
Hari Minggu.
Jam 6.15 pagi Nadin sudah bersiap pergi ke rumah Panji. Sepanjang jalan Nadin terus mengumpat Panji yang tidak henti-hentinya mengirim pesan kepadanya, supaya ,datang lebih awal. Pesan itu dia kirim sejak tadi malam, hingga saat ini.
Hp Nadin terus berbunyi, karena pesan yang masuk dari Panji, dan Nadin tidak membacanya. Merasa pesannnya diabaikan, Panji lalu menelpon Nadin, tapi Nadin tidak menjawab panggilannya.
Panji tidak menyerah, dia terus saja menghubungi Nadin, hingga akhirnya Nadin yang menyerah. Dia menjawab panggilan dari Panji.
"Hallo!!
"Hallo!! Dimana kamu?. Kenapa lama sekali nganggkat teleponnya?. Dan kenapa kamu gak bales pesanku?."
"Maaf ko, tadi saya sedang mandi." Bohong Nadin.
"Apa? jadi kamu baru mandi?. Jam berapa ini? Kamu lupa kalau jam 7 pagi kamu harus sudah ada disini?."
"Iya maaf, saya kesiangan."
"Oke aku maaffin kamu. Tapi inget ya, hari ini kamu tidak akan bisa pulang cepat."
"Kenapa gitu ko?.Lagian saya biasa dateng jam 9.00 dan pulang jam dua belas atau jam satu siang kan?."
"Siapa suruh kamu kesiangan?."
"Tapi kan ko..."
"Gak ada tapi-tapi. Pokoknya hari ini aku gak akan ijinin kamu pulang sebelum ashar."
"Ya udah kalau gitu, saya gak akan dateng sekalian?." Ancam Nadin.
"Coba saja kalau berani?."
"Siapa takut?."
"Oke kalau gitu. Kamu gak usah datang kesini. Aku yang akan datang kesana, ke rumah kamu. Kamu masih ingat kan apa yang aku katakan waktu itu?." Pungkas Panji lalu mengakhiri panggilanya.
Huuh dasar tukang ngancem. Gumam Nadin.
Ting..tong....bel rumah Panji berbunyi.
"Siapa yang dateng pagi-pagi begini?." Gumam Panji, lalu melangkahkan kaki menuju pintu.
Pintu pun terbuka, dia sedikit terkejut, saat melihat orang di depan matanya.
"Kamu. Kenapa kamu sudah datang?."Tanyanya.
"Laaah, kan ko Panji sendiri yang minta saya datang kesini jam 7 pagi. Sekarang jam tujuh kurang dua menit, artinya saya datang lebih awal dari jam yang di tentukan. Jadi nanti saya juga bisa pulang lebih awal kan?." Jawab Nadin.
Dia tersenyum dalam hati melihat wajah Panji yang nampak terkejut dengan kedatangannya. Sepertinya tadi Panji percaya dengan apa yang dikatakan Nadin di telpon, kalau dia baru selesai mandi, padahal dia sudah hampir sampai dirumah Panji.
"Tadi kamu bilang.....Oh jadi kamu mau ngerjain aku?. Kamu berani?." Tanya Panji sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Hehe....maaf ko, becanda. Serius amat. Oh ya ko, ngomong-ngomong ko Panji belum cuci muka ya?. Itu wajahnya berminyak gitu?." Tanya Nadin. Membuat Panji sedikit malu, karena memang dia belum mencuci mukanya.
"Eh bukan berminyak, maksud saya glowing." Ralat Nadin karena takut Panji tersinggung.
__ADS_1
Baru kali ini Nadin melihat wajah bantal Panji, yang menurutnya tetap terlihat tampan. Wajahnya yang putih memang sangat glowing bukan berminyak seperti yang dikatakannya tadi.
Wajah kok Panji bagus banget. Putih, mulus, glowing lagi, ngalahin wajah perempuan.
Gak heran sih, orang kaya gitu lho. Pasti perawatan wajahnya juga mahal. Kata Nadin dalam hati.
"Ayo masuk." Ajak Panji. Mereka pun masuk.
"Aku mau mandi. Sekarang kamu bikinin aku sarapan. Selesai mandi aku mau sarapanku sudah siap."
"Baik ko." Sahut Nadin.
Panji pergi ke kamarnya, setelah mengatakan pada Nadin apa saja yang harus dia buatkan untuknya. Nadin menuju dapur. Dia mulai menyiapkan semua bahan yang di perlukan untuk membuatkan sarapan sesuai dengan apa yang Panji minta.
Sedangkan Panji saat ini sudah berada di dalam kamar mandi. Dia menatap wajahnya sejenak, karena teringat ucapan Nadin tadi tentang wajahnya yang berminyak.
Ahh ternyata bener, wajah gue berminyak gini. Duh malu-maluin aja. Batinnya, lalu mengambil facial foam dan mulai membersihkan mukanya, yang dilanjutkan dengan acara mandi pagi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Panji menghampiri Nadin di dapur. Wangi parfum semerbak tercium, oleh hidung Nadin, saat Panji berjalan ke arahnya.
Ya ampun kok Panji wangi banget, ngalahin bau masakan aku. Dia make parfum apa sih? Kok bisa wangi banget kayak gini?. Kayaknya dia makenya setengah botol langsung ini.
"Mana sarapanku?."
"Sebentar saya siappin dulu." Nadin mengisi piring dengan nasi goreng buatannya. Dia lalu mengisi gelas dengan air putih, dan segelas jus.
"Silahkan ko." Ucap Nadin. Lalu dia kembali menuju dapur.
"Mau kemana kamu?." Tanya Panji.
