Panji & Nadin

Panji & Nadin
Diam-diam menghanyutkan


__ADS_3

Sebelum memasak, Nadin memakai celemek yang ada di dapur, karena tak ingin baju putih yang dia gunakan saat itu kotor, apalagi baju yang dipakainya adalah baju pemberian Panji.


Setelah itu, dia mengeluarkan semua bahan yang akan dia masak dari dalam kulkas, lalu mencuci dan mulai memotong-motong satu persatu sayuran yang ia cuci tadi.


Ini bukanlah sebuah pekerjaan sulit baginya, karena memang dia sudah bisa dan terbiasa memasak sejak kecil. sejak ibunya jatuh sakit, Nadin mulai belajar memasak.


Panji yang dulunya hanya diam memperhatikan Nadin saat sedang memasak, maka hari ini, dia ikut andil membantu pekerjaan Nadin, walau sebenarnya bagi Nadin Panji bukan membantunya, tapi malah mengganggunya.


Bagaimana tidak mengganggu, Panji selalu saja mengambil kesempatan saat Nadin sedang fokus pada bahan makanan yang akan dia olah untuk makan siang mereka.


Saat Nadin memotong sayuran, Panji dengan santainya memeluk pinggang Nadin dari belakang, lalu mencium pipinya. Sesekali dia juga mendaratkan ciumanya di leher Nadin, membuat bulu romanya kembali meremang dan fokusnya mulai terbagi, antara memasak dan juga sentuhan Panji yang membuatnya hampir lepas kendali.


Nadin akui dia menyukainya, tapi dia tidak ingin menunjukannya dan juga harus bisa mengendalikan dirinya, agar tidak terlena oleh apa yang Panji lakukan. Nadin harus tetap bisa menjaga batasan diantara mereka, agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Berulang kali Nadin menyuruh Panji pergi menjauh dan tidak mengganggunya, tapi Panji malah semakin tertantang untuk terus menggoda kekasihnya itu. Panji lelaki yang sudah dewasa dan berpengalaman, dia juga tahu Nadin menyukai apa yang dia lakukan padanya.


"Kamu tahu sayang, sejak awal aku suka banget kalau lihat kamu lagi masak kayak gini." Kata Panji.


"Gombal." Sahut Nadin


"Serius!! Makannya aku suka merhatiin kamu kalau lagi masak. Aku bukannya takut kamu ngeracunin aku, tapi ya aku emang beneran suka banget lihat kamu lagi masak. Kamu makin kelihatan cantik." Puji Panji seraya mengeratkan pelukannya."


Hati Nadin meleleh mendengar pengakuan Panji. Dia kini tahu alasan sebenarnya, kenapa dulu Panji sering memperhatikanya saat dia sedang memasak.


Panji yang selama ini bersikap dingin ternyata bisa sehangat ini, saat dia berhadapan dengan orang yang benar-benar dia cintai.


"Aku boleh nyium kamu disini kan?." Bisik Panji di telinga Nadin.


"Oh jadi barusan muji tuh cuma modus biar bisa nyium?. " Kata Nadin.


"Aku gak modus sayang." Sahut Panji.


"Ahh gak percaya. Udah ah jangan ganggu terus. Kapan masaknya?."


"Udah, gak perlu masak, kita pesen aja makanan dari luar."


"Tadi katanya suka lihat aku masak, kok sekarang malah pengen pesen dari luar?. Ah ketauan kan kalau tadi itu cuma modus."


"Ayolah sayang, sekali aja ya, kita ciuman disini." Rayu Panji.


"Oke, tapi kita tebak-tebakkan dulu, gimana?. Kalau jawabannya bener oke kita ciuman disini."


"Oke, siapa takut?. Apa pertanyaannya?." Tantang Panji.


"Apa bedanya cicak dan........koko Panji?." Tanya Nadin.


"Kamu berani bandingin aku sama cicak?."

__ADS_1


"Bukan bandingin, orang aku tanya perbedaannya apa. Ya udah sih kalau gak mau jawab gapapa. Jangan minta yang aneh-aneh lagi, oke?."


"Aku sama cicak ya jelas beda. Cicak itu hewan, aku manusia."


"Itu bukan perbedaan sayang, tapi kodrat. Ayo, mau jawab apa enggak?. Katanya bapak Panji itu orang yang sangat pintar dalam segala hal, coba buktikan."


"Kamu tahu darimana kalau aku hebat?. Kamu diam-diam ngepoin aku ya?."


"Siapa yang ngepoin?."


Emangnya situ, suka nguntit.


Berulang kali Panji menjawab pertanyaan yang diberikan Nadin, tapi jawabanya selalu salah, hingga akhirnya Panji menyerah.


"Bedanya, kalau cicak itu diam-diam merayap. Kalau ko Pan...eh koko sayang itu, diam-diam menghanyutkan." Jawab Nadin.


Panji tersenyum mendengar jawaban Nadin. Dan dengan cepat dia kembali menarik tubuh Nadin, lalu memeluknya erat.


"Jangan main peluk sembarangan ih, lepassin." Pinta Nadin. Tapi Panji tidak melepaskannya.


"Makin kesini kok kamu makin gemessin. Bikin aku pengen terus nyium kamu." Kata Panji seraya menatap mata Nadin, lalu membelai lembut pipinya


"Aku cinta banget sama kamu." Bisik Panji ditelinga Nadin, membuat Nadin membeku seketika. Panji masih membelai pipi Nadin, lalu kini bibirnya. Dia mengusap bibir Nadin yang semakin menggoda dimata Panji.


