikahi wanita manapun, termasuk Nadin.
Dan aku juga tidak akan meminta uang sepeserpun pada kalian untuk biaya pernikahanku. Jadi anda tidak perlu khawatir, karena anda tidak akan rugi apapun.
Dan apa tadi anda bilang? Busuk? Hati siapa yang busuk?.
Anda sedang membicarakan Nadin atau diri anda sendiri nyonya Soraya yang terhormat?. Anda benar, dia (Nadin) memang miskin tapi dia tidak memiliki hati busuk seperti anda."
"Kamu berani kurang ajar padaku Panji?. Kamu berani berkata seperti itu cuma karena perempuan seperti dia?." Tunjuk bu Soraya pada Nadin.
"Kenapa?. Anda tersinggung?. Yang busuk disini itu anda, yang tega menggoda dan merebut suami orang." Sarkas Panji.
"Panji. Jaga bicara kamu." Pak Bahtiar kali ini yang bicara.
"Kamu lihat kan pah.? Lihat anak kamu, sudah mulai berani sama kita, hanya demi membela gadis miskin itu."
Nadin berusaha menenangkan dan membawa Panji keluar dari sana, tapi Panji yang terlanjur emosi sepertinya belum puas mengeluarkan semua amarah didadanya.
"Cukup Panji. Jangan teruskan. Tunjukkan rasa hormat kamu. Bagaimanapun juga dia itu ibu kamu." Ujar pak Bahtiar.
"Dia bukan ibuku. Mana ada seorang ibu yang sengaja menjauhkann anak dengan ayahnya." Sarkas Panji.
"Kak Panji udah kak, aku mohon. Nadin, plis!! Aku mohon bawa kak Panji dari sini sebelum semuanya semakin kacau." Rengek Prisa.
Nadin dengan susah payah membawa Panji keluar. Sementara bu Soraya tidak hentinya mengumpat dan menghina Nadin dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.
Panji dan Nadin sudah berada dalam mobil mereka. Nadin masih berusaha menenangkan Panji yang terlihat sangat emosi.
Nadin memeluk dan mengusap-ngusap pelan kekasihnya itu, berharap emosinya mereda.
Sekarang Panji sudah sedikit lebih tenang. Namun baru saja dia memasukkan kunci mobil, hendak menyalakan mesin mobilnya, teriakan bu Soraya kembali terdengar. Lagi-lagi dia menghina Nadin dan menyebutnya matre bahkan menuduhnya sudah mengguna-gunai Panji.
Dan yang lebih parahnya dia menghina kedua orang tua Nadin, membuat Nadin sangat sakit hati. Panji kembali emosi, dan sepertinya dia akan turun dari mobil, tapi Nadin menghentikannya. Dia menarik tangan Panji memohon padanya agar dia tidak perlu meladeni bu Soraya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkannya. Dia harus diberi pelajaran. Kalau tidak dia akan semakin seenaknya." Kata Panji.
"Jangan ko...jangan, biarkan saja. Mending kita pergi dari sini." Ujar Nadin memohon pada Panji dengan wajah dan mata yang terlihat merah. Bahkan saat ini, Nadin tidak berani memanggil Panji dengan kata "Sayang." Karena dia merasa tidak pantas menyebutnya seperti itu. Bu Soraya benar, dirinya memang tidak sepadan dengan Panji.
Sejak meninggalkan rumah pak Bahtiar Nadin hanya diam, menatap lurus kedepan, tapi fikirannya melayang kembali ke kejadian yang baru saja dia alami.
"Kamu gak usah fikirin kata-kata wanita itu ya?." Ujar Panji, sembari membelai lembut pipi Nadin dengan sebelah tanganya. Nadin memaksakan senyumnya di depan Panji.
Bagaimana mungkin dia tidak memikirkan kata-kata bu Soraya yang menurutnya memang benar. Dan feellingnya selama ini juga ternyata benar, ketakutanya terbukti. Keluarga Panji tidak merestui hubungan mereka. Lalu bagaimana mungkin dia dan Panji bisa menikah kalau orang tua Panji tidak merestui hubungan mereka.
Pak Samsudin juga tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi, kalau keluarga besar Panji tidak memberikan restunya. Itu artinya mereka tidak menerima Nadin.
"Jangan dulu pulang ya. Kita kerumahku saja."Ajak Panji yang tidak mungkin membiarkan Nadin pulang dengan wajah sedihnya juga mata sedikit sembab karena habis menangis.
Nadin mengangguk pasrah. Dia juga berfikir sama seperri Panji. Dia tidak mau pulang dalam keadaan seperti ini. Dia harus menenangkan hati dan pikirannya lebih dulu.
Kembali ke rumah pak Bahtiar.
Bu Soraya masih saja mengumpat Panji dan Nadin. Dia sudah seperti orang yang kebakaran jenggot, saat mengetahui kalau Panji ingin menikah dengan Nadin.
Prisa dan pak Bahtiar masih setia mendengarkan umpatan demi umpatan bu Soraya. Sedangkan bu sepuh sudah kembali ke kamarnya.
"Udah dong mah. Kenapa mama harus marah kalau kak Panji ingin menikah dengan Nadin?." Ujar Prisa.
"Kenapa...kenapa. Ya jelas lah mama marah. Kamu tidak lihat gadis seperti apa si Nadin itu?. Dia tidak pantas menikah dengan Panji. Dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini."
"Kenapa mah? Apa karena dia bukan orang berada seperti kita?."
"Ya iya lah."
"Apa sepenting itu harta bagi mama, dibanding kebahagian anak mama?." Tanya Prisa
.
.
__ADS_1
TBC☘️