"Temani aku. Aku gak mau sarapan sendirian."
"Tapi ko, itu dapurnya berantakan belum saya beressin." Kata Nadin.
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku. Duduk dan temani aku. Biar nanti aku bantu kamu beresin dapurnya." Kata Panji.
Apa? Bantuin beresin dapur? Hahh yang bener aja.
"Cepettan!! Ujar Panji membuat Nadin terkejut
"Aku nyuruh kamu duduk bukan bengong."imbuh Panji lagi. Dia menghampiri Nadin, menarik tangannya dan menyuruhnya duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
Panji mengisi piring kosong dengan nasi goreng, dan menyimpannya tepat dihadapkan Nadin, membuat Nadin lebih terkejut. Dia tidak percaya Panji mengambilkan nasi goreng itu untuknya. Nadin bingung apa dia harus senang, atau sebaliknya.
Ya Allah kenapa juga dia harus ngambilin nasi buat aku?. Sok baik banget.Tadi aja ngancem-ngancem. Sebenernya apa lagi yang dia rencanakan untukku hari ini?.
Mereka sarapan pagi bersama lagi pagi itu. Panji selalu mencuri pandang ke arah Nadin, sambil tersenyum saat Nadin melihat ke arahnya, membuat Nadin semakin yakin kalau Panji sedang merencanakan sesuatu untuknya.
Dia kenapa selalu senyam-senyum kayak gitu? Gaje banget sih.Tapi, ko Panji makin tampan kalo senyum kayak gitu. Senyumnya manis banget lagi, bisa bikin diabetes saking manisnya.
Eh apaan sih? Jangan terlena oleh senyuman manis siluman panci itu Nadin. Pasti dia lagi merencanakan sesuatu lagi buat kamu, pasti.
Mending kamu cepet habiskan makanan kamu, biar bisa cepet pulang.
Nadin sudah selesai dengan sarapannya begitupun Panji. Seperti biasa dia membereskan meja makan, membawa piring bekasnya dan bekas Panji ke bak cuci. Panji masih duduk di tempatnya, meminum jus buatan Nadin seraya memandang Nadin yang sedang mencuci piring.
__ADS_1
Panji beranjak dari duduknya lalu menghampiri Nadin. Dia mengambil spons cuci piring, berniat akan mencuci gelas bekas jus tadi.
"Sini ko, biar saya cuci sekalian."
"Enggak, biar aku aja."
"Masa ko Panji mau cuci sendiri
Udah sini, biar saya yang cuci."
"Aku aja."
"Emang ko Panji bisa?." Tanya Nadin, Panji nampak berfikir, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Enggak." Jawab Panji.
"Ya udah sini, biar saya yang cuci." Kata Nadin
"Aku aja. Sekarang aku mau kamu ajari aku cuci gelas ini." Pinta Panji.
"Ajarin??. Jangan bercanda ko."
"Aku gak bercanda. Ayo cepettan kamu ajarin aku." Kata Panji, sembari menarik tangan Nadin, dan menyimpannya ditangannya. Tapi dengan cepat Nadin menjauhkan tangannya dari tangan Panji.
Jantungnya mulai tak karuan, apalagi saat melihat senyum Panji yang manis dan terlihat sangat tulus. Entah tulus atau modus, Nadin sendiri bingung membedakannya.
"Kenapa? Kamu gak mau ajariin aku cuci piring?." Tanya Panji.
"Eng-ng-nggak ko. Mana mungkin saya ngajarin ko Panji. Lagian kenapa juga ko Panji harus belajar nyuci piring?. Ko Panji kan punya pembantu."
"Aku mau belajar cuci piring, biar kelak aku bisa bantuin istriku" Jawab Panji, membuat Nadin tidak percaya dan tertawa kecil, karena merasa jawaban Panji sangat lucu.
"Kenapa kamu malah ketawa?. Kamu ngetawain aku?." Tanya Panji.
"Enggak ko, maaf. Tapi ko Panji lucu banget, emang ko Panji gak bisa bayar pembantu buat cuci piring?. Kenapa harus repot-repot bantuin istri nyuci piring. Harusnya ko Panji jangan biarin istrinya nyuci piring dong, ko Panji kan orang kaya. Sudahlah ko, saya aja yang cuci gelasnya. Mending sekarang ko Panji istirahat."
"Kamu udah berani nyuruh-nyuruh aku sekarang?." Tanya Panji, sembari menatap Nadin, dan mendekatkan dirinya. Nadin spontan menjauhkan tubuhnya, tapi percuma, dia tidak bisa kemana-mana, karena Panji sudah sangat dekat dengannya.
Panji dan Nadin saling bertatapan dari jarak yang sangat dekat. Nadin sadar dan segera membuang mukanya, menghindari tatapan Panji.
Wajah tampan dan wangi parfum Panji membuatnya semakin salah tingkah, apalagi saat dia melihat senyum Panji yang terasa aneh baginya. Senyum yang akhir-akhir ini dia lihat diwajah Panji. Senyum yang membuatnya baper, dan sedikit geer.
Enggak Nadin, kamu jangan kegeerran. Laki-laki seperti ko Panji gak mungkin....aahh sudahlah.
Kalaupun dia mendekati atau menggoda gadis seperti kamu, bisa jadi cuma buat mainannya aja. Lagian emang kamu yakin dia suka sama perempuan?. Ah tapi kayaknya dia memang lelaki normal yang suka sama perempuan. Atau dia suka dua-duanya.
"Kalau gitu, udah. Kamu jangan nyuci piring lagi." Ucap Panji setengah berbisik di telinga Nadin.
.
.
.
TbC❤️
__ADS_1