Panji menatap mata dan bibir Nadin bergantian, sebelum akhirnya dia mendaratkan lagi kecupannya di bibir itu, lalu melum*tnya dengan lembut dan perlahan. Panji memejamkan matanya, menikmati momen ciuman itu, begitu juga Nadin.


Tanpa menunggu lama, dia menarik tengkuk Nadin, hingga wajah mereka saling berdekatan, dan bibir mereka saling beradu. Panji mencium Nadin, dan kali ini ciumannya terasa lebih lama dan lebih dalam.


Dia menggigit bibir bawah Nadin dengan pelan dan gemas, membuat mulutnya sedikit terbuka. Panji menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Nadin yang sedikit terbuka, dan lidah mereka pun beradu sejenak, sebelum akhirnya Nadin melepaskannya, karena mendengar suara bel rumah Panji berbunyi.


Ada yang datang kesana, entah Adam atau siapapun itu, yang jelas sudah membuat Panji sangat kesal, karena dia datang disaat yang tidak tepat. Baru saja Nadin membalas ciumanya, malah datang pengganggu, begitu fikir Panji.


"Siapa sih yang datang? Ganggu aja." Gerutu Panji. Nadin tersenyum geli, melihat wajah kesal Panji, sedangkan Panji walau sedang kesal, dia menatap gemas melihat wajah Nadin yang merah merona. Mungkin karena adegan ciuman yang mereka lakukan baru saja.


"Mungkin mas Adam. Buka aja." Kata Nadin karena suara bel rumah Panji terus berbunyi.


"Awas aja kalau beneran dia yang datang." Kata Panji, seraya melangkahkan kakinya ke arah pintu. Sedangkan Nadin kembali melanjutkan pekerjaanya yang tertunda karena adegan ciuman mereka.


Panji membuka pintu dengan kesal, dan kekesalannya semakin menjadi saat melihat siapa yang datang ke rumahnya siang itu.


"Jovanka?? "Ngapain kamu kesini?." Tanya Panji sinis.


"Hai Panji !! Sudah lama ya kita nggak ketemu." Sahut Jovanka.


"Aku sudah bilang kamu jangan pernah datang kesini. Aku nggak suka, jadi sekarang silahkan kamu pergi dari sini." Panji mengusir Jovanka, seraya menutup pintu, tapi Jovanka menahannya.


"Eh, tunggu...tunggu Panji. Aku kesini bukan pengen nemuin kamu. Aku cuma disuruh tante Soraya nganterin Mikha kesini. Katanya dia kangen sama kamu." Terang Jovanka, lalu menuntun Mikha yang tadi berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


Mikha menatap Panji sedikit takut, karena melihat wajah Panji yang sepertinya sedang marah. Mikha kira mungkin saja Panji marah kepadanya.


"Kalau gitu makasih kamu udah nganterin Mikha. Sekarang kamu boleh pergi. Mikha, ayo sini." Ajak Panji, sembari menuntun Mikha.


"Sori Panji, tapi aku nggak akan kemana-mana. Kata om dan tante, aku harus nemenin Mikha disini. Lagipula aku yang membawa Mikha kesini, jadi aku juga yang harus membawanya pulang."


"Kamu gak perlu repot-repot. Aku bisa mengantarkannya sendiri." Ujar Panji, seraya menutup pintu, tapi Jovanka kembali menahanya.


"Eehh, tunggu. Tapi Mikha sendiri yang bilang, kalau dia pengen aku temenin dia disini. Iya kan sayang?." Tanya Jovanka pada Mikha yang terlihat masih ketakutan.


"i-i-iiiya."


"Aku nggak peduli. Pokoknya aku nggak suka kamu menginjakkan kaki kamu dirumah ini. Sekarang kamu pergi, sebelum aku panggil satpam untuk ngusir kamu."


"Plis Panji, jangan usir aku. Aku janji aku nggak akan macam-macam. Aku hanya ingin menemani Mikha disini. Ijinin aku masuk, plis." Rengek Jovanka.


Dia terus memohon Panji agar membiarkannya masuk. Dan karena kesal, akhirnya Panji mengijinkan Jovanka masuk.


Jovanka sangat senang, karena rencananya berhasil.


Panji menuntun Mikha, dan langsung membawanya ke dapur, dan Jovanka mengekor dibelakang.


"Sayang!! Lihat siapa yang datang?." Kata Panji saat dia dan Mikha sudah berada di dapur.


Nadin menoleh ke arah suara, dia terkejut sekaligus senang melihat Panji membawa Mikha.


"Mikha.!! Panggil Nadin.


"Kak Nadin!!." Sahut Mikha, lalu berlari kecil menghampiri Nadin.


Mikha memeluk Nadin dengan bahagia.


"Aku seneng deh ketemu kak Nadin disini."


"Kakak juga seneng ketemu lagi sama Mikha. Mikha sama siapa kesini?. Suster Elin?." Tanya Nadin.


Mikha menggelengkan kepala.


"Lalu sama siapa?." Tanya Nadin yang belum menyadari kehadiran Jovanka.


"Sama tante Jo." Jawab Mikha.


Tante Jo?. Maksudnya nona Jovanka?. Tanya Nadin dalam hatinya, lalu dia pun segera menoleh, dan Nadin sangat terkejut saat dia melihat Jovanka berdiri di ujung sana, yang sepertinya juga terkejut melihat Nadin ada di rumah Panji.


.


.

__ADS_1


TBC☘️


__ADS_2