Panji & Nadin

Panji & Nadin
Aku cinta kamu Nadin


__ADS_3

Nadin masih memikirkan sikap dan apa yang dilakukan Panji belakangan ini. Dia tidak tahu apa alasan Panji melakukan semua itu, tapi dia merasa tetap harus berterima kasih kepadanya.


Dia tidak menampik ada rasa kagum menyelinap dalam hatinya pada saat mendengar dan melihat Panji berbicara dalam meeting siang itu, juga saat di ruangan Sambaru.


Nadin benar-benar melihat wibawa Panji saat itu, bukan hanya Nadin tapi semua karyawan. Terlepas dari apa yang Panji sampaikan pada saat meeting, mereka benar-benar mengagumi cara bicara juga sikap Panji.


Hari minggu yang dinantikan Nadin pun tiba.


Iya benar, baru kali ini dia merasa menantikan hari minggu tiba. Dia ingin secepatnya bertemu Panji untuk mengucapkan terima kasih. Walau sebenarnya dia bisa menyampaikannya melalui pesan atau telepon, tapi dia fikir lebih baik mengatakannya secara langsung.


Nadin sudah dirumah Panji saat ini dan dia sedang membuat sarapan pagi seperti biasanya. Panji ada bersamanya, dan terus memperhatikannya, membuat Nadin salah tingkah dan gugup. Dia tidak pernah segugup ini sebelumnya.


"Ko Panji." Panggil Nadin.


"Iya, kenapa?. Ada yang mau kamu katakan?."Sahut Panji.


Nadin tersenyum kikuk.


"Saya sangat berterima kasih sama ko Panji. Karena ko Panji, sekarang tidak ada lagi yang menggosipkan saya di konveksi." Ucap Nadin


"Hanya terima kasih?." Tanya Panji.


"Sebagai ucapan terima kasih saya, nanti siang saya akan masak makanan spesial buat ko Panji."


"Tidak perlu, aku tidak mau. Aku mau yang lain?."


"Yang lain, apa?." Tanya Nadin.


"Aku tidak butuh terima kasih atau apapun dari kamu. Aku hanya butuh kamu." Jawab Panji dengan senyum yang aneh menurut Nadin. Senyum yang meresahkan hatinya.


Butuh aku, maksudnya?.


"Hehe...ko Panji bisa aja." Sahut Nadin sambil tersenyum simpul. Perasannya mulai tak karuan, tapi dia selalu berusaha tenang. Apalagi Panji terus tersenyum sambil menatapnya


"Oh ya ko, kenapa ko Panji bisa tahu tentang gosip itu?. Dari mana ko Panji tahu semuanya?." Tanya Nadin, berusaha mengalihkan perhatian Panji.


Panji terkekeh.


"Apa aku harus menjawabnya?."


"Iya, ko Panji tentu harus menjawabnya."


"Kamu harus ingat Nadin, mata dan telingaku ada dimana-mana, jadi aku bisa tahu apapun yang ingin aku ketahui."


Jadi maksudnya dia memata-matai aku gitu?.


Panji dan Nadin sudah selesai sarapan. Nadin akan mulai membersihkan rumah Panji.


"Mau ngapain kamu?." Tanya Panji.


"Saya mau beressin rumah ko." Jawab Nadin.


"Sudah ku bilang, kamu tidak perlu lagi bekerja dirumahku?." Kata Panji.

__ADS_1


"Yang bener ko?. Ko Panji serius?."


Panji mengangguk.


"Kalau gitu kenapa kemarin ko Panji bilang kalau saya harus datang kesini?."


Panji mendekatkan tubuhnya pada Nadin, membuat Nadin langsung mundur menjauhi Panji. Tapi Panji mengunci pergerakan Nadin dengan kedua tangan yang dia simpan dikedua sisi tubuh Nadin. Jantung Nadin langsung berdegup kencang saat ini.


"Sudah aku bilang aku butuh kamu." Jawab Panji.


Perasaan Nadin campur aduk sekarang. Antara senang, gugup dan ada perasaan takut dihati Nadin mendengar jawaban Panji. "Aku butuh kamu." Nadin berusaha mencerna ucapan Panji barusan.


Apa jangan-jangan dia mau melakukan yang tidak-tidak sama aku?


"Maaf ko, anda jangan seperti ini." Kata Nadin, sembari berusaha menjauhkan tubuh Panji yang semakin dekat dengannya.


Panji bergeming, senyumnya semakin lebar melihat wajah gugup Nadin.


"Ternyata kamu sangat cantik, Nadin." Ucap Panji memuji Nadin.


Nadin refleks menatap Panji. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Walau perasaan senang dia rasakan saat itu.


Panji memujinya? Menyebutnya cantik? Rasanya itu tidak mungkin. Nadin semakin takut kalau Panji mungkin saja benar-benar akan berbuat kurang ajar padanya. Dia memujinya pasti karena ada maunya, Nadin yakin itu.


"Lepaskan saya ko. Saya tidak suka anda memperlakukan saya seperti ini."


"Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu itu pacarku." Kata Panji, membuat Nadin semakin takut.


"Saya memang cantik, karena saya perempuan. Kalau saya laki-laki, saya gak mungkin cantik." Balas Nadin.


Panji terkekeh mendengar jawaban Nadin


"Selain cantik kamu juga sangat lucu, aku makin gemas sama kamu, Nadin."


"Ko Panji jangan coba-coba merayu saya. Saya tidak akan pernah termakan rayuan gombal ko Panji atau siapapun. Saya bukan tipe orang yang mudah terlena oleh rayuan gombal laki-laki.


Seperti yang ko Panji pernah bilang, saya ini siluman ular, jadi jangan coba macam-macam sama saya, kalau tidak mau saya patuk sekalian." Ancam Nadin, membuat Panji tertawa. Nadin belum pernah melihat Panji tertawa lepas seperti itu.


"Ayo, patuk saja. Aku rela kamu matuk aku."Sahut Panji.


"Ko Panji kenapa jadi genit gini ko?." Tanya Nadin


"Kamu yang buat aku jadi kayak gini." Jawab Panji.


"Sudahlah ko, jangan bercanda seperti ini."


"Siapa yang bercanda?. Aku tidak suka bercanda."


"Lepaskan saya ko, kalau tidak saya akan teriak."


"Teriak saja kalau kamu berani."


Nadin mulai kesal dengan apa yang dilakukan Panji.

__ADS_1


"Kalau ko Panji tidak melepaskan saya, minggu depan dan seterusnya saya tidak akan datang lagi kesini." Ancam Nadin.


"Kamu ngancem aku?. Kamu berani?. Kalau kamu gak datang kesini, aku tinggal datang ke rumah kamu, gampang kan?." Balas Panji.


Nadin berdecak, dia semakin kesal.


"Baiklah terserah ko Panji." Kata Nadin Pasrah. Wajah kesalnya sudah tidak bisa dia sembunyikan lagi. Walau dalam hatinya ada perasaan yang tak biasa dan juga perasaan takut yang masih dia rasakan.


Panji tersenyum dan akhirnya melepaskan dan membiarkan Nadin melakukan apa yang biasa dia lakukan dirumahnya. Panji takut Nadin benar-benar tidak akan datang lagi ke rumahnya, apalagi saat itu Nadin pernah menyerahkan uang untuk membayar ganti rugi yang dia minta. Padahal sebenarnya Panji tidak sungguh-sungguh meminta uang itu.


Semua pekerjaan Nadin sudah selesai. Dia meminta ijin pulang pada Panji. Panji mengijinkannya, karena hari ini dia ada urusan dan akan pergi bersama Adam. Siang itu Panji tidak bisa mengantarkan Nadin, tapi dia memesankan taksi online untuknya.


Sebelum pulang, Panji menyerahkan sebuah amplop coklat pada Nadin."


"Apa ini ko?." Tanya Nadin


"Kamu buka saja, tapi nanti dirumah kamu. Sekarang kamu pulang, aku udah pesennin taksi buat kamu."


"Kenapa anda harus rep......"


"Sudahlah, aku tidak repot. Sekarang kamu pulang, dan jangan kemana-mana."


Emangnya dia siapa?. Main larang-larang aja.


Nadin pamit, lalu melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Baru saja dia memegang handle pintu, Panji memanggilnya.


Ada apa lagi sih?. Tanya Nadin dalam hati.


"Aku cinta kamu Nadin." Ucap Panji gugup. Nadin sedikit terkejut, tapi dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Panji.


"Sudahlah ko. Katanya ko Panji gak suka bercanda, tapi dari tadi ko Panji terus saja bercanda." Balas Nadin lalu pergi dari sana.


Panji ingin sekali mengatakan kalau dia sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi. Tapi keberanianya seperti menghilang. Bahkan saat dia menyatakan cintanya tadi, dia merasa sangat gugup.


Ingin menyatakan cinta pada gadis yang dia sukai, rasanya lebih sulit daripada memenangkan sebuah tender besar.


Nadin benar-benar telah membuat Panji kehilangan rasa percaya dirinya, dan merubah Panji yang pintar mendadak belet karena cinta, kalau kata Adam.


.


.


☘️☘️☘️TBC


Hai readers👋


Terima kasih banyak buat semua yang selalu setia dan selalu mampir membaca cerita ini ya.❤️


Terimaksih buat hadirnya, like vote dan komentarnya. Terimakasih buat suport para readers semua buat othor yang kemarin-kemarin jarang banget update, karena kesibukan di dunia nyata.😁


Buat yang belum baca karya othor yang lain boleh mampir juga ya, sambil menunggu update cerita ini.


Sekali lagi terimakasih banyak readersku. Salam sayang buat semuanya❤️😘

__ADS_1


__ADS_2